Intan Dalam Debu – the web

Pandangan saya mengenai CERAN ( alamiah )

Posted by adminidb May 31, 2013, under Volume 4 | No Comments





Pandangan saya mengenai CERAN ( alamiah )

Oleh : Daniel D, Jkt.

 

1.      Bagaimana Memandang dan Menyikapi

Saya terinspirasi untuk menulis ketika bepergian ke daerah pedalaman. Penduduk asli pedalaman itu hidup dalam keasliannya dan belum banyak tersentuh oleh modernisasi. Pada saat itu, saya teringat tentang kisah dalam artikel CHUANG TZE mengenai adanya jaman ketika manusia masih hidup dalam kealamiahan. Membandingkannya dengan kehidupan dalam masyarakat pedalaman tersebut, saya bertanya apakah kehidupan seperti inilah yang kaum SIU TAO maksudkan?

 

Pada masa Yungch’eng, Tat’ing, Pohuang, Chungyang, Lilu, Lihsu, Hsienyuan, Hohsu, Tsunlu, Chuyung, Fuhsi, dan Shennung, manusia menggunakan simpul untuk menghitung. Mereka menikmati makanannya, menghiasi pakaiannya, puas dengan gubuknya dan menikmati keseniannya.

 

Mereka hidup rukun bertetanggaan satu dengan yang lainnya, sehingga mereka dapat mendengar anjing menggonggong dan ayam jantan berkokok dari kampung tetangganya, dan orang-orang dari masanya tidaklah pernah pergi keluar dari kampungnya. Pada jaman itu terdapat kedamaian yang sempurna.

 

( CHUANG TZE : Membuka Koper dan Pencuri : Protes Terhadap Pranata Sosial )

 

Di dalam TAOISME, kealamiahan sering disebut-sebut, bahkan menjadi salah satu ciri khas dan kerangka acuan filsafatinya. Kita sendiri sempat beberapa kali mendengar anjuran dari SEFU mengenai kealamiahan ini yang dalam bahasa Mandarinnya disebut CE RAN. Sebagai seorang TAO YU kita patut bertanya apakah sebenarnya yang dimaksudkan sebagai CE RAN tersebut. Semakin kita berpikir, akan semakin dalamlah maksudnya.

 

Untuk menghindari kesimpangsiuran maka menurut pertimbangan penulis, lebih baiklah kalau dijernihkan disini agar tidak timbul pengertian baru yang menyesatkan. Jadi tujuan utama artikel ini adalah untuk memberikan pandangan dan cara menyikapinya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan ini suatu hasil akhir, melainkan mencoba untuk sedikit mengungkapkan hasil pemikiran dan perenungan selama ini.

 

Di dalam artikel ini, saya akan ajak pembaca untuk turut berkelana mengarungi alam pemikiran saya. Pada bagian pertama, saya akan memberikan arti menurut kamus sehingga kita memiliki dasar awalan yang sama. Pada bagian kedua, makna menurut kamus itu akan kita permasalahkan karena arti menurut kamus itu masih sedemikian umunya. Pada bagian ketiga, saya akan memaparkan landasan pemikiran saya yang akan tertuang dalam bagian berikutnya. Jadi, bagian ke empat adalah merupakan perumusan pemikiran saya mengenai konsep CE RAN itu dan sekaligus merupakan jawaban terhadap problem-problem yang saya munculkan di bagian ke-2. Pada bagian penutup, saya akan memberikan kesimpulan dan akan mengajak pembaca untuk merenung sejenak.

 

Makna Menurut Kamus

Sebelumnya marilah kita membuka kamus untuk mencari arti harafiahnya. Padan kata “ ALAMI “ dalam bahasa Inggris adalah natural. Defini Oxford mengenai kata natural adalah :

(1)   Sesuatu yang disebabkan oleh alam (bukan buatan / artifisial);

(2)   Sesuatu yang mengikuti aturan alam;

(3)   Apa adanya.

 

Sedangkan menurut kamus Mandarin - Inggris keluaran Times kata tzeran (ziran) terdiri dari komponen CE yaitu sebuah kata reflektif yang mengacu kepada diri sendiri (self) dan kata Ran yang mengungkapkan kualitas suatu aktivitas yang benar atau betul. Berdasarkan kedua suku kata tersebut maka dapat diartikan sebagai tindakan sebenarnya sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan dalam bentuk tergandeng, diterjemahkan sebagai natural / alami.

