Intan Dalam Debu – the web

Pandangan Singkat Mengenai Gender Dalam SIU TAO

Posted by adminidb June 29, 2013, under Volume 5 | No Comments





Pandangan Singkat Mengenai Gender Dalam SIU TAO

Oleh: Lenny

 

Gender yang dimaksud adalah jenis kelamin. Jenis kelamin manusia terbagi dua yaitu jenis kelamin lelaki dan jenis kelamin perempuan.

 

Pengelompokan manusia dari jenis kelaminnya ini pada dasarnya dilakukan sebagai identifikasi secara fisik yaitu berdasarkan perbedaan struktur anatomi tubuh antara lelaki dan perempuan.

 

Perbedaan utama antara struktur anatomi tubuh lelaki dan wanita terletak pada fungsi dan struktur organ-organ sistim reproduksi / regenerasinya. Pada akhirnya perbedaan jenis kelamin menyebabkan suatu perbedaan yang cukup menyolok terlihat secara fisik.

 

Sejarah

Perkembangan peradaban manusia yang telah berjalan ribuan tahun bahkan lebih telah menempatkan wanita didalam struktur kehidupan pada posisi pendamping kaum lelaki secara alamiah. Hal ini terjadi bersamaan dengan terjadinya proses perkembangan peradaban itu sendiri setelah manusia mulai hidup berpasangan (akhirnya berkelompok), dimana kaum lelaki secara bertahap mulai mengambil alih tanggung jawab pribadi dari lawan jenisnya.

 

Kalau diteliti secara cermat sebenarnya yang terjadi lebih tepat dikatakan sebagai pembagian tugas dan tanggung jawab. Kaum lelaki karena tidak mengalami hambatan fisik secara alamiah dari sistim reproduksi / regenerasi yang dimilikinya, akhirnya menjadi terarah untuk bertugas dan bertanggung jawab dalam hal mencari makanan dan memberikan perlindungan pada pasangannya.

 

Sedangkan kaum wanita yang secara alamiah sering mengalami halangan sehubungan dengan sistem reproduksinya, akhirnya terbentuk dan terdidik untuk lebih banyak mengurusi hal-hal didalam rumah tangga (tempat tinggalnya).

 

Karena inilah maka perkembangan kekuatan fisik kaum wanita menjadi lemah dan justru sebaliknya kaum wanita lebih mengembangkan nilai-nilai feminimnya yang secara fisik menonjolkan kelemah-lembutan, kehalusan, dan kecantikan sebagai “daya tarik” terhadap lawan jenisnya, dimana juga sering digunakan sebagai “senjata” dalam bersaing.

Hal ini berkembang sehingga secara perlahan kaum wanita mulai tergantung kepada kaum lelaki karena kemampuan “mempertahankan hidup” nya secara fisik tidak terlatih.

 

Selain itu dilain sisi juga ditambah dengan berkembangnya dominasi kekuasaan dari kaum lelaki yang semakin kuat, sehingga lama-kelamaan keberadaan wanita secara ekplisit menjadi tidak setara lagi dengan kaum lelaki.

 

Bersamaan dengan itu tumbuh dan berkembang pula peradaban dan struktur tatanan kehidupan bermasyarakat yang justru semakin melegitimasi dominasi keberadaan kaum lelaki ini.

 

Akan tetapi justru karena kelembutan, kehalusan dan kecantikannya yang terus berkembang, kaum lelaki bagaimanapun tetap bergantung pada kaum wanita sebagai bagian dari proses regenerasinya.

 

Perlu diketahui bahwa proses-proses tersebut sealin secara fisik, juga mempengaruhi perkembangan mental dan kepribadian baik pada kaum lelaki maupun pada yang wanita.

 

Singkat kata perkembangan tersebut akhirnya menjadi seperti yang ada sekarang ini.

