Intan Dalam Debu – the web

Ceng Ceng Po

Posted by adminidb September 10, 2012, under Volume 33 | No Comments





Ceng Ceng Po

Oleh : Ryan Arisetyo - Magelang

 

Ceng Ceng Po
Adalah anak seorang janda miskin bernama Ceng-Ceng-Po (CCP) yang hidup di suatu desa. Ibunya berjuang mencari nafkah untuk makan dan menyekolahkan CCP dengan menjual roti, menjadi buruh tani, dan mencuci pakaian tetangganya. Namun ibunya hanya mampu membiayai sekolahnya sampai SD saja. Sifat juang ibunya yang pantang menyerah dalam menjalani kehidupan yang keras dan selalu memberikan arahan dan ajaran yang baik tertanam dengan baik di dalam diri CCP. Meskipun CCP dilahirkan dalam kondisi keluarga yang pas-pasan, tak lantas ia menggerutu dengan kondisinya, bahkan ia berani memiliki mimpi bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang sukses.

 

Kondisi ekonomi yang susah membuat ia dan ibunya pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Ibunya menjadi pembantu di rumah seorang tuan tanah. CCP pun seringkali membantu ibunya untuk mengerjakan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Majikan ini memiliki seorang anak laki bernama Bo Cuan yang seusia dengan CCP. Karena merasa anak orang kaya Bo Cuan memiliki sifat yang malas sehingga sering menyuruh CCP untuk mengerjakan PR dan membuat tugasnya, tentu saja hal ini oleh CCP dianggap sebagai kesempatan untuk mengejar dan mewujudkan impian hidupnya. Bahkan seringkali ia suka mencuri-curi kesempatan untuk membaca buku-buku majikannya ketika pergi dan malam hari hanya diterangi lilin ketika semuanya sudah tertidur. Bagi CCP tidak ada kata terlambat untuk belajar sesuatu selama kesempatan untuk belajar masih ada. Dibutuhkan tekad yang kuat dan terkadang harus menyangkal diri untuk bisa belajar hal-hal yang baik dalam kehidupan ini

 
Ceng Ceng Po
Bo Cuan dan ayahnya yang mengetahui bahwa CCP makin hari terlihat makin pandai pun mulai tidak suka. Kata-kata bernada menghina pun kerap terlontar dari mulut mereka. Puncaknya adalah ketika ibunya mulai sakit-sakitan, bukannya dibantu pengobatan oleh majikannya tetapi malah dipulangkan ke desa.

 

Sebagai bentuk bakti, dengan penuh kesabaran CCP merawat ibunya di desa, dia mencukupi kebutuhannya dengan berjualan roti dan makanan yang diajarkan oleh ibunya. Tidak lama kemudian ibunya wafat. Karena keinginannya untuk maju dan berkembang akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke kota. Di kota kali ini dia tidak bekerja ikut orang lain, tetapi dengan uang pas-pasan dan modal tekad dan kemauan yang dimilikinya ia mencoba berjualan makanan dan roti.

 

Ia menjajakan makanan dan rotinya keliling kota, dalam prosesnya seringkali CCP menghadapi kesulitan dan penolakan. Ibarat dilempari batu, CCP dengan penuh kesabaran mengumpulkan batu-batu itu untuk membuat rumah. Rasa marah dihatinya dijadikannya sebagai kekuatan untuk menjadi pribadi yang kuat. Baginya untuk mewujudkan suatu kesuksesan dan kebahagiaan seseorang harus mampu menghadapi segala rintangan berat dengan tidak mudah putus asa.

 

Satu hal yang tidak pernah dilewatkan CCP adalah bersembahyang kepada Tuhan. Setiap sore sehabis menjajakan jajanannya ia pergi ke klenteng untuk berdoa. Rupanya para dewa mendengar doa dan ketulusan hatinya, sehingga seringkali ia mendapatkan kemukjijatan. Ketekunan dan usahanya membuahkan hasil, pelanggannya semakin banyak, sehingga ia mampu mendirikan warung makan tenda.

 

Sarana yang sangat terbatas bukan halangan bagi CCP untuk terus belajar dan berlatih mengembangakan kemampuannya. Menurut CCP jika seseorang bisa melihat dengan kaca mata bahwa ia bisa berkembang, ia pasti bisa berkembang. Jika melihat bahwa dengan keterbatasan sarana ia tidak bisa berkembang, saat itu ia sudah menjamin bahwa ia pasti tidak bisa berkembang. Uang yang didapat CCP digunakannya untuk mengikuti seminar-seminar usaha dan motivasi serta kursus untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya. Dari situlah CCP mendapatkan teman-teman yang baik untuk pengembangan karakter, pengetahuan dan keterampilannya, teman-teman yang memiliki hobi, minat dan kemauan yang mirip sehingga dapat saling membangun.

 

Warung makannya sekarang berubah menjadi rumah makan. CCP dengan rajin melakukan inovasi, sehingga konsumennya semakin banyak. Dalam prosesnya tak jarang CCP menemui kesalahan dan kegagalan namun selalu ada jalan untuk mengatasi masalah. Ia selalu memikirkan cara yang terbaik dan usaha yang tepat untuk mengubah kesalahan itu menjadi sesuatu yang lebih baik dan belajar dari hal itu. Dari satu rumah makan kini ia membuka beberapa cabang, segala sistem usaha di era modern sekarang ini ia terapkan pada usahanya sehingga ia menjadi pengusaha kuliner yang pandai dan piawai. SUKSES !!

 
Ceng Ceng Po
Dari cerita di atas nilai yang dapat kita petik: Di mana ada kemauan di situ ada jalan, namun untuk berubah terkadang diperlukan suntikan motivasi yang tepat. Dibutuhkan inspirasi, ketekunan dan ketelatenan untuk mewujudkan mimpi atau visi menjadi kenyataan. Jika kita sudah memutuskan untuk mengerjakan suatu hal, biarlah kita mengerjakannya dengan segenap hati dan jiwa kita. Tidak peduli berapa berat kesulitan menghadang, kita harus terus mengerjakannya sampai tuntas. Salah satu keindahan hidup adalah kesulitan yang terkadang menyelingi kesuksesan, kesukaran yang terkadang menyelingi kebahagiaan. Butuh kesabaran untuk menghadapi semua kesulitan dan kesukaran hidup. Agar pekerjaan dan hidup bisa lebih terarah, perlu visi atau tujuan untuk bisa telaten dan tekun mengerjakan sesuatu dengan lebih baik.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*