Intan Dalam Debu – the web

Wu Wei Selayang pandang !

Posted by adminidb May 17, 2013, under Volume 4 | No Comments





Wu Wei Selayang pandang !

Oleh Soeparto-Jkt

 

Wu wei yang bila diterjemahkan berarti “ tidak berbuat “ merupakan salah satu filsafat TAO yang terkenal. Filsafat ini tercantum di dalam TAO TEK CING sehingga banyak orang yang sudah mencoba untuk menjabarkannya. Dari penjabaran yang dilakukan oleh orang-orang di luar TAO kita, termasuk orang-orang asing belum ditemukan penjabaran yang memuaskan, bahkan tidak sedikit yang salah persepsi.

 

Berdasarkan sejarah justru karena filsafat WU WEI inilah suatu dinasti pemerintahan melarang penyebaran ajaran TAO di daratan Cina, TAO dengan filsafat WU WEI ini dianggap merusak rakyat karena mengajarkan rakyat untuk menjadi pasif dan malas untuk bekerja. Sesuai dengan arti WU WEI yang tidak berbuat yang juga berarti diam, pasif dan hanya bersemedi terus sepanjang hari.

 

Apakah memang demikian ?!?

 

Penjabaran filsafat WU WEI di atas adalah penjabaran yang sangat salah. Dalam sastra Tiongkok kuno seharusnya pengertian WU WEI sama dengan WU SUO PUK WEI dan adalah WU PU WEI atau “tidak tidak berbuat” yang sama juga dengan WU SUO WEI EL WEI atau “tidak menargetkan kerja”. Dengan demikian dari kerja nyata “ YU WEI berubah menjadi tidak menargetkan kerja” WU WEI.

 

Berdasarkan urutannya dapat dijabarkan sebagai berikut :

 

Dari kosong / nihil timbul ada / isi – WU CHUNG SEN YU

 

JUNG “YU WEI” CYAN RUK “WU WEI” artinya dari “Kerja nyata” berubah menjadi “Tak menargetkan”.

 

Tahap yang terendah adalah dimana kita tidak melakukan apa-apa, tahap selanjutnya yang lebih tinggi adalah berbuat sesuatu, dan tahap yang tertinggi adalah kita berbuat sesuatu tapi tidak merasa berbuat sesuatu / tidak menargetkan kerja. WU WEI sebenarnya merupakan suatu tahap dimana kita telah mencapai tahap yang tertinggi.

 

Tindakan WU WEI yang tidak memikirkan target yang harus dicapai ini, bukan berti bermalas-malasan atau seenaknya sendiri. Tahap seenaknya sendiri ini masih merupakan tahap tidak berbuat. Justru pada tahap ini harus ditetapkan suatu target untuk menjadi tahap berbuat. Pada tahap WU WEI, suatu tindakan atau sikap sudah menyatu dengan dirinya, sehingga sama sekali tidak ada paksaan dari dalam dirinya untuk melakukannya. Dalam melakukan tindakan WU WEI, orang tersebut hanya merasa senang melakukan dan tidak diperlukan lagi target sebagai pendorong atau pemaksa.

 

Misalnya dalam hal KUNG TEK atau amal kebajikan. Tahap terendah adalah tidak berbuat amal sama sekali. Tahap selanjutnya adalah kita berbuat amal. Dan tahap tertinggi adalah kita berbuat amal tapi kita tidak merasa berbuat amal. Suatu tahap di mana kita dalam beramal sudah benar-benar tanpa pamrih sedikitpun atau tidak mempunyai target yang dipikirkan.

 

Filsafat ini dapat pula diterapkan dalam KUNG FU. Tahap terendah adalah kita tidak mengetahui satu jurus pun KUNG FU. Tahap selanjutnya kita mengetahui jurus KUNG FU, sehingga bila menghadapi lawan kita dapat memilih jurus apa yang hendak dipakai. Dan tahap tertinggi adalah kita mengetahui jurus, tapi apabila kita menghadapi serangan lawan kita tidak mengingat satu jurus pun, jurus akan dapat keluar mengalir tidak terputus dengan sendirinya tanpa kita berpikir dahulu.

