Intan Dalam Debu – the web

Nilai Hidup Manusia

Posted by adminidb September 10, 2012, under Volume 33 | No Comments





Nilai Hidup Manusia

Oleh : Gu Guo Hui - Bali

 

Nilai-nilai apakah yang paling mulia dari kehidupan seorang manusia? Apakah karena kekayaaannya? Seorang konglomerat/taipan? Seorang Presiden, menteri, gubernur, atau seorang jendral? Apakah karena pula mereka-mereka ini adalah seorang professor, jenius, dokter? Apakah mereka yang sukses secara materi apapun bentuknya dapat dianggap "lebih mulia" dari mereka hidupnya sederhana-sederhana saja? Jadi sebenarnya dimanakah letak nilai mulia seorang manusia yang sejati?

 
Nilai Hidup Manusia
Kelihatannya memang benar demikianlah adanya, bahwa mereka orang-orang yang sukses dalam bidang apapun memiliki kehidupan yang sangat baik (mapan, nyaman, tidak ada yang kekurangan dalam hal apapun).

 

Terlepas dari hal itu, sebenarnya semua orang, apakah orang itu sukses atau orang biasa, mereka semuanya memiliki kesamaan yaitu mereka semua pasti punya nilai tersendiri bagi orang lain. Apakah dia berguna bagi keluarganya (istri & anaknya), berguna bagi orang-orang yang dikasihinya (orang tua, saudara, dsb), ataupun mereka-mereka yang punya peran luar biasa berguna bagi masyarakat luas.

 
Nilai Hidup Manusia
Namun seiring jaman yang semakin "Materialistis" menyebabkan pergeseran sifat-sifat kemanusiaan kita. Kita semuanya menyadari bahwa hidup sangatlah bergantung pada materi yang cukup, tanpa materi yang cukup memadai tentu hidup kita akan sengsara. Jaman kian menambah besar volume kubutuhan manusia yang semakin beragam, dan ini semua tentu menambah beban berat biaya hidup tiap orang. Semuanya serba bayar, seakan-akan tak ada lagi yang gratis termasuk: air, udara, dan matahari tidak lagi gratis, dalam arti jika menginginkan kualitas yang baik tentu memerlukan biaya pula. Untuk mendapat air bersih dan udara bersih jelas butuh biaya dan butuh lingkungan hidup yang baik, jika seseorang tinggal didekat TPA (tempat pembuangan akhir) jelas tidak akan mendapat kualitas air dan udara yang baik bagi kesehatan. Dan jika hidupnya menyusuri jalan sepanjang hari tentu terpapar sinar matahari terlalu banyak jelas juga kuranglah baik.

 

Tuntutan jaman kini yang hedonism (pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup) telah banyak mengubah sifat-sifat manusia menjadi Apatis. Apatis adalah sikap acuh tak acuh, masa bodoh, tidak peduli dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Semua orang mementingkan dirinya sendiri. Bahkan sebuah tragedy kemanusiaan terjadi di Tiongkok yang menimpa seorang anak gadis Wang Yue Yue (2th) dibulan Okt 2011 (www.youtube.com judul WTF!!YUE YUE bocah Terlindas Mobil, Orang Tak Peduli. mp4). Anak ini lolos pengawasan ortu dan berada dijalan raya kemudian tertabrak dan dilindas mobil hingga dua kali, tetapi orang-orang yang lewat dan mengetahuinya tidak ada yang peduli, sungguh kasihan. Sesaat kemudian datang seorang nenek (pemulung) yang menolong anak ini.

 

Sudah sedemikian parahkah jiwa sosial masyarakat kini?

 

Kesulitan/masalah terbesar yang dihadapi manusia kini adalah hadangan ekonomi, karena masalah keuangan menyangkut kelangsungan hidup pribadi dan keluarga. Bagaimana untuk melanjutkan hidup kedepan.

 
Nilai Hidup Manusia
Sebenarnya masalah seperti ini adalah masalah semua jaman, tak terkecuali saat jaman Dewa Kwan Kong hidup sebagai manusia dijaman peperangan. Apakah beliau pernah mengeluh karena hidup susah, sengsara dijaman perang? Kenapa lahir dijaman perang? Dst.. Kalau beliau Cuma mengeluh dan menyerah kepada situasi dan keadaan saat itu, mungkin beliau sudah wafat lebih awal dan menjadi korban sia-sia dari perang itu. Tetapi beliau melawan keadaan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, melindungi masyarakat dan setia membela Negara.

 

Jika kita membaca riwayat Dewa-i kita, tidak ada sedikitpun kata-kata yang menceritakan beliau semua tentang keluhan karena kesulitan oleh situasi jaman. Memang situasi jaman tidaklah mudah, persaingan semakin berat, dan semua manusia menghendaki kaya raya. Tetapi bila hal itu belum dapat kita raih, hal lain masih dapat kita perbuat asal baik bagi keluarga, baik bagi masyarakat dan baik bagi Tao kita. Keberadaan kita masih ada sumbangsihnya, ada manfaatnya bagi kehidupan itu sendiri.

 

Menjadi kaya raya memang sangatlah enak, kita dapat berperan dan berbuat lebih banyak dalam segala hal, tetapi bagi mereka yang kurang beruntungpun dapat memberikan kebaikan hatinya bagi kebaikan semua orang. Hal ini adalah tindakan nyata yang terbaik, yang mulia yang dapat kita lakukan sebagai seorang manusia.

 
Nilai Hidup Manusia
Berbuat kebaikan apakah mesti harus menunggu kita kaya raya? Mengejar kekayaan materi memang penting dan menggiurkan setiap manusia, tapi perlu juga diimbangi dengan kekayaan batin agar seimbang (Yin-Yang). Tidak bijak jika kita mengabaikan potensi diri kita yang lain yang mungkin bisa menonjol dan itu tidaklah kalah berharganya bila diusahakan untuk kebaikan bagi banyak orang atau untuk Tao ciaw kita. Kita dapat dapat berpartisipasi bagi kemajuan seni-budaya (tari, lukis, suara, kuliner), kemajuan pendidikan, kesehatan, lingkungan alam, dsb. Semua bidang pasti berguna bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Apapun yang kita lakukan dan perbuat dalam hidup didunia ini pada akhirnya akan kembali kepada diri kita. Inilah hukum YIN GUO BAO YING (hukum Aksi-Reaksi), hukum alam semesta. Jika kita berbuat baik hasilnya akan menjadi baik, demikian juga sebaliknya. Menanam Padi, akan memanen padi pada saatnya, menaman jagung akan memanen jagung pula nantinya. Tidak menanam ya tidak ada hasil baik yang didapat. Jadi sebenarnya menolong orang lain sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri pada akhirnya. Karena memang hidup kita sebagai manusia didunia ini berada dalam lingkaran karma yang tak ada akhirnya, namun kita tidak menyadarinya. Dan yang terpenting adalah keberadaan hidup kita didunia ini menjadi lebih berarti, semuanya tidaklah sia-sia. Kita kaum Siu Tao berusaha untuk memaksimalkan waktu hidup yang sekarang ini untuk merevisi diri dalam segala hal, menyelesaikan hutang piutang sebaik mungkin, mencoba memahami arti masuk kedalam dunia dengan sebaik-baiknya. Hingga tiada sesal saat tiba waktunya nanti. Semuanya sudah kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

 

"Ikan hidup dalam air tidak tahu adanya air, burung terbang menunggang angin tidak tahu adanya angin, Manusia hidup didalam TAO tidak tahu adanya TAO"

 

Xie Shen En.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*