 

Permasalahannya

Bertolak dari kenyataan yang ada, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada saja pendapat-pendapat di dalam masyarakat (mungkin juga di lingkungan Taoyu) baik dari kalangan kaum lelaki maupun justru dari kaum wanitanya yang melihat bahwa perbedaan kodrati adanya jenis kelamin yang berbeda ini membawa dampak pula dalam masalah SIU TAO.

 

Pandangan yang umumnya masih ada itu yang paling ekstrem adalah bahwa hanya kaum lelaki yang  bisa berhasil dalam SIU TAO.

 

Sedang kelompok yang lebih kompromis berpendapat bahwa kaum lelaki lebih mudah berhasil dalam SIU TAO dibanding dengan kaum wanita.

 

Lucunya, pada tingkat intensitas yang kuat, pendapat seperti ini bahkan bisa muncul dan diyakini justru oleh sebagian dari kaum wanita itu sendiri walaupun mungkin jika dibandingkan tidak sebanyak kaum lelaki yang berpendapat demikian.

 

Mungkin pada awalnya pendapat-pendapat seperti ini berkembang hanya merupakan implikasi dari usaha subyektif dari kaum lelaki untuk menunjukkan superioritas kaumnya.

 

Akan tetapi dalam perkembangan lebih jauh sebagian kaum lelaki yang berpendapat demikian justru semakin memperkuat keyakinannya dengan memberikan argumentasi-argumentasi yang bersumber dari penafsiran-penafsiran (tentunya secara sepihak) dari ajaran TAO kearah yang mendukung dan memperkuat pendapat bahwa hanya kaum lelakilah yang dapat berhasil dalam SIU TAO, sedang kaum wanita tidak atau kalau bisapun akan sangat sulit.

 

Contoh argumen atau pendapat dan penafsiran yang mengatakan bahwa wanita lebih sulit atau bahkan tidak mungkin berhasil mencapai kesempurnaan dalam SIU TAO adalah sebagai berikut:

  1. THAY CIK melambangkan TAO, YIN (sisi warna hitam) membawa arti konotasi kejahatan; lemah; negatif yang juga mewakili kaum wanita, sedang YANG (sisi warna putih) membawa arti konotasi kebaikan; kuat; positif dan juga mewakili kaum lelaki. Jadi kaum lelaki lebih sempurna dibanding kaum wanita !?!
  2. Lelaki lebih berkemungkinan berhasil dalam SIU TAO karena dalam salah satu latihan TAO YING SUK, yaitu dalam latihan CHI KUNG-nya akan dapat sampai ketingkat TA DUNG REN TUK MEK, sedang wanita hampir dapat dikatakan tidak mungkin bisa, alasannya karena halangan fisik. Bahkan ada pendapat ekstrem yang mengatakan bahw wanita tidak mungkin bisa latihan CHI KUNG sama sekali, karena tidak memiliki TAN DIEN-nya !?!
  3. Wanita itu umumnya cenderung berpikiran irasional, berlawanan dengan lelaki yang sangat rasional, oleh karena itu otomatis lelaki itu WU nya lebih tinggi hingga bisa mencapai “Kesadaran Hakiki”!?!
  4. Wanita hampir tidak dapat mencapai tingkatan TAO yang tertinggi karena wanita umumnya tidak menguasai ilmu beladiri !?!
  5. Wanita lebih menggunakan perasaan dan emosional sehingga sulit untuk konsentrasi, maka otomatis akan sulit untuk melatih jiwa / sukma dengan CING CO !?!

 

Mungkin masih ada dan banyak pendapat-pendapat yang lainnya lagi.

 

Bagaimana tanggapan anda terhadap pendapat-pendapat tersebut....?

 

Bagaimanakah anda menjelaskannya....?

 

ARGUMEN VS ARGUMEN

(Untuk pendapat No.1)

 

Jika mau berdebat tanpa kompromi maka secara tegas akan saya katakan bahwa pendapat itu salah buesaaar !!!

