Intan Dalam Debu – the web

Mari Berdiskusi….!

Posted by adminidb July 2, 2013, under Volume 5 | No Comments





Mari Berdiskusi....!

Oleh : Hendra

 

Diskusi adalah forum bertukar pikiran dan pendapat.

 

Adapun persyaratan dasar agar sebuah diskusi dapat berlangsung adalah :

  • Ada anggota / pesertanya ( lebih dari ssatu orang ). Peserta diskusi minimal dua orang, jika peserta banyak maka sebaiknya ada seorang moderator supaya diskusi tertib dan teratur.
  • Ada topik pembahasannya. Permasalahan yang akan dibahas harus jelas dan dapat dibahas ( bisa dijawab ), sebaiknya juga yang bermanfaat, praktis dan menarik.

 

Sebenarnya diskusi itu adalah hal yang sederhana dan mudah serta sering kita lakukan juga, karena ketika dua orang bertemu, ngobrol membicarakan sesuatu hal atau permasalahan dan saling mengeluarkan pendapatnya masing-masing, maka itu sudah merupakan diskusi.

 

Jadi diskusi itu sebenarnya bukan suatu hal yang sulit juga, dan kebanyakan orang juga sering melakukannya. Diantara bos-bos diskusinya adalah masalah bisnis, muda-mudi membahas masalah percintaan, anak-anak SD membicarakan soal-soal PR ( pekerjaan rumah ) nya, para wanita selalu membahas bagaimana supaya selalu cantik dan menarik, bahkan tukang becakpun “diskusi” membicarakan harga sembako yang mahal dan lain-lain; semuanya ini “kalau mau” sebenarnya boleh dikatakan diskusi juga. Tapi dalam kenyataannya tidak semua obrolan atau pembicaraan bisa dikatakan atau dianggap diskusi, tergantung dari kualitas pembicaraan itu sendiri. Sehingga kemudian secara lebih spesifik akan bertingkat timbul banyak sekali istilah untuk membedakan kualitas dan tujuan pembicaraannya mulai dari : diskusi, rapat, debat, negosiasi, perundingan, sidang, sampai ke ngobrol, ngerumpi, menggosip dan lain-lain.

 

Diskusi Dalam Belajar TAO

Diskusi atau bertukar pikiran memang dapat memberikan dampak positif dalam mengasah dan mengembangkan pikiran kita, sebab kita bisa menambah dan mendapatkan wawasan serta sudut pandang yang lebih luas dan mendalam. Karena itu pula dalam SIU TAO, kita juga dianjurkan untuk banyak dan sering berdiskusi.

 

Akan tetapi jika hanya asal-asalan diskusi saja, tentunya bisa juga ( bahkan sering ) menimbulkan dampak negatif sehingga membawa suasana diskusi kearah perdebatan, adu argumentasi secara tidak sehat yang kemudian bisa berkembang menjadi bibit pertentangan, permusuhan bahkan pertengkaran.

 

Mengenai hal diatas saya rasa kita semua pasti sudah tahu, sehingga jika melihat hal tersebut terjadi maka semua dengan mudah dapat mengatakan bahwa yang salah adalah orangnya. Tapi ironisnya jika ditanyakan pada pihak-pihak yang bersangkutan maka semua pihak umumnya akan berkata dirinya yang benar ( jadi kesimpulannya tidak ada yang salah !?! ).

 

Walaupun akhirnya kita bisa mengabaikan siapa yang benar dan siapa yang salah, permasalahannya adalah akan sulit untuk mengembalikan hubungan yang sudah retak atau putus apalagi kalau jaringannya sudah seperti benang kusut dan membatu. Selain itu jika ada dua orang saja yang ribut maka keduanya sudah berpotensi menjadi bibit perpecahan bagi lainnya.

 

Oleh karena itu jalan yang terbaik adalah sikap preventif yaitu dengan berusaha mengurangi atau bahkan kalau bisa menghilangkan sama sekali kemungkinan-kemungkinan timbulnya dampak-dampak negatif yang dapat timbul dalam berdiskusi TAO. Hal ini untuk menjaga agar diskusi TAO yang dilakukan selalu berdiri pada rel tujuan yang pertama yaitu untuk memajukan atau mengembangkan pikiran kita.

 

Rata-rata orang selalu ingin ditempatkan pada posisi yang lebih utama ( sebagai subyek ) daripada menjadi obyek atau pelengkap. Jika semua orang lebih suka menjadi subyek ( peran utama ), maka saya ingin mengajak dan menempatkan semua TAOYU untuk menjadi peran utama dalam tujuan untuk selalu memajukan diri selama SIUTAO dengan cara berdikusi TAO.

