Intan Dalam Debu – the web

Tenggang Waktu

Posted by adminidb September 10, 2012, under Volume 33 | No Comments





Tenggang Waktu

Oleh : LTF

 

Pada saat kuliah, mata pelajaran process control… Dosenku bercerita..

 
Tenggang Waktu
Pada saat pagi hari, dia datang ke kantor anak didiknya. Melihat mereka sedang sarapan, minum kopi, beristirahat sejenak, sebelum memulai aktifitas mereka.. Lalu, dosen tersebut mengerjakan pekerjaannya seperti biasa (meninggalkan kantor anak didiknnya). Pada saat sore hari, dia datang kembali ke kantor anak didiknya.. Melihat hal yang serupa seperti di pagi hari.. Mereka sedang makan snack, minum dan beristirahat sejenak, bersiap-siap untuk pulang.

 

Dari sini kalau anda sebagai dosen tersebut, yang tidak melihat apa yang mereka lakukan pada saat tenggang waktu dari pagi ke siang (pada saat dosen tersebut tidak berada di kantor anak didiknya). Anda pasti akan berpikir, anak didiknya sangatlah malas.. Tidak melakukan apa-apa, hanya makan, minum dan beristirahat.

 

Namun, jika anda seorang dosen yang pengertian. Mengerti dan percaya dengan anak muridnya sudah melakukan pekerjaan mereka dengan baik pada saat tenggang waktu tersebut. Anda tidak akan berpikir mereka malas dan menegur mereka.

 

Dari cerita diatas, banyak orang yang tidak mengerti tentang tenggang waktu ini. Mereka hanya membaca situasi dengan apa yang mereka lihat saat itu saja, dan menyimpulkan dengan instant/ gegabah apa yang mereka lihat. Padahal, mungkin saja situasi yang sebenarnya bukan seperti itu.

 
Tenggang Waktu
Contoh lain, anak-anak bertengkar di sekolah. Si A memukul si B duluan, lalu mereka bertengkar hebat. Si C yang melihat kejadian ini melapor ke guru terdekat, pada saat sang guru tersebut datang, si B lah yang sedang memukul si A. Si B lah yang langsung dimarahi dan di skors.. Apakah ini adil? Tentu saja tidak. Sang guru tidak melihat kejadian tersebut secara keseluruhan, dan langsung saja memarahi si B yang sedang memukul si A pada saat dia datang. Seharusnya sang guru ini bertanya secara detail kepada si A, si B dan si C tentang kejadiannya dan menegur mereka sesuai dengan kesalahan mereka.

 

Dari contoh-contoh diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru, pemimpin, pengamat yang bijak, sebaiknya janganlah gegabah menyimpulkan sesuatu. Tinjaulah dari segala sisi segala masalah yang ada agar tidak melakukan kesalahan seperti yang sang guru lakukan, yaitu dengan tidak adil menghukum si B dari melihat hanya pada saat itu saja. Meninjau dari segala sisi adalah hal yang bijak dilakukan karena akan mengerti secara keseluruhan tentang kejadian / masalah yang ada dan dapat mengambil keputusan secara adil dan menyeluruh. Nah, apakah anda mau menjadi pemimpin yang gegabah atau pempimpin yang bijak??

 

Salam Tao

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*