Intan Dalam Debu – the web

Taoisme di Tiongkok

Posted by adminidb June 3, 2013, under Volume 4 | No Comments





Taoisme di Tiongkok

Oleh : Daniel D

 
Sekilas Sejarah
Sulit untuk melacak asal muasal sebenarnya dari mana Taoisme. Dalam kebanyakan buku teks asli mengenai Taoisme, tidak termuat tanggalan yang tepat. Salah satu buku yang mendominasi dan populer yaitu : TAO TEK CING, juga tidak mencantumkan baik penanggalan maupun petunjuk yang dapat dikaitkan dengan asal muasalnya.

 

LAO TZE yang diperkirakan sebagai pengarangnya, adalah merupakan bagian dari setengah legenda dan setengah kedewaan; para ahli sejarah cenderung mengatakan sebagai tokoh yang benar-benar eksis. Dalam beberapa hal, kita harus memilahkan antara seorang LAO TZE yang memang pernah hidup antara abad ke-enam dan ke-lima sebelum masehi dengan sebutan LAO TZE yang disebutkan dalam TAO TEK CING (Kitab mengenai Jalan dan Kebenaran), karena berdasarkan penelitian bahwa kitab ini baru ada setelah abad ke-3 sebelum masehi.

 

Sifat dari TAO TEK CING yang non-historikal itu juga terdapat pada hampir seluruh teks yang termuat dalam TAO CHANG (‘Ensiklopedia’ TAO). Yang terakhir ini tersusun dari sekitar 1500 karya tulis dan mewakili koleksi literatur TAO untuk masa beberapa abad. Kitab ini juga tersusun tanpa adanya petunjuk, tanggal, ataupun nama. Tampaknya, bagi para filsuf TAO, perihal itu bukanlah sesuatu yang penting bahkan seakan-akan adanya kesan menabukan karya individual.

 

Lebih lanjut, walau begitu banyaknya dokumentasi sejarah dan budaya Tiongkok, tetapi terhadap masalah TAOISME tergolong sedikit dan tidak jelas kronologinya. Bahkan para annalis (perekam sejarah / orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan mencatat peristiwa untuk keperluan kepustakaan istana) merasa lebih senang untuk menghindari subyek TAOISME sebanyak mungkin. Jadi tampaknya inilah alasan mengapa para annalis istana tidak memandangnya sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan kenegaraan.

 

Sampai saat ini, belum ada suatu studi yang serius untuk menelaah studi mengenai TAOISME dari jaman ke jaman. Jadi sungguh sangat sulit untuk merincikannya secara lengkap. Meskipun demikian, untungnya untuk masalah perkembangan (jatuh bangunnya) TAOISME, kita masih dapat melacaknya dengan kacamata sejarah.

 

TAOISME bermuasal dari Tiongkok kuno mengenai pemikiran filosofis yang mengarah pada pencarian mengenai kemanusiaan dan arti kehidupan. Salah satu filsuf besar yang mempeloporinya adalah MO TI (abad ke-5 SM [=Sebelum Masehi]) dan KONG HU CU (551 SM).

 

Kedua-duanya pada hakikatnya adalah golongan penganut TAO, yan hanya saja dalam karya tulisnya lebih memfokuskan diri pada pembahasan filsafat moral. Meskipun demikian, pada perkembangan selanjutnya, sejarah mencatatnya sebagai pelopor aliran yang terpisah, karena ajarannya tidak menyentuh unsur kebebasan yang bersifat pribadi dan masalah takdir. Agama aristokratik (golongan bangsawan) ini membahas manusia dalam hubungannya dengan peran sosialnya, membakukan ritual dan tata cara yang terekspresikan dalam keteraturan yang feodalistik (atasan-bawahan: majikan-budak, dst).

 

Sedangkan agama untuk orang kebanyakan, muncul dalam manifestasi shamanisme (aliran yang menekankan untuk berhubungan dengan roh, dewa, dll, bentuk kegaiban). Tentu saja istilah ini tidak tepat benar menjelaskan suatu fenomena sosio-kultural yang sungguh kaya, kompleks bahkan puitis dari masyarakat Tiongkok yang pada hakikatnya bernafaskan TAO. Bahkan bila kita membatasi diri studi kita pada informasi yang bersifat literatur klasik, maka kita akan melewatkan banyak sekali hal yang bersifat mendasar. Meskipun demikian, shamanisme* masih tetap bertahan hingga kini, dianggap sebagai wujud rendahan dari TAOISME yang sesungguhnya.