 

Arti menurut kamus ini masih berlaku luas dan kabur untuk menjelaskan makna CERAN di dalam agama TAO. Seperti yang saya kemukakan dalam bentuk problem-problem di bawah ini.

 

2.      Beberapa Permasalahan Mengenai Makna Ceran

Dalam pembicaraan sehari-hari, banyak kata pengganti yang dapat digunakan untuk menjelaskannya, misalnya : spontanitas; mengikuti aturan / hukum alam; berasal dari alam; sesuai dengan kodrat /takdir, apa adanya; lazim (umum); murni (tidak ditambah / dikurangi); asli (tidak diubah); terbiasa; tidak berbuat (wu wei); terjadi dengan sendirinya (otomatis); mengikuti arus; mengikuti kata hati; tidak memaksa; rileks; tidak dibuat-buat (wajar); dsb. Setiap kata tersebut memiliki maknanya sendiri yang unik dan khusus.

 

Lalu di antara banyaknya daftar kata tersebut, manakah yang paling tepat?

 

Apakah sebenarnya CERAN itu?

CERAN memang kelihatannya sederhana saja, tapi bila ditanyakan bisa bermacam-macam artinya. Bahkan bisa menyebabkan orang bingung sendiri. Sayangnya, banyak yang tidak dapat memahami CERAN secara “benar” (dengan pola berpikir yang luas dan menyatu) sehingga dalam aplikasinya cenderung terjebak pengertian CERAN yang salah, antara lain :

  • Karena kurang WU, merasa paling mengerti sampai CERAN yang paling hakiki, sudah terlepas dari yang benar dan salah, sehingga tidak mempedulikan lagi apapun akibatnya. Semuanya diyakini sebagai yang paling CERAN.
  • Sebagai “tameng” untuk menutupi ketidakmampuan atau bahkan ketidak mauannya mengatasi sesuatu hal. Misalnya : menasehati orang lain supaya CERAN saja, padahal kita sendiri yang tidak tahu jawabannya.
  • Salah mengerti (hanya menangkap sebagian-sebagian), misalnya: “Ikan besar makan ikan kecil adalah CERAN, maka yang lebih kuat harus menekan yang lemah”.
  • Salah penempatan sehingga justru melanggar norma-norma dan etika, seperti: karena merasa demi tujuan yang baik maka memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa mempedulikan tata krama, norma-norma bahkan kepentingan serta pendapat orang lain.
  • Menyebabkan salah paham. Karena setiap orang merasa benar dan membenarkan dirinya sendiri, bahkan menghakimi, menyalahkan / mencerca orang lain.

 

Memang tipis batasan antara yang benar dan yang salah. Tetapi kalau bingung atau sesat, bukanlah itu karena salah sendiri........?

Salah menerima (Salah tangkap) adalah kurang rendah hati (DSLC 9:6:4)

 

Contoh – contoh dibawah ini sengaja saya kemukakan  dahulu supaya kontras dengan pembahasan saya selanjutnya.

 

Permisalan mengenai Air

Dalam kitab-kitab suci, CERAN biasanya digambarkan dalam syair-syair yang mengagungkan keindahan alam, dimana biasanya air, sungai, air terjun, dll. Digunakan sebagai perumpamaannya:

 

“Kealamiahan adalah bagaikan air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, walau dihalangi, ia akan mencari jalan keluarnya sendiri,” Yang baik tertinggi itu bagaikan air, yang menghidupkan segala sesuatu tanpa berusaha. Ia senang pada tempat yang rendah, dimana manusia mengeluh, jadi adalah bagaikan TAO....”(TAO TEK CING:8)

 

Bandingkan dengan:

....melakukan segala sesuatu, tanpa perkecualian, menurut aturan alam, yang memenuhi dunia tanpa ingin, dan tanpa berkata. (TAO TEK CING:34)

 

CERAN adalah bagaikan ikan yang hidup di air, berenang di dalamnya tapi tidak merasakannya, ada dimana-mana tapi tidak mengetahuinya....CHUANG TZE.

