Intan Dalam Debu – the web

HOGIE – No. 1

Posted by adminidb June 17, 2013, under Volume 5 | No Comments





HOGIE - No. 1

Oleh : Soeparto

 
Saya sangat yakin bahwa pada umumnya manusia yang hidup di dunia, semuanya tentu ingin hidup makmur dan bahagia.

 

Makanya banyak orang berpendapat bahwa hidup di dunia ini yang paling penting adalah HO GIE atau FUK, disini saya lebih cenderung mengartikannya sebagai : “ KEBERUNTUNGAN”, sehingga ada istilah HO GIE TE IT ( HO GIE No. 1 ).

 

Pada dasarnya pendapat ini sah-sah saja dan dapat dianggap benar juga, karena dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, HO GIE ini sangat sering dianggap, bahkan memang menjadi faktor dominan yang menentukan hidup seseorang.

 

Bagi semua orang yang beragama, HO GIE diyakini sebagai suatu anugerah pemberian dari Yang Maha Kuasa / Tuhan (bagi umat TAO adalah dari THIEN / DEWA).

 

Sehingga hampir semua umat TAO dalam berdoa kepada DEWA-nya, biasanya selalu memohon diberikan HO GIE yang berlimpah.

 

Lalu apakah hal yang dilakukan itu benar ?

 

Menurut saya semua doa dan permohonan yang dipanjatkan kepada DEWA adalah wajar-wajar saja.

 

Permasalahannya adalah bahwa dalam kenyataannya tidak semua orang bisa mendapatkan HO GIE yang besar, dan kalupun sudah “ber HO GIE besar” yang lebih sering terjadi  adalah hanya segelintir orang yang dapat dengan kesadaran penuh “mengakui dan menerima kenyataan telah mendapat HO GIE dari DEWA sesuai porsinya masing-masing”.

 

“ Semua bilang kita orang yang beruntung, tapi dimana Hogienya ??”

 

Untuk kasus seperti diatas ada ungkapannya yaitu : “REN CAY FUK CUNG PUK CE FUK”. Yang berarti : “Sudah didalam HO GIE tapi tidak merasa adanya HO GIE”.

 

Hal inilah yang umumnya sering menjadi pemicu orangtidak pernah dapat puas dan selalu timbul iri hati yang berlebihan dan tanpa arahnya.

 

Tetapi lalu apakah seorang yang merasa telah diberikan HO GIE yang berlimpah dan melebihi lainnya, harus menunjukkan rasa berterima kasihnya kepada DEWA secara berlebihan pula, supaya tetap di “sayang” (kasihi) oleh dewanya atau justru sekedar untuk membuktikan dan menunjukkan pada orang lain bahwa Dewa mengasihinya ?!?

 

Selain itu di sisi yang berseberangan banyak pula yang karena merasa tidak mendapatkan HO GIE, kemudian berkuranglah kemantapan hatinya kepada DEWA, bahkan berkembang sehingga kemudian menjadi luntur ( tidak percaya Dewa lagi ) dan akhirnya meninggalkan sembahyangannya.

  • Apakah hal-hal tersebut adalah wajar juga ???
  • Kalau ajaran TAO itu selalu menitik beratkan semua hal pada kealamiahan ( CE RAN ). Apakah hal-hal tersebut pun alami ( CE RAN ) ??

 

Lalu bagaimanakah seharusnya kita bersikap ?

 

Cobalah kita renungkan sejenak !

 

Sebagai seorang Taoyu ( sudah SIU TAO ) yang katanya bukan sekedar umat TAO biasa lagi, yang mana biasanya hanya ikut-ikutan sembahyang saja, idealnya seorang Taoyu tentu harus memiliki kualitas yang lebih baik dalam segala hal mengenai TAOnya.

 

Nah, salah satunya adalah dalam pengertian-pengertian TAO, seperti pula dalam permasalahan HO GIE ini ( dalam pandangan yang lebih luas ).