 
*Pada jaman dahulu dan sekarang ini di Tiongkok, terdapat aliran shamanistik yang mirip dengan yang terdapat di negara-negara lain di Asia Tengah, Mongolia dan Siberia. Di Tiongkok, praktek trance sebagai bagian dari upacara memiliki arti yang lebih luas serta digunakan untuk pemujaan kepada leluhur dan peramalan. Praktek TAOISME memiliki banyak trance, tetapi perlu diingat bahwa TAOISME tidak membenarkan adanya prosesi dari luar (kesurupan).

 

Pada penggalian bekas kuburan dari abad ke-3 SM, dapat ditemukan peninggalan berupa benda-benda dari kuningan, dan emas yang merupakan benda-benda untuk sembahyang: hiolo dalam bentuk gunung (PO SHAN LU). Di gunungnya, kita melihat adanya dekorasi yang menggambarkan pepohonan, binatang, dan figur manusia yang berwajah panjang: SIEN (kaum abadi). Benda itu melambangkan gunung K’un-lun, tempat dari Ibunda Ratu dari barat (SHI WANG MU) – Dewi besar yang mengatur matahari dan kematian, yang membawa keranjang buah persik yang dapat memanjangkan umur.

 

Penemuan ini dikonfirmasikan dengan hasil karya CHUANG TZU yang dalam bab pertamanya menjelaskan mengenai keberadaan SIEN yang penggambarannya cocok seperti yang terdapat pada PO SHAN LU itu. Dari situ jelaslah bahwa CHUANG TZU merupakan salah satu pelopor TAOISME, disamping LAO TZE. Demikian pula halnya dengan KONG HU CU yang disebut-sebut sebagai 'pelopor yang masih harus terus belajar'.

 

Apa yang kita sebut sebagai 'TAOISME' – suatu istilah yang bahkan belum ada pada jaman CHUANG TZU – adalah sesuatu yang mengacu pada 'sesuatu' yang lebih tinggi dari sekedar definisi 'agama'. Dengan kata lain, TAOISME adalah segala seuatu yang terdapat dalam sanubari bangsa Tionghoa yang termanifestasi dalam segala bentuknya baik yang fisik (agama, lambang, upacara, dll) maupun non fisik: sosial budaya, kepercayaan, kepribadian, etika, norma, mindset (pola pikir), dll.

 

Dengan perumpamaan dapatlah kita katakan: "Walaupun masyarakat Tionghoa itu begitu bermacam-macam, bahkan sekalipun agamanya berbeda-beda, namun bila kulit luarnya tersebut dikupas, maka kita akan melihat Taoisme dalam darahnya".

 

Periode Kemunduran

Kebangkitan nasionalisme yang menekankan pada penelitian literatur dan sejarah, telah secara total melupakan esensi religiusnya. Pada abad ke-18, dimana dikumpulkan dan dipelajari seluruh isi kepustakaan istana, buku-buku TAO secara praktis telah tidak diperhitungkan lagi. Oleh karena itu hingga pada awal abad ini TAO CHANG* yang telah lama terlupakan, hanya tersisa tinggal satu copy saja yang benar-benar lengkap.

 

*Disimpan di "Biara Awan Putih" di Beijing, telah direproduksi pada tahun 1926 (atas inisiatif para asosiasi pecinta buku). Baru sejak saat itulah secara resmi dapat dilakukan studi ilmiah mengenai sejarah TAOISME.

 

Suatu kerjasama telah digalang-bagaikan pernikahan tanpa cinta antara pejabat istana dan Kristiani Barat. Secara bersama-sama mereka menggerakkan pemberontakan T’AI PING (1851-1864), sebuah perang agama (yang konyol) yang dipimpin oleh seorang pemula yang menyebut dirinya sebagai titisan Kristus. Ia memperjuangkan "Kedamaian Agung" hanya dalam namanya saja, karena bahkan dalam kelompoknya pun ia tidak mampu untuk menerapkan.

 

Penghancuran besar-besaran tempat-tempat suci TAO dimulai oleh gerakan T’AI PING ini, yang menggunakan nama Kekristenan untuk memerangi "ketahayulan". Ratusan karya agung arsitektural salah satunya adalah kuil "Gunung Naga dan Harimau" (LUNG HU SAN) yang pada abad ke-13 merupakan tempat dari "Guru Langit" secara total telah dihancurkan.

 

Tidak seorangpun pada saat itu yang berani untuk membangun kembali tempat bersejarah tersebut yang umurnya setara dengan katedral era Gothic di Eropa, kecuali sekelompok masyarakat golongan pekerja pada waktu yang sama Violet-le-Duc memugar katedral Nortre-Dame di Paris!

