Intan Dalam Debu – the web

ZI RAN!? Lho,… kok bisa?

Posted by adminidb May 31, 2013, under Volume 4 | No Comments





ZI RAN!? Lho,... kok bisa?

(Daniel.D)

 

Pernah penulis berniat untuk pergi mengunjungi Shi Fu di Surabaya, karena kebetulan berhak ambil cuti serta sekaligus ada seorang teman ingin di DAO YING. Untuk itu saya sebelumnya menghubungi Shi Fu melalui surat dan telah mendapatkan balasan yang menyetujuinya. Saya berencana pergi bersama 4 orang teman saya (1 cowok dan 3 cewek) dengan menggunakan kereta api. Tapi berhubung saat itu ramai liburan, kami hanya dapat 3 tiket KA. Melihat hal itu, maka kami memprioritaskan dulu yang cewek-cewek untuk berangkat terlebih dahulu agar mereka tidak terlambat karena akan di DAO YING jam 7.00 pagi keesokan harinya sesuai dengan janji dalam surat. Saya berpikir masih bisa mendapatkan 2 tiket lagi di stasiun, entah melalui loket ataupun melalui makelar. Ternyata semua tiket habis. Kami kalang kabut, karena mereka sudah terlanjur berangkat. Tak kehilangan akal, kami memutuskan untuk pergi ke airport untuk naik pesawat terbang. Ternyata tiket pesawat juga semuanya habis, yang ada tinggal untuk yang ke semarang. Akhirnya kami membeli juga dengan harga extra dari calo.

 

Sesampainya di semarang, halangan ternyata masih juga ada. Di sana kami mendapat kesulitan memperolehkan ijin untuk meminjam mobil saudara untuk ke Surabaya. Bahkan sempat sampai tarik urat dengannya. Sebenarnya kami merencanakan berangkat jam 8 malam agar bisa sampai di Surabaya lebih awal sehingga bisa mengatur segala sesuatunya terlebih dahulu. Baru jam 2.00 subuh saya bisa berangkat pergi.

 

Ternyata di jalan masih juga ada halangan, jalanan macet hampir 1 jam karena ada kecelakaan. Padahal kami khawatir terlambat. Karena takut terlambat maka kami tancap gas agar sampai tepat pada waktunya. Ternyata saya sampai rumah Shi Fu sekitar jam 7.30 pagi, jadi terlambat setengah jam. Walaupun sempat mendapat sedikit omelan namun kami terima saja. Nah, menurut pembaca, kelakuan kami ini wajar atau mengada-ada?

 

Menurut kebanyakan orang sih, "Mengada-ngada" karena memaksa-maksa diri dengan cara apapun untuk sampai di Surabaya tepat waktu (bukan sikap yang nrimo). Tapi apa kata Shi Fu ketika saya menanyakan hal ini? Beliau menyatakan hal tersebut ZI RAN saja. Mengapa begitu?

 

Pertama-tama adalah masalah pemenuhan janji: "Janji itu berat!!!" Jadi bila kita sudah membuat janji maka adalah suatu kewajaran bila kita berupaya untuk memenuhinya. Bila kita tidak menepatinya maka itulah yang tidak wajar. Hal ini sudah termasuk menepati peraturan, norma, dan etika juga.

 

Kedua adalah kesatuan antara niat, pikiran, dan tindakan. Niat dan kemauan kami sudah bulat untuk pergi ke Surabaya menemui Shi Fu. Oleh karena itu, walaupun bagaimana juga, kata hati kami tetap menyatakan ingin berangkat dan harus berangkat. Kata hati ini tercermin juga dalam pikiran / akal dan tindakan sehingga dapat dikatakan bahwa tindakan kami ini ZI RAN (sesuai dengan kata hati, spontan, dan seperti apa adanya).

 

Ketiga, dalam prosesnya, kami melakukan tanggapan yang semestinya dan tidak melanggar peraturan umum yang berlaku. Meskipun secara sekilas memang terlihat agak memaksakan. Tetapi kekerasan hati untuk pergi itu merupakan konsekwensi (yang disadari) dari sebuah keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang. Lihatlah bahwa meskipun harus kelabakan mencari kendaraan (KA, pesawat, mobil) kesana kemari, namun apa yang diusahakan masih dalam batas-batas yang tidak melanggar norma dan etika dan juga tidak melebihi kemampuan keuangan kami. Sedangkan mengenai masalah tarik urat dengan saudara saya juga merupakan respon yang alami: acuan saudara saya adalah keselamatan saya. Ia mengkhawatirkan faktor kelelahan dan kondisi keamanan lalu lintas bila pergi malam-malam, sedangkan acuan saya adalah masalah setia kawan, pemenuhan janji dan keinginan untuk berdiskusi denga Shi Fu. Konflik -- bila hal tersebut memang tidak dapat dihindari – adalah hal yang ZI RAN juga. Yang penting adalah bahwa pada akhirnya semua pihak bisa menerima, tidak merugikan, dan toh bermanfaat juga. Keinginan itu pun masih dalam batas-batas yang wajar saja dan tidak merugikan / melanggar perarturan yang ada.

 

(Daniel.D)

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*