 

Jika kita harus meyakini sepenuhnya bahwa HO GIE adalah pemberian dari Dewa, dimana dalam Cing Ie Kitab Suci Dewa FUK TEK CEN SEN tertulis :

“ Rejeki/FUK asalnya diberi Tuhan/Thien, Moral / Tek timbulnya dari sanubari manusia”.

  • Jika demikian, maka :

“Apakah hanya dengan mengandalkan seluruh kepercayaan diri dan kemantapan hati kita kepada Dewa lalu rajin bekerja dan berdoa memohon maka semuaya pasti akan selesai dan menjadi kenyataan ?”

  • Atau sebaliknya :

“Apakah jika kita sudah berusaha sekuat kemampuan kita (bekerja dan berdoa) namun kenyataannya belum berhasil juga, maka berarti Dewa tidak bisa berbuat apa-apa atau bahkan Dewa itu tidak ada ?”

 

Nah, kalau hal seperti ini masih sempat membuat kita bingung dan bertanya-tanya pada diri sendiri, tentunya masih ada sesuatu yang mungkin terlewat / terlupakan dari pengertian dan kesadaran kita (jika tak mau dikatakan belum atau tidak mau mengerti sama sekali !?!).

 

Dan bila, walaupun kita tidak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti itu sekalipun, apakah lalu sudah dapat dijadikan suatu jaminan bahwa secara hakiki kita sudah “menyadari sepenuhnya”!?!

 

Membahas mengenai permasalahan HO GIE memang sangat luas dan menarik, dalam kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan dua hal berkaitan yang merupakan pandangan pribadi.

 

Adapun pandangan tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama :

Perlu kita sepakati dan sadari bahwa bersama dalam pengertian yang seluas-luasnya bahwa perwujudan HO GIE itu tidak hanya semata-mata berbentuk materi atau non materi saja, akan tetapi merupakan perpaduan berimbang antara unsur-unsur materi dan yang non materi dalam bentuk yang komprehensif (lengkap dan utuh) dan terintegrasi (menyatu) dengan baik.

 

Secara sederhana, pengertian HO GIE yang lengkap dapat diartikan / dianggap adalah U-FUK yang meliputi : Rejeki, Kedudukan, Usia, Harta dan Keturunan. Dari sini dapat kita lihat adanya suatu perimbangan relatif antara unsur-unsur materi dan non materinya.

 

Jadi jika seseorang hanya berlimpah dengan harta kekayaan tapi kehidupannya masih penuh dengan masalah-masalah keluarga dan problem kesehatan yang mengganggu dan membuat ia tidak pernah merasa bahagia, maka dia bukan orang yang ber-HO GIE dalam pengertian lengkap !!!

 

Lalu jika demikian halnya, apakah berarti hanya orang yang kehidupannya sempurnalah yang dapat disebut orang yang ber-HO GIE ?

 

Ya, tentu saja ! Tetapi itu khan jika dipandang dari sudut pandang dan pengertian yang luas serta idealnya.

 

Selain itu, tentunya hal diatas tersebut juga harus dapat diterima dengan proporsional dan tidak kaku, sehingga tidak menghilangkan / menghapus pengertian bahwa keberadaan salah satu komponen dari U-FUK itu sendiri adalah masih tetap dapat dianggap juga sebagai HO GIE.

 

Selain itu secara bersamaan pemikiran kita juga harus bisa menyadari pertimbangan masalah dari aspek realitanya, sehingga dengan mau tidak mau kita harus dapat menyadari segala kenyataan yang ada pula, dimana umumnya dalam kenyataan dapat dikatakan tidak ada hal yang sempurna.

 

Penjelasan ini pada dasarnya hanya ingin mengajak kita untuk menuju sebuah pandangan mengenai keberadaan HO GIE yang lengkap, utuh dan menyatu (komprehensif) tadi, tujuannya adalah supaya pikiran kita tidak terbelenggu hanya pada satu sudut pandang saja.