 

Problem#1 :

Secara dangkal, air dikatakan bersifat alamiah adalah karena di alam, air mengalir ke tempat yang lebih rendah semata adalah karena sifatnya yang cair (liquid) dan akibat gravitasi bumi. Oleh karena itu, sebagian orang menyimpulkan bahwa sifat air adalah alamiah karena ia semata-mata “mengikuti hukum alam” ataupun karena ia “berasal dari alam”.

 

Lalu apakah pompa air (yang mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi) adalah CERAN juga. Bila menjawabnya “tidak”; numpang tanya : apakah pompa air diciptakan tanpa menggunakan hukum alam? Apakah ia bukan berasal dari alam ini? Bukankah besi, plastik bahkan listrik pun berasal dari alam !?

 

Problem#2 :

Orang yang mengasumsikan bahwa CERAN adalah identik dengan spontanitas dan keaslian akan berargumentasi sebagai berikut : pompa-air itu tidak CERAN karena tidak spontan karena membutuhkan usaha dari luar untuk menggerakkannya (tenaga manusia ataupun listrik) serta tidak asli lagi seperti yang terjadi di alam. Persoalannya adalah spontanitas yang bagaimanakah yang dimaksud? Keaslian yang bagaimanakah yang dimaksud?

 

Kasus pemenang Lotere

Misalnya bila kita menang lotere, anggap dapat hadiah 1 juta dollar tentu senang sekali bukan? Tapi tiba-tiba kita harus pergi untuk maisong ke tempat teman baik kita yang ayahnya meninggal dunia. Sebenarnya perasaan kita gembira karena menang lotere, tetapi di lain pihak kita juga harus bersikap ketika berkunjung ke rumah duka.

 

Problem#3 :

Bila CERAN adalah spontanitas dan / atau asli, bagaimana kita menilai contoh kasus ini? Apakah yang dimaksudkan dengan spontan adalah berarti kita girang tertawa dan bercanda ria?! Sebaliknya bila kita menggunakan topeng sosial kita yaitu turut bersedih apakah dapat dikatakan berpura-pura, tidak spontan  dan tidak asli lagi? Jadi, kita harus bagaimana? Masalahnya menjadi tidak sederhana lagi bukan?

 

Problem#4 :

Kebanyakan orang mengatakan spontanitas yang dimaksud adalah yang sesuai dengan kata hati. Pertanyaan saya selanjutnya adalah apakah dapat dibenarkan bila tindakan kita melanggar peraturan, norma, dan etika yang berlaku walaupun hati kita menginginkannya? Misalnya, bila hati kita panas, kita marah saja; bila kita ingin telanjang, ya peduli amat; bila ingin membunuh, ya apa boleh buat,dst.

 

Pendek kata, tindakan menurut kata hati terlepas dari pertimbangan baik-buruknya suatu tindakan tersebut. Apakah benar begitu? Bila benar demikian, lalu apa maksudnya kitab THAY SANG LAUW CIN (DSLC) berkata demikian....

 

Mentaati hukum dan peraturan-peraturan akan timbul dalam sanubari anda. Hemat dan giat bekerja utamakan rumah tangga. Berfoya-foya tidak aturan jasa tidak akan ada. (DSLC 3:2)

 

Dari ayat di atas jelaslah bahwa tindakan semau gue bukanlah nilai-nilai yang dituju dalam SIU TAO. Berlaku “sesuai dengan kata hati” memiliki makna yang dalam, yang tidak boleh diartikan secara dangkal dan tidak semena.

 

Permasalahan “Baik-buruk”

Problem#5 :

Apakah bertindak spontan dan menuruti kata hati itu berarti bahwa selalu “Baik” selalu “Benar”. Bila tidak demikian, lalu apakah berarti tidak ada lagi batasan antara yang “Baik” dan yang “Buruk”?

