Intan Dalam Debu – the web

Jalan – jalan ( temu akrab & rekreasi )

Posted by adminidb May 17, 2013, under Volume 4 | No Comments





Jalan – jalan ( temu akrab & rekreasi )

Oleh : Lenny

 

Ke Tegal

Di penghujung bulan Februari 1999 yang lalu, kami ( muda-mudi ) mengadakan perjalan ke Tegal. Mengambil rute jalan melalui jalur pantura yang ramai dan padat, perjalanan cukup lancar.

 

Kami singgah di Cirebon tengah hari untuk mengisi perut dan sembahyang di sebuah klenteng dekat pelabuhan. Kami tiba di Tegal yang berjulukan kota bahari sore hari, langsung pada tujuan yaitu Klenteng CEK HAY KUNG yang sudah berumur 300 tahun lebih. ( Baca artikel Mengenal Dewa-Dewi, hal.23 )

 

Suasana di Klenteng CEK HAY KUNG ini terasa cukup kental budaya dan tradisi ritualnya. Dalam setiap upacara / acara keagamaan, dentum tambur yang bertalu-talu disertai tarian Barongsai selalu menyertai, suasananya menjadi semarak tapi sangat hikmat dan mendalam. Kebetulan pada saat kami datang bertepatan dengan salah satu acara besar tahunan mereka; yaitu Upacara Sembahyang Pantai.

 

Sampai sekarang setiap upacara Sembahyang Pantai dan Upacara Sembahyang Hari Kelahirannya ( SE-JIT ), patung CEK HAY CEN REN yang juga ada di Semarang dan di Indramayu selalu didatangkan ke Tegal untuk diikutkan dalam upacara tersebut. Sebenarnya upacara Sembahyang Pantai ini adalah untuk memperingati dan merayakan hari jadi CEK HAY CEN REN dimana beliau mendapatkan kemuliannya. Saat Sembahyang Pantai ini patung-patung CEK HAY CEN REN dalam suatu rangkaian upacara ritual yang hikmat dibawa ke pantai untuk acara sembahyangan bersama.

 

Merupakan ciri khas dalam upacara ini adalah digunakannya stempel / cap CEK HAY CEN REN sebagai lambang perwujudan pemberian berkah dan perlindungan bagi umat yang sembahyang memohon, yaitu : dengan diberi cap pada badannya, biasanya di punggung. Selain itu kaum nelayan di sekitar daerah tersebut sangat percaya bahwa jika “ upacara memandikan patung “ dilaksanakan ( mereka menamakan begitu ) maka laut akan tenang dan ikan tangkapannya banyak.

 

Klenteng CEK HAY KUNG ini memang bukanlah yang terbesar dan termegah, tapi kami merasakan ada penilaian tersendiri yang membuatnya berbeda. Segi organisasinya sederhana tapi hidup dan berjalan baik. Jika berbicara masalah kegiatan acara, rasanya dalam satu tahun hampir tidak ada waktu kosongnya.

 

Mengenai sarana dan kegiatan, bisa dianggap sudah baik dan lengkap, ada band untuk yang hobby musik dan nyanyi, lapangan basket, meja ping pong, bulutangkis, aula untuk latihan wushu, barongsai. Selain itumereka juga terus melengkapi perpustakaan terutama buku-buku TAO. Mereka juga menyediakan sarana hiburan pemutaran film sejarah dan legenda seperti SAM KOK. Disana ada ruang ceramah untuk agama KONG HU CU dan merka juga sedang mempersiapkan ruang khusus untuk agama TAO.

 

Dari pengamatan kami selama disana dapat kami simpulkan bahwa keberadaan Klenteng CEK HAY KUNG cukup besar pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari mereka di Tegal sehingga mereka pun sangat memegang kuat aturan-aturan tradisi penghormatan dan ritual keagamaan yang ada. Hal ini menurut kami adalah baik dan wajar dan justru harus didukung karena sudah menjadi bagian dari sejarah dan kebudayaan. Begitulah sekilas berita perjalanan kami ke Tegal, kami sangat terkesan dan mendapatkan nuansa kehangatan dan keakraban yang mendalam.***

 

Ke Bandung

Kali ini kami mengadakan jalan-jalan ke Bandung di penghujung minggu ketiga April lalu, pesertanya tentu muda-mudi, Sesuai rencana, kami tiba di Tangkuban Perahu sekitar tengah hari, acaranya bebas-bebas saja kita bersantai jalan-jalan menikmati pemandangan dan udara sejuk yang cukup menyegarkan, terutama bagi kita-kita yang sehari-hari penat dengan suasana atmosfir ibukota. Udara dingin dan sejuk memang menyegarkan, tapi juga membuat perut kita jadi sensitif dan menuntut diisi. Kita kemudian lanjut ke Lembang menuju tempat santap siang.

 

Tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul dua, dimana kami harus segera turun ke Bandung karena telah ditunggu teman-teman Taoyu Bandung.

 

Kemacetan membuat perjalanan jadi molor. Kami tiba di wisma penginapan sudah jam empat, tidak pakai basa-basi kita langsung gerak cepat menyegarkan badan, mandi dan bersiap-siap berangkat lagi ke rumah salah satu Taoyu Bandung untuk kumpul-kumpul.

 

Sampai disana hari sudah mulai gelap, acaranya dimulai dengan pekenalan dan makan malam yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Nah, kalau sudah diskusi, waktu jadi enggak terasa. Karena sudah larut, sebelum bubar kita semua bersembahyang dan laithan bersama sebentar. Kami kemudian kembali ke wisma untuk istirahat.

 

Keesokan harinya acara bebas, karena penginapan kami berada di Cihampelas yang terkenal sebagai pusat jeansnya Bandung, maka sisa waktu benar-benar dimanfaatkan untuk jalan-jalan di seputar Cihampelas, asyik juga lho....

 

Bis kami meninggalkan Bnadung sekitar jam tiga sore untuk kembali ke Jakarta. Walau badan terasa juga penat dan lelah, tapi perjalanan ini tetap membawa kesegaran dan kenangan yang menggembirakan, dan yang paling penting adalah suasana keakraban yang lebih.

 

Sekian.....salam hangat dan kompak !!!***

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*