 

Sebab, umumnya sudut pandang seseorang mengenai masalah HO GIE cenderung mengacu hanya pada sudut pandangan yang ideal / sempurna secara duniawi atau hanya dari sisi materinya saja.

 

Akibat dari cara memandang HO GIE seperti ini, cenderung akan menempatkan seseorang hanya pada lingkaran keduniawian saja, sehingga secara psikologis / kejiwaannya selalu ada beban selain hanya “kesadaran semu” belaka.

 

Padahal, katanya kita SIU TAO justru mau mendapatkan “kesadaran hakiki” sehingga hidup serasa tanpa beban !!

 

Kedua :

Sejauh mana seseorang mementingkan HO GIE dan seperti apa seseorang memandang HO GIE memang sangat relatif. Oleh karena itu harus di”sadari” bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, masing-masing memiliki kodratnya sendiri.

 

Kesemuanya itu berjalan secara alamiah (CE RAN). Hukum “sebab akibat” adalah yang mengatur segalanya didalam lintasan waktu.

 

Walaupun didalam kenyataan yang ada, hampir dapat dipastikan bahwa segala hal yang timbul adalah hasil dari rangkaian reaksi yang sudah sangat kompleks (besar dan rumit), tapi pada dasarnya hukum sebab-akibat adalah sederhana.

 

Karena tidak satupun peristiwa luput dari hukum sebab akibat ini, maka tentunya urusan HO GIE pun secara mutlak mengikuti hukum tersebut.

  • Jika semua orang membutuhkan dan mengharapkan HO GIE adalah wajar.
  • Maka persoalannya adalah bagaimanakah untuk mendapatkan HO GIE itu ?
  • Apa saja yang harus disiapkan ?


Ilustrasinya sebagai berikut :

Dewa memberikan HO GIE karena memiliki Jing (Kasih), Kasih tercipta dan timbulnya dari Moral yang tinggi (TEK).

 

Manusia dinilai DEWA adalah dari Moralnya (TEK), sedang Moralitas yang tinggi berasal dan timbul dari tercapainya “Kesadaran” yang tinggi (WU).

 

Jika manusia telah memiliki Moral yang tinggi maka manusiapun dapat memiliki Kasih.

 

Nah, dengan memiliki Kasih maka manusia akan melakukan amal kebajikan (KUNG TEK).

 

Perbuatan KUNG TEK yang merupakan perwujudan nyata dari adanya kesadaran inilah yang akan selalu dinilai DEWA.

 

Dari ilustrasi diatas dapat kita ketahui bahwa memang ada hubungan secara proporsional antara manusia dan DEWA dalam keberadaannya masing-masing yang dapat secara interaktif berpengaruh positif terhadap keberadaan manusia itu sendiri jika dapat mengikuti Moralitas yang tinggi ( DEWA ) yang berarti juga mengikuti TAO.

 

Harapan yang ada, dengan menyadari dan mengerti semua ini, maka kita akan lebih mantap dan tenang menghadapi hidup terutama dalam urusan HO GIE tersebut. Dengan ini maka untuk selanjutnya rasanya tidak perlu kita saling membandingkan dengan orang lain ( secara subyektif ), iri dan dengki atau bahkan sombong dan congkak.

 

Juga tidaklah perlu kita menuntu-nuntut dan memaksakan kehendak secara berlebihan atau bahkan menyalahkan DEWA atas segala kondisi dan keadaan yang tidak sesuai keinginan kita. Karena pada intinya seluruh kondisi dan kualitas HO GIE (dalam pandangan luas) yang ada pada diri kita ini baik sekarang dan nantinya adalah murni merupakan anugerah DEWA atas segala sesuatu yang ada dan berasal dari diri kita masing-masing ( dari yang lampau maupun sekarang ).

 

Sehingga ini membuktikan bahwa sebenarnya THIEN / DEWA tidak pernah tidak adil dan pilih kasih dalam menilai manusia dan memberi HO GIE !!

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*