 

Permasalahan Pengendalian

Problem#6 :

Selanjutnya, bila CERAN itu tidak dipaksakan / santai, apakah anak kecil yang sulit makan kita biarkan begitu saja? Apakah anak-anak tidak boleh kita dorong untuk bersekolah? Apakah anak-anak tidak boleh kita dorong untuk bersekolah? Apakah ia tidak “terpaksa”  jika diharuskan membuat PR oleh guru di sekolahnya? Ataukah kita sebagai orang tua membiarkannya apa adanya,....toh dia kan masih kecil dan belum mengerti....Begitukah caranya?

SIU TAO harus mengertiyang baik dan dijalani. Temu jalan berarti peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang berlaku sudah dimengerti. Mengerti itulah pedoman semula TAOISME (DSLC 4:1:1-3)

 

Permasalahan terhadap Takdir

Problem#7 :

Sebagian orang mengatakan bahwa CERAN berarti mengikuti kodrat dan takdir kita, numpang tanya: bila tiap orang ditakdirkan pasti mati suatu saat nanti sesuai dengan takdirnya, apakah kalau kita berlatih untuk memanjangkan umur berarti suatu yang melawan kodrat kita ?

 

Jangan sembarang bicara menyesatkan tamu-tamunya. Apalagi memakai nama dewa-dewa.

 

Berbicara tanpa pikir adalah ngawur belaka (DSL 9:3:2-4)

 

3.      Menyikapi Keragaman Pandangan Filsafat

Sebelum masuk ke dalam uraian pandangan saya mengenai CERAN  ada baiknya kita mengetahui dari sudut pandang manakah saya melihatnya. Karena menurut saya dalam usaha memahami konsep CERAN, kita tidak bisa mengabaikan pandangan sumber aslinya mengenai definisi TAO, karena TAO dan CERAN merupakan konsep yang berhubungan / tidak dapat dipisahkan.

 

Di dalam sejarah perkembangan TAO terdapat berbagai macam perkembangan pengertian-pengertian kefilsafatannya. Misalkan berawal dari LAO TZE, CHUANG TZE, MO TZE kemudian berkembang menuruti sekte dan alirannya masing-masing, Tetapi dalam artikel ini, saya mengambil sudut pandang saya sebagai seorang TAO YU.

 

Oleh karena itu, sebenarnya hal pertama-tama yang kita ingin ketahui adalah : CERAN seperti yang dimengerti oleh LAO TZE itu. THAY SANG LAW CIN / LAO TZE-lah yang seharusnya menjadi patokan kita. Meskipun banyak pula referensi yang lain, tapi berpegang pada satu itu agar tidak terombang ambing. Oleh karena itu diperlukan sikap yang satu dan satu ( CHEN IE ) sebagai landasannya.

 

4.      Pemikiran Saya Mengenai CERAN

Dari contoh-contoh yang telah disebutkan di atas terlihat bahwa arti CERAN dapat menjadi sedemikian luasnya. Untuk menghindari kerancuan dalam pembahasan selanjutnya, maka sebaiknya kita mengkategorikannya dalam konteks umum dalam penggunaan bahasa sehari-hari ( arti umum ), yang untuk selanjutnya kita tuliskan dengan huruf kecil ( ceran ), dan sebagai istilah yang memiliki arti khusus dalam filsafat TAOISME untuk selanjutnya kita sebut sebagai arti khusus, yang kita tuliskan dengan huruf besar ( CERAN ).

 

Dalam arti umum, ceran dapat berarti berasal dari alam, mengikuti hukum alam, atau apa adanya.

 

Di samping itu, daftar padan kata yang ada di awal tulisan ini dapat pula dipakai. Akan tetapi, bila pendefinisian kita lakukan terlalu umum maka konsep ceran ini akan kehilangan keunikannya (karena segala sesuatu yang ada di alam dapat dikatakan sebagai alamiah) sehingga kehilangan fungsinya sebagai pandangan yang spesifik untuk tindakan dan pikiran kita dalam SIU TAO. Oleh karena itu untuk selanjutnya kita akan membicarakan arti khusus-nya.

 

Dalam arti khususnya, saya berpendapat bahwa CERAN adalah sifat hakiki dari TAO yang terdapat pada semua benda di dunia. TAO sendiri bersifat CERAN. Karena kebesaran TAO, maka sifatnya yang CERAN ini pun akan sulit untuk diterangkan secara persis. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita tidak bisa mengetahui apa yang dimaksudkan.