 

Alasannya:

 

Walaupun THAY CIK melambangkan TAO tapi THAY CIK semata bukanlah TAO itu sendiri !!!

 

TAO itu Maha Agung, demikian besar dan luas meliputi segalanya.

 

TAO itu tak bercorak wujud dan tak bernama, bagaimana mungkin dapat diungkapkan dengan kata-kata atau bahkan hanya digambar dengan TAHY CIK !!!

 

Jadi, jika demikian maka bukan hanya argumentasi No.1 tersebut yang dapat dijatuhkan bahkan lambang THAY CIK itu sendiri dapat terancam keberadaannya serta patut dipertanyakan kebenarannya !!!

 

Apakah demikian.....? Bingung, khan !?!

 

Yach, beginilah jadinya kalau kita berdebat masalah TAO asal-asalan, hanya dengan mengandalkan kreatifitas, ketelitian dan kekritisan mengolah kata-kata dan bermodalkan secuplik kalimat-kalimat saja.

 

Lalu bagaimana....?

 

PENJELASAN SINGKAT

Karena menjadi ajaran, tentunya TAO itu harus bisa diekspresikan dan dijabarkan dengan baik untuk kepentingan antar manusia, oleh karena itu dibutuhkan alat komunikasi yaitu dengan bahasa yang ada. Untuk mengekspresikan TAO yang begitu bessar dan unik memang bukan masalah yang gampang, mungkin juga oleh karena itu ajaran TAO dalam Kitab-kitabnya (seperti dalam TAO TEK CING) banyak menggunakan bahasa sastra (syair-syair) yang memiliki arti dan pengertian konotatif yang dalam dan luas; hal ini juga tentunya merupakan pengaruh kebudayaan dimasanya.

 

THAY CIK ( YIN YANG ) memang merupakan salah satu pengertian penting dalam ajaran TAO yang kemudian gambarnya banyak dipakai sebagai lambang dari ajaran TAO.

 

Karena gambar THAY CIK ini sederhana dana mudah diingat dalam mewakili TAO, maka dapat dimaklumi juga jika akhirnya banyak orang mengidentikkan dan berasumsi bahwa THAY CIK adalah TAO.

 

THAY CIK ( The Absolute ) sendiri membawa pengertian dualisme dan perubahan yang menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini ada lawan atau pasangannya dan selalu berkembang, contohnya ada lelaki dan wanita, ada baik dan buruk, ada kuat ada lemah, ada hidup ada mati dan lain-lain seterusnya.

 

Nah, dari sini tentunya kita tidak dapat menyimpulkan hanya berdasarkan pengelompokan dari masing-masing sisi atau satu sisi sehingga menjadi lelaki itu baik, kuat dan hidup, sedang wanita itu buruk, lemah dan mati ?!? Tegasnya hal-hal itu tidak ada hubungannya.

 

ANTARA SIU TAO DAN GENDER

Saya tidak ingin berdebat memberikan argumentasi terhadap pendapat-pendapat yang ada di atas satu-persatu, karena hanya akan membuat kita terjebak dan terbawa arus pikiran bahwa memang ada keterkaitan secara langsung antara perbedaan gender dengan keberhasilan dalam SIU TAO.

 

Selain itu saya juga tidak ingin kita terlalu terikat hanya pada kata-kata atau kalimat secara baku untuk kemudian memperdebatkannya, karena yang penting bukanlah hafalnya tapi mengerti dan memahaminya. Yang jelas timbulnya pemikiran mengenai perbedaan gender itu sendiri tentunya dilatar belakangi oleh permasalahan dan hal-hal yang berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya.

 

PENGARUH LATAR BELAKANG

Berbicara secara umum dan berdasarkan kenyataan serta dengan memandang secara obyektif, tentunya dapat dimengerti bahwa timbulnya pemikiran-pemikiran berbau diskriminasi gender ini adalah juga merupakan produk serta konsekuensi dari proses evolusi peradaban dan kebudayaan serta tatanan sosial kemasyarakatan yang sudah berjalan demikian lamanya.