 

POIN – POIN BERSIKAP DALAM DISKUSI

Sebagai seorang yang berdiri sebagai subyek (peran utama) dari yang lainnya dalam fokus berdiskusi, menurut saya tentunya harus memiliki suatu kualitas individu yang cukup memadai.

 

Dalam menyikapi hal ini, maka poin persiapan dan peningkatan kualitas diri untuk berdiskusi adalah hal yang paling penting dan mutlak.

 

Nah, untuk itu maka ada beberapa hal yang dapat kita jadikan acuan bersikap untuk bisa maju terus dengan cara berdiskusi yang baik, yaitu antara lain :

  1. Bersemangat, antusias dan aktif
  2. Selalu berpikiran positif
  3. Sabar dan konsisten
  4. Sportif dan terbuka
  5. Ber-etika tinggi (sopan santun)
  6. Berpandangan luas dan obyektif
  7. Bicara dengan teratur, singkat dan jelas
  8. Bisa menjadi pendengar yang baik

 

Walaupun masih bisa ditambahkan lagi, tapi delapan butir poin yang ada d iatas saya rasa sudah cukup (bahkan mungkin berlebihan) jika dapat diterapkan sebagai acuan sikap kita dalam berdiskusi.

 

HAL-HAL YANG SEBAIKNYA DIHINDARI DALAM DISKUSI.

Walau mungkin dianggap terlalu muluk, tapi sebenarnya jika kita cermati secara dalam maka proses penggemblengan dalam SIU TAO ini, sebenarnya akan membawa dan menempatkan insan-insan TAO pada keberadaan yang sangat tinggi sehingga secara manusia dapat dikatakan sebagai manusia yang arif dan bijaksana.

 

Dalam hal ini faktor pikiran (cara dan pola berpikir) memang berperanan penting, akan tetapi harus pula disadari bahwa pikiran manusia juga dipengaruhi oleh sikap mental dan emosionalnya.

 

Walaupun diatas sudah ada poin-poin yang mungkin dapat dijadikan sebagai acuan umum bersikap secara positif, akan tetapi masih ada beberapa hal yang bersifat teknis yang sebaiknya dihindari dalam sebuah perdiskusian TAO, antara lain :

  1. Membicarakan, menilai dan memperbandingkan orang. Hal ini mungkin masih sering terjadi, akibatnya yang sering terjadi biasanya cuma menyinggung orang lain dan menimbulkan perselisihan.
  2. Membicarakan dan membandingkan mujijat-mujijat Kedewaan satu-sama lainnya. Jika dalam konteks kesaksian menimbulkan Keagungan Dewa demi mempertebal kepercayaan diri maupun kepercayaan pada Dewa maka hal ini adalah wajar dan sah saja. Akan tetapi jika fokus pembicaraan hanya berputar-putar pada hal-hal kegaiban saja dan dibahas tanpa juntrungan apalagi berlebih-lebihan, justru bisa membuat orang terjebak kearah pemikiran ketahyulan, dan jika kemudian asal dihubung-hubungkan dan diperbandingkan maka cuma membingungkan saja dan bisa-bisa mengganggu keyakinan kita sendiri bahkan orang lain (terutama yang junior/pemula).
  3. Menggunakan bahasa dan istilah yang tidak dimengerti orang lain. Kebanyakan orang yang saya jumpai (biasanya orang tua/senior) sering dalam diskusi menggunakan bahasa mandarin atau istilah-istilah tertentu yang menurut saya mungkin hanya untuk menunjukkan kemampuannya berbahasa dan ber-istilah, padahal dalam penjelasannya tidak lebih dari sebuah penterjemahan kata-perkata saja (bagi saya dalam hal ini kamus akan lebih akurat/menyakinkan).

    Tapi di sisi lain ada juga kelompok generasi muda yang mengaku berpendidikan tinggi dan sering menggunakan bahasa yang berbelit-belit serta istilah-istilah populer dan modern yang campur aduk sehingga sering cuma membingungkan saja karena ternyata tidak bisa menjelaskan apa maksudnya.

  4. Menggunakan ‘backing’ untuk memaksakan pendapat. Karena diskusi tidak terlepas dari suatu perdebatan, maka seseorang cenderung akan bertujuan untuk memenangkannya dengan menjadikan pendapatnya sebagai yang paling benar dan harus diterima semuanya.