 

Penghancuran ini terus berlanjut oleh pihak-pihak lain yang mana bila daftarnya dibuat menjadi sebegitu panjangnya sehingga tak mungkin disebut satu per satu. Memang sejarah selalu berputar, tetapi polanya sama: setiap kali Tiongkok melewati suatu gerbang kemajuan, agama lama selalu menjadi korban.

 

Kaum reformasi pada tahun 1885 menyita setiap kuil yang tersisa untuk digunakan sebagai tempat-tempat umum, sekolah dan tempat-tempat sosial lainnya. Pemerintahan Republik 1912 melanjutkan program ini.

 

Bangkitnya gerakan pembaharuan nasional secara spontan pada tahun 1917, yang disebut "Gerakan 4 Mei", melengkapi penyitaan oleh negara terhadap semua tempat-tempat religius. Oleh karena itu, gerakan inilah yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan semua tempat-tempat suci. Tuan tanah yang beragama Kristen, yang telah mengambil seluruh biara yang berada di Tiongkok Selatan, menghancurkannya sampai yang sekecil-kecilnya tanpa ampun.

 

Pada era 1920, gerakan "Hidup Baru" menggerakkan para muridnya untuk pada hari Minggu keluar mengahancurkan patung-patung dan mendekorasi ulang kuil-kuil di luar kota Nanking dan Peking.

 

Dan hal ini berjalan terus hingga kaum komunis mengambil alih pemerintahan, bahkan menjadi lebih parah. Pada waktu kaum komunis mengambil alih, hanya sedikit tempat peribadatan TAO maupun Budha yang tersisa. Para biarawan dan biarawati dibunuh atau dibuang. Hanya beberpa kuil yang besar yang dipertahankan eksistensinya sebagai tempat bersejarah.

 

Catatan penyadur:

Bahan diambil dan disadur secara bebas dari 'The Taoist Body', karangan Kristofer Schipper, Pelanduk Publication 1993. Artikel ini bermaksud untuk memperkaya wawasan kita. Bila pun terdapat perbedaan persepsi pandangan pengarang dengan pandangan kita, sekiranya merupakan suatu titik tolak yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut demi ditegakkannya kebenaran sejarah yang lebih akurat. Dan sebagai bahan pemikiran dan pelajaran untuk kita semua.

 

Prof. Kristofer Schipper

 

[Prof. Krishtofer Schipper adalah seorang sinolog (ahli budaya Cina) kelahiran Belanda yang mendapatkan gelar doktornya di Ecole Pratique des Hautes Etudes, Paris. Ia tidak hanya mempelajari Taoisme hanya dari sisi luar saja, namun terjun secara langsung masuk dan tinggal dalam suatu komunitas Taoisme di daerah selatan Taiwan, bahkan setelah mendapatkan pengesahan oleh Chang En-pu (generasi ke-63 Thian Shi) sebagai Tao-shih pada tahun 1968 dalam hal liturgi (tatacara). Bukunya untuk publik, Le corps taoÍste (The Taoist Body) diterbitkan pada tahun 1982 di Paris, yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa]

 

Ketika jaman land-reform, setiap biara yang tidak dibawahi secara langsung khusus oleh agama lain, ditempatkan berada di bawah wewenang pejabat yang baru yang disebut Asosiasi TAO (CUNG KUO TAO CHIAW SIE HUEI). Akan tetapi, lembaga ini tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagai pelindung tempat-tempat suci (yang tinggal berkisar tiga ratus di Peking, yang mana dulunya mencapai ribuan; dan berkisar 50 di Shanghai yang dulunya sekitar 200).

 

Sebaliknya malah tempat-tempat itu dijadikan barak-barak tentara, mess pejabat, atau home industry (workshop). Setiap festival yang bersifat pemujaan, upacara atau bahkan hanya untuk menghidupkan hio saja yang mana merupakan budaya TAO yang tertua di cap sebagai tahayul dan dapat dikenakan hukuman.

 

Revolusi kebudayaan (1964-1974) melengkapi sudah kehancuran tersebut. Hal yang mana pada abad ke-16 yang oleh para misionaris Jesuit diserapahkan secara sombong, akhirnya menjadi kenyataan: agama asli Tiongkok seperti hal mana pada agama Yunani dan Roma secara praktis telah punah, dan dunia tetap saja tidak bertambah bijaksana*.

 

Akan tetapi jiwa dari TAOISME tidaklah mati. Ia bertahan hidup, walaupun bagaikan tak memiliki bentuk namun penuh berkobar dalam relung sanubari insan di masyarakat Tionghoa di luar Tiongkok daratan. Di negeri Tengah ini sendiri, belakangan mulailah muncul kembali TAOISME ke permukaan. Tetapi mengapa demikian ?