 

TAO pada garis besarnya adalah sebuah panduan untuk manusia, maka dapatlah disimpulkan bahwa CERAN yang dimaksud oleh Kitab Suci menempatkan manusia sebagai titik pusatnya. Sebagai manusia kita memiliki kodratnya sendiri yang membedakan kita dari binatang, tanaman, dan benda-benda lain. Yang membedakan adalah bahwa manusia memiliki kesadaran dan akal budi (pikiran).

 

Meskipun demikian kita juga merupakan bagian dari alam semesta ini. Dalam dirinya sendiri, manusia telah memiliki kealamiahannya. Dalam hubungannya dengan manusia lain manapun dalam hubungannya dengan alam kebendaan, juga telah memiliki kealamiahannya sendiri.

 

Sebelum membahas kealamiahan dalam hubungannya ke dalam diri, kita perlu tahu bahwa manusia memiliki jiwa / Aku, insting, perasaan, pikiran, dan tanggapan. Dalam kodratnya, manusia memiliki dorongan mendasar untuk berkembang biak, mempertahankan diri, mengaktualisasikan diri, dll. Dorongan-dorongan ini terwujud secara alamiah dalam bentuknya yang bermacam-macam, misalnya dalam bentuk adaptasi fisik (tubuh lebih jangkung, tubuh lebih hitam, dll), nafsu (seksual, makan, minum, amarah, dll) serta dalam akal dan perilaku manusia.

 

Seperti telah disebutkan di atas, yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan kesadaran dan berpikir. Kodrat yang terakhir ini memiliki sifat yang unik karena dengan itu manusia mampu mencipta / berkreasi yang dalam bentuk aktualnya disebut budaya, peradaban, ilmu pengetahuan, teknologi, dst.

 

Nah, menurut saya, butir-butir kebudayaan (misal: filsafat, etika, norma, kesenian, agama, hukum, dll) ini timbul juga karena kekuatan kealamiahan itu melalui diri manusia. Dengan demikian saya melihat bahwa segala macam hasil karya manusia ini adalah hasil suatu proses yang CERAN juga. Meskipun demikian, saya tidak mengatakan bahwa “Isi” dari kebudayaan itu pasti sejalan dengan kodrat / esensi kealamiahannya.

 

Pada suatu titik waktu, Isi (content) dari peradaban tersebut bisa dikatakan tidak sesuai menurut pandangan jamannya, akan tetapi justru kodrat manusia yang dinamis itulah maka manusia menjdai manusia.

 

Ketidak-alamiahan pada awalnya adalah alami juga, namun dalam perkembangannya, manusia seakan-akan lupa / semakin jauh dari akarnya – dengan menggunakan pikirannya ia bisa membuat sesuatu yang melawan kodratnya. Misalnya: dalam suasana kacau, secara alami akan membuat suatu aturan-aturan agar menjadi tertib.

 

Tetapi pada suatu saat, peraturan itu dibuat secara berlebih-lebihan sehingga menimbulkan kekacauan lagi. Demikian pula sebaliknya, dimana kealamiahan pada awalnya adalah ketidak-alamian.

 

CERAN SE FAN CERAN, FAN CERAN SE CERAN

 

Dalam berbicara mengenai CERAN, pendekatan dengan menggunakan akal (rasio) hanyadapat dilaksanakan bila kita meletakkannya pada suatu titik acuan tertentu dan mengikuti konteksnya. Bila dilihat dengan cara demikian maka seakan-akan ceran memiliki beberapa taraf (level), memiliki dimensi internal - eksternal, subyektif – obyektif, dan bersifat dinamis (bergerak), tergantung dari cara kita melihat dan menilainya. Yang menjadi permasalahan adalah CERAN ini tidak dapat dijelaskan melulu dengan akal. CERAN memiliki bagian yang diluar kemampuan indera manusia.

 

Untuk mengertinya kita harus sambil merasakan (berpikir intuitif). Ke-relatif-an dan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat di dunia ini adalah kealamiahan juga, bagaikan jejak roda yang berputar, dimana kita hanya melihatnya pada suatu titik tertentu pada jejaknya. Tetapi jejak itu tidaklah menggambarkan roda itu sendiri. Denga cara melihat “jejak”nya ini, kita mendapatkan bahan renungan untuk belajar memperbaiki diri.

