Intan Dalam Debu – the web

A B G

Posted by adminidb June 26, 2013, under Volume 5 | No Comments





A B G

Oleh : Nina

 

Mungkin sebagian orang tidak mengenal istilah A.B.G, tapi kaum muda tentunya mengerti betul istilah tersebut. Baiklah, A.B.G adalah singkatan dari Anak Baru Gede, jadi identik dengan anak-anak yang berumur belasan tahun. Memang apa istimewanya A.B.G toh, kok sampai perlu dibahas di sini?

 

Nah......., ini baru pertanyaan !

 

Anak-anak A.B.G mulai mengenal eksistensi dirinya. Oleh karena itu mereka biasanya merasa sudah gede ( besar ), sudah tahu sehingga cenderung ingin bebas dari otoritas orang tua. Perintah-perintah, larangan-larangan bahkan terkadang nasehat orang tua dianggap mengurangi kebebasan, keinginan ataupun ‘yang mereka anggap hak’ untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

 

Kecenderungan untuk bebas ini diungkapkan dengan ngambek pada awal mulanya, kemudian dilanjutkan dengan sikap membantah atau menentang yang dapat berkembang ke tahap yang lebih parah yaitu membangkang atas pernyataan, nasehat atau apapun dari orang tua terlepas itu baik atau tidak.

 

Klimaksnya adalah konflik antara orang tua dan anak yang biasanya menjurus ke hal-hal yang negatif, misalnya : tidak kerasan di rumah, mulai bergaul dengan hal-hal yang tabu atau terlarang seperti narkoba dan lain-lain dipihak si anak, dan sebaliknya di pihak orang tua selalu berprasangka buruk, hilangnya kepercayaan, dan selalu marah-marah.

 

Mari kita ambil contoh :

Si Andi misalnya, anak orang yang berkecukupan, orang tuanya ingin mendapatkan yang terbaik bagi anaknya. Maka si Andi di-leskan piano, bahasa Inggris, melukis, komputer, Mandarin dan lain-lain, sehingga jadwal sehari-harinya menjadi padat dari pagi sekolah hingga les dan mengerjakan PR pada sore harinya.

 

Jika kita tinjau memang si orang tua bertujuan baik, ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya dan si Anak secara tidak disadarinya akan menjadi disiplin mengatur waktu agar dapat mengikuti jadwal hariannya, ini bisa berakibat postif yaitu karena sibuk sehingga tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal yang negatif.

 

Tapi........, di sisi lain bila kita tanya pada si Anak, apakah kamu bangga bisa mempelajari berbagai macam ilmu ?

 

Mungkin jawabannya adalah : “Saya stress, cape! Disuruh les ini, les itu, belum lagi PR atau tugas dan ulangan dari sekolah, sungguh menyebalkan tidak ada waktu santai, tambahan saya kan tidak suka piano dan Inggris !.

 

Kita ambil contoh lain yaitu si Billy.

Si Billy juga mengalami nasib yang mirip dengan si Andi. Billy dileskan Inggris padahal dia suka les gitar. Billy pernah protes pada orang tuanya bahwa dia tidak suka les Inggris, dia ingin les gitar. Tapi si orang tua malah menjawab bahwa Inggris lebih penting dan berguna kelak daripada les gitar. Untuk apa les gitar ?

 

Dari beberapa contoh kecil ( yang saya anggap amat sempit dan kecil dari jutaan masalah yang ada ) di atas, sebenarnya benih-benih konflik antara orang tua dan anak sudah mulai terlihat, jika ini terjadi terus menerus dan tanpa disadari akan menumpuk, sehingga tidak jarang suatu saat akan terjadi konflik terbuka.

 

Bagaimana orang tua menyikapinya ?

 

Apakah dengan omelan, kemarahan atau bahkan dengan pukulan ?

 

Bagaimana pula si ABG menyikapinya ?