    Dalam hal ini maka sering terjadi seseorang untuk memenangkan perdebatan menggunakan segala cara dan pada akhirnya menggunakan kata-kata orang lain yang dianggap lebih tinggi tingkatannya ( seniornya, Gurunya, bahkan ada pula yang mengatas namakan DEWANYA ) atau juga kutipan-kutipan dalam buku-buku / kitab yang ada untuk menutup / melawan pendapat orang lain. Sedangkan kata-kata yang diingat dan dihafal itu belum tentu dimengerti benar dan dapat dijelaskan, bahkan sering terjadi hanya mengutip sebagian kata-kata saja, padahal maksud kalimat secara keseluruhannya ternyata berbeda jauh. Jadi menurut saya yang terjadi hanyalah NGOTOT dan ASBUN (asal bunyi).

  5. Menganggap atau merasa yang paling benar adalah yang paling tua, paling senior, paling tinggi pendidikannya, paling keras suaranya, paling berani, paling tinggi kedudukannya dll. Sebagai orang timur yang berbudaya dan ber-etika, saya sering menghadapi situasi dimana saya meng”iya”kan pendapat seseorang (terutama yang lebih tua, lebih senior, lebih tinggi kedudukan dll) karena pertimbangan untuk menghormati, supaya tidak menyinggung perasaan, untuk menjaga suasana dll.

    Pertanyaan saya adalah : “Apakah hanya dengan mendengar jawaban ‘...iya....’ ini, maka berarti bahwa apa yang dikatakannya adalah sudah yang paling BENAR ?!?”
    Dan juga : “Apakah saya salah jika berhadapan dengan seorang yang ‘paling senior, paling tua, paling.....’, kemudian meng-iya-kan pendapat dan kata-katanya didepan orang banyak hanya karena pertimbangan untuk menghormatinya, memberi ‘muka’, menjaga suasana, menghindari pertentangan dan lain-lain ?”
    Kemudian : “Lalu sebenarnya bagaimanakah seharusnya sikap kita, jika berhadapan dengan orang yang lebih tua / lebih senior / lebih tinggi kedudukan / lebih ...... dari kita padahal pendapat dan kata-katanya salah ?”

    Menurut saya adalah sangat penting juga bagi kita dalam berdiskusi maupun berbicara untuk bisa menyadari posisi kita dan juga “siapa” lawan bicara kita.

    Dengan demikian maka masing-masing bisa memahami bahwa pendapat BENAR adalah tetap yang BENAR, sedang masalah setuju atau tidak setuju terkadang memang bukan 100% karena pertimbangan kebenaran dan keakuratan kata-kata atau pendapat itu sendiri.

  6. Sikap mengajari atau menggurui. Terlepas dari benar atau salahnya pendapat yang disampaikan, tapi jika suasana sudah mengarah ke sikap mengajari atau menggurui dan secara individu mendominasi semua pembicaraan, maka hal ini sebenarnya sudah bukan diskusi lagi.

    Dalam pandangan saya jika seseorang Taoyu sudah berbicara searah dengan gaya mengajari maka akan lebih tepat jika dikatakan berceramah / Ciang Tao dari pada berdiskusi.

    Tapi lucunya walau sering berhasil melakukannya, tapi kalau terang-terangan diminta untuk Ciang Tao dan berdiri didepan orang banyak maka umumnya semua yang “jago” mengajari dan menggurui itu pada kecut dan sakit perut, mungkin masalah utamanya adalah : faktor pengalaman dan kepercayaan diri. Walaupun Ciang Tao sendiri adalah hal yang baik, tapi saya tetap tidak setuju jika cara-cara ini dipakai waktu diskusi, sebab secara tegas diskusi itu sebenarnya berbeda dengan Ciang Tao (ceramah Tao). Di dalam sebuah diskusi kita juga harus menghargai hak orang lain untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatnya !!

  7. Menembak kepala orang. Mungkin ada yang mengira saya mengada-ada. Tapi secara pribadi saya sering melihat fenomena-fenomena seseorang menembak kepala orang lain dalam suatu diskusi atau pembicaraan (termasuk juga dalam diskusi Tao). Yang dimaksud dengan menembak kepala adalah dengan sangat agresif menyerang, bersemangat untuk mematahkan pendapat orang lain dengan segala cara bahkan dengan sengaja atau tidak sengaja mempermalukan orang di depan umum. Praktek yang sering terjadi adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan menjebak atau dengan menyinggung masalah pribadi dan lain-lain.

    Demikian sedikit pendapat saya mengenai permasalahan dalam berdiskusi, marilah kita berdiskusi !! Saya yakin jika dapat dilakukan dengan baik secara bertahap maka banyak manfaat yang dapat digali dari arena diskusi

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*