 

Seperti roda berputar-putar semuanya dalam dunia ini

 

Penuh: penuh ; Kosong: kosong; teratur sendiri-sendiri. Yang tak beraturan lebih rendah dari yang tinggi. Yang ngawur akan layu lenyap tak tahan uji. (DSLC 13:5)

 

Mempelajari sifat CERAN adalah melalui konteksnya. Maksudnya, seperti telah dijelaskan di atas maka jelaslah bahwa pembicaraan kita mengenai ceran adalah mengenai diri kita sebagai manusia dan bukan sebagai binatang, tanaman, atau benda. Binatang dianggap lazim untuk telanjang di tengah pasar, tetapi tidak demikian buat kita: manusia !!! Kita adalah manusia yang hidup di jaman modern bukan manusia jaman batu. Sebagai manusia, kita tidak terlepas dari latar belakang budaya, pendidikan dan karakternya masing-masing. Bersikap mengikuti yang telah ada adalah termasuk CERAN juga.

 

Tadi saya mengatakan bahwa menilai ceran juga tergantung dari titik acuannya. Karena manusia bereaksi terhadap dorongan-dorongan baik dari dalam maupun luar, maka kita harus menilai dorongan kodrati manakah yang dominan terhadap dirinya.

 

Dalam contoh mengenai orang maisong yang menang lotere, maka kita dapat mengatakan bahwa ada beberapa dorongan yang dapat timbul dari kasus itu, misalnya: dorongan untuk meng-aktualisasi-kan dirnya (misalnya: tertawa) dan dorongan untuk mempertahankan dirinya (misalnya: menggunakan “topeng” untuk menghindari cemoohan).

 

Dua dorongan ini seakan-akan berlawanan dan reaksi yang muncul adalah berdasarkan dorongan mana yang lebih besar. Kita menggunakan kesadaran kita untuk menilai kedua kondisi itu dan membuat suatu keputusan (judgement) : manakah yang lebih pantas. Tanpa melihat hasilnya, yang membedakan kualitas seseorang adalah dalam proses dia mengambil judgement dan proses tersebut sekali lagi adalah WU.

 

Seseorang yang bijak akan mampu mencapai integritas dirinya: antara luar dan dalam; antara makro dan mikro.

 

Cara mencapai integritas tersebut adalah melalui proses internalisasi (berpadunya pendapat atau perilaku seseorang ke dalam sistem nilainya). Dalam kasus maisong di atas maka orang tersebut dapat melakukan empati (merasakan penderitaan orang lain) sekaligus menyadari kenyataan dirinya yang kemudian diwujudkan dalam suatu tindakan yang ia rasa semestinya menurut sistem nilai yang ia miliki. Oleh karena itu, tingkah laku berdukanya akan secara otomatis / spontan terlaksana tetapi tetap tidak kehilangan jati dirinya.

 

Oleh karena itu, kondisi ceran atas respon dari seseorang tergantung dari kadar pengkondisian sebelumnya, yaitu berdasarkan norma dan etika yang telah dipahaminya. Bila seseorang telah mengetahui anjuran-anjuran dan telah mencapai tingkat WU (mengerti), maka ia seharusnya bersikap dan bertindak menuruti pengertiannya tersebut melalui suatu perspektif yang benar.

 

Untuk selanjutnya, kebersatuan antara hati-pikiran-tindakan ini akan meluas-meluas menjadi sesuatu yang lebih besar sampai pada akhirnya kita akan mencapai taraf menyatu dengan alam (THIEN REN HE IE). Pada taraf ini ceran kecil telah sesuai dengan CERAN besar, dimana tidak dikendalikan lagi oleh batasan “Baik-buruk” yang fana.

 

Pada tarafnya yang tertinggi, seorang bijaksana tidaklah lagi hidup dalam dikotomi “Baik-buruk”. Akan tetapi, bagi kita yang masih dalam proses belajar, maka masihlah harus menggunakan upaya pikiran / kesadaran kita untuk membimbing pengertian kita menuju tingkat yang lebih tinggi. Upaya diri tersebut dimungkinkan karena kita memiliki SEN yang senantiasa membimbing kita.