  1. Dengan menurut walaupun meng-gondok* dalam hati. (*menggerutu)
  2. Dengan menentang sehingga terjadilah perang mulut yang diakhiri dengan cap ‘durhaka’ bagi si anak.
  3. Dengan menipu ( pura-pura menurut padahal tidak di belakang )
  4. Dengan lari dari masalah/problem. Hal ini ditandai dengan minggat, mengkonsumsi narkoba dan masih banyak yang lain yang takut saya sebutkan satu persatu.

 

Eit, tapi jangan buru-buru mengambil kesimpulan dulu.

 

Kita lihat contoh lain ?

Charlie, orang tuanya-pun mampu, bahkan boleh dibilang kaya. Orang tuanya-pun ingin yang terbaik bagi anaknya, maka si Charlie-pun diberi kebebasan memilih les/kegiatan (tentu saja yang positif). Soal biaya tentu tidak jadi masalah. Tapi si Charlie malah tidak melakukan apa-apa, pasalnya karena dia bingung mau les apa? Pernah dia coba untuk ikutan teman les komputer, tapi baru sebulan sudah berhenti,lalu dia coba les Inggris, inipun tidak menarik minatnya. Charlie mencoba ikut teman les Mandarin, susah lalu berhenti juga. Akhirnya dia stop, tidak ngapa-ngapain Cuma nonton TV/VCD dan main game saja sepulang sekolah.

 

Sekarang, kita tinjau si Dino, anak orang yang boleh dibilang pas-pasan. Tentu saja orang tuanya tidak mampu membiayai les. Tapi si Dino ini ingin sekali belajar mesin, jika melihat mesin pikirannya sudah terbang menerawang bahwa dia suatu saat akan dapat membuat mesin ini dan itu. Apa mau dikata, uang tak ada, maka tak kesampaianlah niat si Dino.

 

Walaupun begitu si Dino, sepulang sekolah, tidak pernah absen untuk nongkrong di depan bengkel yang kebetulan dekat rumahnya. Mula-mula hanya nonton orang bekerja, lama-lama tak tahan untuk bertanya ini dan itu. Lama-lama dia minta ijin untuk membantu. Karena rajinnya, si pemilik bengkel memberi sedikit upah, yang dikumpulkannya untuk membeli buku-buku mesin.

 

Sekali lagi kasus-kasus ini hanyalah sebagian kecil yang kita hadapi dalam hubungannya dengan ABG.

  • Adakah kita pernah berpikir, bagaimana kita harus bertindak bila kita sebagai orang tua dari seorang anak ABG ?
  • Sebaliknya....jika kita sebagai ABG, bagaimana kita harus membawa diri ?
  • Apakah bisa hal ini kita hubungkan dengan TAO ?

Jawabannya : Tentu bisa !

 

Sebenarnya kita bisa mengambil prinsip WU, IM-YANG dan CERAN.

 

Kenapa WU ?

 

Sebagai orang tua kita harus WU. Zaman berubah, kebutuhan berbeda, keinginan orang tidak sama, maka kita harus mengenali watak, bakat dan sifat dari anak kita.

 

Jadi jangan lagi beranggapan bahwa kita yang paling tahu dan paling benar menentukan apa yang terbaik bagi si ABG tsb. Kita dapat memposisikan diri sebagai teman sehingga si Anak merasa senang berdialog dan berdiskusi dengan kita, sehingga pelan-pelan kita bisa mengarahkan mereka untuk berpikir / WU sendiri untuk hal-hal yang akan dilakukannya.

 

Memang tidak mudah merangsang/ mengarahkan anak untuk berpikir WU, tapi bila kita berhasil maka kita akan melepasnya dengan tenang jika si ABG sudah dewasa kelak.

 

Sebagai ABG, kita juga harus WU. Salah satunya adalah “Orang tua tidak akan mencelakakan anaknya sendiri”.

