Intan Dalam Debu – the web

Kisah Nyata – Perampokan Dini Hari

Posted by adminidb May 23, 2013, under Volume 4 | No Comments





Kisah Nyata - Perampokan Dini Hari

Dari : Irwan Handoko – Bdg

 

Kejadian ini terjadi di kantor tempat saya bekerja di Tasikmalaya pada medio September 1998 dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Saat itu saya terbangun karena kaget mendengar suara teriakan yang sangat keras. Ternyata keadaan sepi, sambil berusaha untuk mencari sumber suara teriakan tersebut, saya menuju ke arah pintu ruangan dimana saya tidur. Ketika saya melihat keluar kelihatan seorang bertopeng ala ninja sedang berusaha membuka gembok pintu gerbang utama. Spontan saya berpikir bahwa pasti rampok!, secepatnya saya mengambil golok, kemudian saya berusaha membangunkan rekan saya yang tidur di ruangan depan dekat pintu masuk.

 

Sementara membangunkan rekan saya, anjing piaraan saya mulai menggonggong, sehingga rekan saya terbangun dan melihat situasi dari balik pintu. Salah satu perampok tersebut mendekati rekan saya yang kemudian berusaha menahan dengan menutup dan mengunci pintu. Kemudian rekan saya berlari ke ruangan belakang bergabung dan mengambil golok sambil mematikan lampu ruangan.

 

Mengetahui pintu terkunci, para perampok yang ternyata ada lima orang tersebut memecahkan kaca dan berhamburan masuk ke ruang depan. Ketika salah satu perampok tersebut mulai masuk kedalam, saya sempat menyerang dan mengayunkan golok tapi tidak kena sasaran, mereka mundur dan menyorotkan lampu senter kearah kami dan kemudian melempar kami dengan tiga buah gelas. Kami berhasil menghindar sambil kemudian menutup pintu kaca yang menuju keruang dalam. Tapi ketika kemudian mereka melempar dengan kursi, karena kuatir pintu kacanya pecah, maka kami terpaksa membuka kembali pintu kaca tersebut.

 

Akhirnya kami hanya berusaha bertahan saja, sampai saya tiba-tiba teringat pada tongkat gas air mata yang tersedia. Secepatnya saya mengambil tongkat gas air mata tersebut dan berusaha membukanya. Dalam keadaan gelap dan terburu-buru saya kesulitan membuka pelatuknya yang memang saya tempel isolatip untuk pengaman. Kemudian tongkat itu saya letakkan kembali dan saya kembali ke tengah pintu untuk bersiap melawan, tiba-tiba seorang perampok tersebut menyorotkan lampu senter ke wajah saya sehingga secepatnya saya kembali berlindung dibalik dinding karena kuatir terkena lemparan gelas / piring.

 

Saat itu saya kembali mengambil tongkat gas air mata, berusaha membukanya sambil menyebut “SEN, tolong saya” sebanyak empat kali, anehnya kemudian saya dapat membuka pelatuknya dengan mudah. Dan ketika saya kembali kearah pintu untuk menyemprotkan gas air mata tersebut, saya terkejut karena melihat salah satu perampok tersebut sudah lari sampai pintu gerbang, sementara yang lainnya masih berebut keluar dari pintu ruang depan. Tanpa pikir lagi saya langsung mengejar perampok tersebut sampai pintu gerbang, tapi mereka sudah lari menghilang.

 

Sementara rekan saya sibuk membantu melepaskan dua orang satpam kami yang rupanya telah dibekuk dan diikat sejak tadi. Setelah kondisi agak tenang saya baru sadar kalau kuku jari manis, telapak tangan dan lengan saya terluka dan darah berceceran, mungkin terkena sabetan waktu saya mengayunkan golok. Secepatnya saya berusaha menghentikan pendarahan  secara darurat dan berhasil.

 

Begitulah sekilas pengalaman kejadian yang saya alami dimana karena adanya bantuan dari Sen akhirnya kami semua selamat tanpa menderita kerugian yang berarti. Rekan saya pun kemudian ikut belajar TAO karena merasakan bahwa memang ada SEN yang menolong. Saya mengucapkan syukur dan terima kasih atas semua perlindungan dari Dewa.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*