 

Jelaslah bahwa seseorang tersebut harus menghayati konsep benar-salah itu terlbih dahulu. Bagi orang yang telah mampu menginternalisasi konsep-konsep kebenaran dalam hatinya, maka pendefinisian CERAN sebagai aktivitas yang’menuruti hatinya’ barulah secara relevan dapat dibenarkan, dan hal tersebut akan secara serta merta dilaksanakannya (spontan). Dan dalam proses tersebut, kadang-kadang kita juga harus “memaksakan” diri.

 

“Memaksakan” bukanlah membelenggu atau ngoyo, akan tetapi suatu tindakan sadar yang mengatur diri kita sendiri dengan tetap realistis. Sebaliknya “Tidak Memaksakan” juga bukanlah berarti semau-maunya sendiri. Dengan kesadaran yang lebih tinggi ini, maka kita seakan-akan bisa tertawa menikmati proses penggemblengan itu.

 

Sesuai dengan kata hati tidak berarti bahwa batas antara baik dan buruk menjadi lenyap. Seorang yang telah mencapai taraf tinggi dalam TAO memang sudah melampaui pengertian baik-buruk itu. Ia mampu melihat “Yang Hakiki” dibaliknya. Tetapi tidak berarti bahwa yang baik / buruk itu menjadi lenyap di dunia ini. Juga jangan lupa bahwa ia mencapai taraf itu melalui sebuah perjuangan menuju yang baik. Hal ini jelas-jelas tertulis dalam THAY SANG LAW CIN (DSLC):

 

Betul adalah tetap betul

Salah adalah tetap salah (DSLC 13:3:1-2)

 

 

Bila tadi saya menyinggung mengenai “sistem nilai”, maka kita sebagai orang yang SIU TAO, sudah selayaknya untuk menggunakan TAO / “Kebenaran” sebagai acuannya. Pengertian “Kebenaran” itu dapat merupakan pembahasan tersendiri yang mendalam. Tapi secara singkat disini saya maksudkan adalah kebenaran yang terdapat dalam keumuman juga.

 

Di atas juga telah saya singgung mengenai sifat dinamis (bergerak) dari CERAN. Maksud saya bahwa karena TAO meliputi segala sesuatu termasuk perubahannya, maka manifestasi ceran juga merupakan suatu kondisi yang relatif dan berubah-rubah sejalannya dengan waktu.

 

Misalnya : kondisi “ingin maju” sendiri pada dasarnya adalah CERAN, tetapi pada saat belajar sesuatu kita seakan-akan tidak ceran, tapi bila sudah mahir dan refleks akan menjadi CERAN pula. Maka tepatlah perkataan CERAN SE FAN CERAN, FAN CERAN SE CERAN. Karena sifatnya yang relatif dan berubah-ubah inilah maka dalam ber-SIU TAO kita tidak boleh terpaku/beku/mati pada suatu keadaan/ pengertian (SE CUO) untuk dapat mengerti Hakikat secara keseluruhannya.

 

Konsep Ceran berguna untuk membantu kita berpikir dan bertindak berlandaskan atas kenyataan. Hati anda tergerak lalu anda merasa dan berpikir, untuk selanjutanya melakukan respons yang semestinya ini adalah CERAN.

 

Tapi kadang-kadang respon kealamiahan internal anda tidak selaras dengan kondisi di luar. Untuk itu kita harus melakukan suatu penyesuaian-penyesuain. Ini disebut SUEN JI CERAN yaitu menyesuaikan terhadap tuntutan dari luar meskipun mungkin bertentangan dengan hati. Jadi SUEN JI CERAN adalah baik pula namun bukanlah yang merupakan tujuan akhir kita.

 

Agar kita bisa menuju kualitas CERAN, maka dasarnya adalah WU atau kesadaran. Bila kita sudah melatih diri menjadikan suatu kebiasaan, maka tindakan itu termasuk CERAN juga. Pada titik itu, tindakan kita seolah-olah berbuat tapi tidak berbuat ; WU WEI. Tetapi Tzeran bukanlah berarti sebatas Wu Wei saja. Bila kita sudah mencapai taraf CEN SAN MEI, maka tindakan dan pikiran kita akan sesuai kealamiahan diri dan kealamiahan di luar diri.