 

*Pada masa sekarang ini (1982,red.), dunia dapat melihat perkembangan dari Taoisme fiktif (khayalan) dari fil-film pop kungfu. Saat ini pula terdapat bentuk Taoisme yang teoritis murni, biasanya dikaitkan dengan para intelektual, para akupunkturis, dan pegawai pemerintahan (diwadahi dalam "Asosiasi Taoisme Nasional" oleh pemerintah RRC). Tetapi Taoisme yang sejati bukanlah melulu suatu 'pemujaan' atau pun 'sistem' atau pun 'teknik pengobatan', melainkan merupakan sesuatu yang di atas kesemuanya itu, yaitu struktur tata cara kehidupan bermasyarakat yang telah mendarah daging dan berada dalam kehidupan sehari-hari!

 

Dalam era pemerintahan komunis yang melarang setiap bentuk keagamaan dan kerohanian, walaupun secara fisik TAOISME telah dibabat habis, namun jiwa dan pengertian-pengertiannya masihlah tertinggal dalam diri beberapa TAO SE yang melarikan diri ke pedalaman, ke gunung-gunung bahkan ke luar negeri.

 

Mereka yang bertahan inilah yang memiliki keimanan yang berakar, yang walaupun diterpa badai namun tetap tegak, walaupun termanifestasi dalam bentuk kepercayaan / keyakinan yang dipendam. TAO yang tanpa bentuk ini hanya diturunkan kepada segelintir murid yang benar-benar dipercayainya, atau bahkan malah ada yang memilih untuk membawa sendiri ilmunya ke dalam liang kubur.

 

Maka tidaklah heran bahwa TAOISME yang sejati justru muncul dan berkembang terlebih dahulu di tempat-tempat persembunyian dan pelarian, yaitu justru di luar Tiongkok daratan: Hongkong, Taiwan, Malaysia, Indonesia, dll. Seperti pepatah TAO yang mengatakan: "Jaman berganti, model baju pun mengikuti", maka TAOISME yang muncul dalam bentuk baru ini pu memiliki beberapa wajah yang saling berlainan, namun intinya tetap sama.

 

Di Tiongkok daratan sendiri, pemunculan kembali TAO dapat dicatat pertama kali di propinsi Canton dan Fukien, dimana ekonomi tumbuh relatif lebih makmur dibanding daerah lainnya. Bentuk kemunculan kembali ini ditandai dengan restorasi dan pembangunan kuil-kuil. Hanya saja kali ini mereka membangunnya dari batu granit yang mana "tidak dapat terbakar".

 

Festival-festival dan cerita dari mulut ke mulut mulai bermunculan kembali. Di perkotaan, dimana struktur politis masih memungkinkan, cabang dari Asosiasi TAO dibentuk. Tindakan yang 'keras kepala' meskipun tetap waspada dilakukan oleh organisasi ini untuk memugar kuil-kuil yang menurut perjanjian 1952, secara hukum diserahkan kepada TAOISME.

 

Sering kali tempat pemujaan ini telah begitu hancurnya, namun dalam beberapa kasus, ada kemungkinan untuk mendapatkan kompensasi dalam bentuk uang yang digunakan untuk pelatihan golongan TAOIST tradisional yang masih tersisa. Setiap bentuk dokumentasi yang masih tersisa dari Revolusi Kebudayaan dikumpulkan dan dicetak kembali. Meskipun demikian, pada saat itu bentuk-bentuk ke-upacaraan masih terlarang.

 

Pada periode 1980-an, TAOISME secara tak terduga mulai berkembang di Tiongkok daratan dengan cara yang tak terperkirakan sebelumnya. Salah bentuk yang terlihat dari semangat kebangkitan ini adalah antusiasme yang menyebar terhadap kesehatan dan usaha memperpanjang umur dalam bentuk latihan CHI KUNG (ditulis qiqong dalam Mandarin modern).

 

Meskipun demikian, guru-guru ch’i kung tersebut masih secara sengaja membatasi keterkaitan antara seni tersebut dengan TAOISME demi alasan keselamatan.

 

Walaupun demikian, mulai banyak penerbitan-penerbitan baik dalam bentuk buku maupun majalah mengenai CHI KUNG di Tiongkok yang memberikan ruang yang cukup banyak untuk pembahasan mengenai TAO, mengenai sejarahnya dan ulasannya. Hal yang sama juga terjadi terhadap praktek-praktek pengobatan dan cabang ilmu pengetahuan lainnya secara umum. Jadi disimpulkan bahwa TAOISME masih tetap eksis sampai hari ini, dalam kehidupan keseharian dengan tujuan yang masih sama: Panjang Umur.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*