 

Dari contoh di atas dalam filsafat WU WEI ini ada kandungan kata spontan dan refleks. Yang menandakan bahwa tahap tertinggi telah dicapai karena apa yang hendak kita perbuat, dilakukan tanpa melalui proses berpikir dahulu. Ini tidak sama dengan ceroboh. Karena untuk mencapai tahap ini harus dimulai dari tidak berbuat, berbuat baru kemudian tidak tidak berbuat. Tahap tidak tidak berbuat ini dicapai bila kita sudah berbuat berulang-ulang kali mengalami kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya hingga mencapai tahap sangat mahir karena sudah berlatih terus - menerus.

 

Misalnya dalam KUNG TEK. Pada awalnya seseorang tidak berbuat KUNG TEK. Untuk mencapai tahap WU WEI orang ini harus mulai memaksakan diri berbuat KUNG TEK. Memang dalam dirinya pasti masih timbul pamrih. Tapi KUNG TEK ini harus terus-menerus dilakukan sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Dan suatu saat orang tersebut akan mencapai tahap WU WEI.

 

CING CO yang kita lakukan juga merupakan tindakan WU WEI. Dalam CING CO kita terlihat diam, tidak berbuat. Tapi sebenarnya kita berbuat karena justru kita sedang berusaha sekuat tenaga untuk memusatkan pikiran kita.

 

WU FAK CIU SE FAK ( tiada cara adalah cara ).

 

Kalimat ini yang ada di dalam CIANG IE menggambarkan betapa tinggi FAK yang kita miliki. Ini juga merupakan penerapan dari filsafat WU WEI.

 

Karena dalam keadaan tertentu ( misalnya dalam keadaan kritis ) FAK dapat keluar tanpa menggunakan cara apapun. Inilah sebab mengapa TAO FAK kita disebut WU SANG TA FAK ( kekuatan tak tertara ).

 

Ada suatu hal yang menarik yang kebetulan saya temukan dalam buku Emotional Intelligence ( Kecerdasan Emosional ) karangan Daniel Goleman. Buku ini sekarang menjadi best seller dan banyak dibicarakan orang bahkan di seminar-seminar untuk perusahaan karena dianggap telah menemukan terobosan baru di bidang psikologi. Pada halaman 126 ada sebuah topik yang disebut flow ( mengalir ). Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa seseorang yan telah mencapai puncak kecerdasan emosionalnya berarti orang tersebut telah dapat mencapai tahap flow dalam pekerjaannya. Tahap flow dalam buku tersebut digambarkan oleh seorang komposer ketika melukiskan saat-saat pekerjaannya paling baik :

Berada dalam suatu keadaan ekstase sampai di suatu titik dimana anda merasa seolah-olah anda hampir-hampir tidak nyata. Saya pernah mengalami hal ini berulang kali. Seakan-akan tangan saya bukan lagi milik saya, dan saya serasa tidak terlibat apa-apa. Saya hanya duduk mematung seraya menonton dalam keadaan takjub dan kagum. Gubahan itu seolah-olah mengalir dengan sendirinya.

 

Gambaran tentang flow dari cerita komposer di atas merupakan dari filsafat WU WEI. Hanya saja flow dalam buku tersebut mencakup ruang lingkup yang lebih sempit dari WU WEI. Flow dalam buku tersebut hanya untuk menggambarkan kualitas tertinggi suatu pekerjaan fisik ( duniawi ). Misalnya dalam melukis, menari, olah raga, dsb. Dalam Filsafat WU WEI mencakup juga kualitas tertinggi batin seseorang ( spiritual ). Misalnya dalam KUNG TEK, berbakti pada orang tua, berlapang dada, sabar, dsb. Dimana perbuatan-perbuatan di atas dilakukan karena kesadaran sepenuhnya, bukan karena larangan, paksaan ataupun imbalan.

 

Bila anda setuju bahwa flow ini merupakan bagian dari WU WEI, coba bayangkan bahwa filsafat WU WEI ini telah ditulis oleh LAU TZE dalam TAO TEK CING 2500 tahun yang silam, mencakup universal dalam bidang duniawi maupun spiritual. Dari filsafat ini saja sudah menunjukkan betapa tinggi TAO yang diciptakan oleh LAU TZE.***

 

Oleh Soeparto-Jkt

 

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*