 

Mengingat sifat manusia yang mampu mencipta, termasuk mencipta sesuatu yang PU CERAN (termasuk berbuat kebajikan yang mengada-ada), maka saya merasa bahwa konsep “CERAN” itu memang perlu ada untuk menjadi panduan kita mengarah kepada yang Hakiki.

 

Seseorang yang ingin berbuat baik, akan menggunakan pikirannya untuk berbuat baik, tetapi sayangnya kadang-kadang pikirannya menjadi over sehingga terlalu memaksakan diri/keinginannya untuk dipuji ; yang menyebabkan tindakannya menjadi dibuat-buat (mis : sok suci, munafik). Dalam hal ini, maka ia harus terus menggunakan kesadarannya agar selaras dengan dirinya maupun dengan orang lain.

 

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa CERAN di dalam ajaran TAO adalah kondisi Hakiki yang spontan ; muncul dalam suatu fenomena. Seorang yang telah mencapai tahap CERAN memiliki kesatuan antara pikiran, perasaan dan perbuatan yang muncul secara spontan karena memang begitulah jati dirinya.

 

Tetapi dalam kondisi “Aku sejati” itu, ia tetap selaras / harmonis dengan dunia dan masyarakat di sekelilingnya. Jadi dapat dikatakan bahwa ia tidak melawan dirinya dan sekaligus juga tidak bertentangan dengan orang lain. Ia menjadi demikian bukan karena berpura-pura, tetapi karena memang dirinya sudah mengerti. Untuk mencapai kondisi itu ia harus berupaya, berpikir dan terus merevisi diri (SIU SIN YANG SIN). Oleh karena itu diperlukan kesabaran, kepercayaan diri dan keterbukaan (lapang dada).

 

Akar dari CERAN adalah hati yang “CEN” (sejati, hakiki) yang diperoleh dari kebiasaan rajin menggunakan WU (kesadaran/nalar kecerdasan). Untuk mencapai kondisi itu, seseorang sebelumnya harus membersihkan polusi dirinya serta belajar mengikuti peraturan-norma-etika yang ada. Dengan demikian, seorang TAO dapat menyesuaikan diri dengan kodrat kealamiahannya secara realistis tanpa harus meninggalkan kewajaran / kelazimannya sebagai anggota masyarakat.

 

Oleh karena itu, segala sesuatunya menjadi simpel saja dan kita akan menghadapinya secara rileks.

 

Kealamiahan ini dimulai dari hal-hal yang sederhana sampai ke hal-hal yang lebih luas lagi, hingga pada akhirnya kita akan mencapai taraf menyatu dengan alam semesta. Proses itu mengikuti tahapan dan kealamiahannya juga. Seperti kita makan nasi, sedikit demi sedikit tubuh kita menjadi tinggi / besar, tetapi kita tidak merasakannya. SUI TAO CI JEN : air datang dengan sendirinya akan menjadi sungai.

 

Renungan

Sesekali kita boleh berpikir tentang ke-ceran-an untuk bercermin diri / refleksi. Kali ini saya ambil contoh mengenai masalah KUNG TEK. Semua orang saya kira akan tergerak hatinya untuk berderma, bila ada yang menganjurinya. Tetapi bagaimanakah tindakan kita pada kehidupan sehari-hari, pada saat tidak ada yang mengingatkan kita. Pada saat itu, kita seakan-akan “lupa”. Nah, apakah pada saat “lupa” itu tindakan anda sudah mengarah pada kebaikan untuk orang lain ( KUNG TEK ) ? Pada saat “lupa” itulah sejati kita akan muncul.

 

Tips untuk menguji diri sendiri, sesekali cobalah untuk “melupakan” teori dan berhenti “melaksanakan”. Setelah itu bertanyalah kepada diri sendiri: apakah tindakan saya ini sudah merupakan bagian dari “Aku”? ataukah masih sebatas tambal sulam (suen ji ceran / sing ji ceran). Memang, untuk dapat maju dua langkah anda harus berani mundur selangkah (tidak takut gagal).

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*