 

Prinsip ini kadang terlupakan oleh ABG sehingga apapun yang dilakukan orang tua dianggap hanya membatasi kebebasan saja.

 

Coba berpikirlah lagi, benarkah itu ?????

 

Bagaimana kita dapat mengkompromikan keinginan / kemauan kita ?

 

Tapi bukan berarti meng-akal-i lho ya ?

 

(Sekali berbohong, orang tua akan susah percaya lagi, tambahan pula yang rugi nantinya adalah DIRI SENDIRI).

 

Cobalah ajak berdialog, mungkin pendapat orang tua yang benar dan baik bagi kamu, mungkin pendapatmu benar dan orang tua menyadari itu sehingga akan melepas kamu dengan lega.

 

Kenapa CERAN ?

 

Memang CERAN / ALAMI ini hal yang paling simple tapi sekaligus membingungkan banyak orang.

 

Sebagai orang tua, kita secara “alamiah” memang akan memarahi anak bila ada hal-hal yang buruk apalagi kurang ajar yang dilakukan anak kita.

 

Secara alamiah pula kita merasa bertanggung jawab akan pendidikan dan masa depan anak.

 

Tapi apakah CERAN nya hanya sampai sebatas itu ? Sehingga dengan dasar CERAN ini (orang tua lebih tua, lebih tahu, lebih berpengalaman) kita memaksakan kehendak kita kepada anak karena kita pikir anak kita akan sukses bila menuruti kehendak kita. Ada orang tua yang bahkan mendikte setiap gerak dan langkah anaknya.

 

Apa anaknya robot, ya ?

 

Bukan CERAN lagi itu namanya !

 

CERAN memang berarti alamiah tapi arti alamiah ini amatlah luas, maka dalam kehidupan sehari-hari dalam mengaplikasikan CERAN haruslah dikombinasikan dengan WU. Dalam contoh orangtua-anak ini, kita harus CERAN dalam mendidik anak dalam arti disesuaikan dengan kondisi, situasi dan kemampuan.

 

Jangan lupa dalam mendidik hal yang paling mendasar adalah memberi contoh, maka dalam kehidupan sehari-hari, perilaku kita adalah contoh CERAN bagi anak-anak kita.

 

Sebagai ABG :

-          Adalah CERAN bila kita menghormati dan menuruti nasehat orang tua.

-          Adalah CERAN juga bila kita mengemukakan apa yang kita mau / inginkan ( tentunya dalam batasan yang baik / WU ), karena kelak kita ingin jadi orang yang baik bukan ?

 

Janganlah mengartikan CERAN ini secara ngawur ! Misalnya :

 

“Pah, saya kan sudah gede, CERAN kan Pah, kalau saya ingin merokok?”

 

Nah, bagaimana kalau kedua ponit di atas bertentangan ?

 

Kenapa harus IM-YANG ?

 

Karena sebagai manusia; besar, kecil, kaya, miskin, tua, muda semua ingin dihargai eksistensi / keberadaannya.

 

Segala sesuatu yang ditekan pasti akan menimbulkan reaksi balik, entah itu baik atau buruk. Maka dalam kasus hubungan orang tua dan anak inipun kita harus menyeimbangkan banyak hal, antara lain rasa hormat, harga diri, pengakuan eksistensi, pengalaman, kemauan, bakat, dll.

 

Hati-hati, ini jangan disalah artikan dengan “Take and Give” (memberi dan menerima).

 

Alangkah harmonisnya bila kita bisa menyeimbangkan antara keinginan ABG dengan pandangan / pengalaman orang tua, ya ? Tentunya problem-problem yang ditimbulkan karena keberadaan ABG ini dapat diminimalkan.

 

Wah, ternyata ajaran TAO kita tidak ketinggalan jaman ya ! Buktinya setelah diuraikan mirip dengan teori psychologi. Jadi TAO bukan hanya untuk encim-encim dan encik-encik saja, setuju ?

 

Salam TAO !!

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*