 

Perbedaan jenis kelamin yang pada awalnya hanya merupakan perbedaan fisik semata, setelah sekian lama sepanjang sejarah akhirnya memang memberikan dampak yang besar juga pada adanya perbedaan sikap mental, psikologi dan emosional pada kaum lelaki maupun pada kaum wanita.

 

BUKAN AJARAN TAO

Di dalam ajaran TAO tidak ada pernyataan maupun penjelasan baik secara implisit maupun eksplisit yang menyatakan adanya hubungan langsung keberhasilan dalam SIU TAO dengan perbedaan gender baik secara umum maupun yan spesifik, ini membuktikan bahwa memang ajaran TAO tidak mempermasalahkan hal tersebut.

 

Bahkan jika kita menyelaminya, maka kita dapat merasakan keagungan ajaran TAO yang begitu universal, dimana TAO itu dengan begitu Agung tidak membeda-bedakan bulu bangsa ( manusia ). Dengan teori Yin Yang justru keberadaan lelaki dan wanita seharusnya dipandang sebagai unsur-unsur alamiah yang saling mengisi dan melengkapi untuk menuju kesempurnaannya masing-masing.

 

TAK DAPAT DIBANDINGKAN

Jika SIU TAO adalah proses untuk mencapai kesempurnaan, maka ukuran keberhasilan seseorang baik itu lelaki maupun wanita didalam proses SIU TAO, adalah dari pencapaian tingkatan kesempurnaannya atau mendapatkan TAO nya masing-masing.

 

Untuk mencapai kesempurnaan dan mendapatkan  TAO ini melalui proses SIU SING YANG SING ( Revisi jiwa dan raga serta pikiran ) yaitu dengan terus memelihara, meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik, moralitas jiwa serta kesadaran pikiran yang juga dibarengi dengan upaya menghilangkan  segala keburukan dan kelemahan yang ada dengan cara-cara mendekatkan diri ke Dewa.

 

Selain itu kita juga jangan pernah lupa bahwa penilaian keberhasilan seseorang dalam mendapatkan TAO nya bukanlah dari penilaian manusia melainkan adalah penilaian langsung oleh DEWA yang menilai seseorang secara keseluruhan yang utuh (over all) dengan adil.

 

Dan jika dibandingkan maka lelaki maupun wanita akan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang merupakan harkat alaminya yang pada akhirnya tidak dapat dan memang tidak perlu dibandingkan juga.

 

TIDAK ETIS

Oleh karena itu akan sangat berlebihan dan tidak etis secara moral, jika ada sekelompok manusia (dalam hal ini kaum lelaki) yang mencoba untuk menilai dan kemudian membatasi kemungkinan pencapaian TAOnya sekelompok orang lain (kaum wanita) dengan cara apapun.

 

Apalagi dalam mengembangkan pendapatnya ini dengan memanfaatkan dan menekan pada perbedaan-perbedaan fisik semata yang merupakan hal kodrati dan alamiahnya yang sebenarnya bersumber dari TAO itu sendiri.

 

Apakah hal ini secara tidak langsung bukan suatu bentuk pelecehan terhadap TAO itu sendiri sebagai penciptanya !?!

 

Atau apakah memang ada TAO lainnya yang lebih Agung yang khusus menciptakan kaum lelaki sehingga menjadi paling sempurna dan bebas cacat !?!

 

Lho, mungkin aja ...ya!

 

Bukankah ada istilah Siau Tao (Tao kecil) dan Ta Tao (Tao besar) ?!?

 

Wah, kalau dibahas sampai begini sich, berarti anda adalah: “Jaka Sembung Bawa Golok !” yang artinya : enggak nyambung, he...he...he....!

 

Jangan marah ya !

 

Cuma bercanda kok, supaya tidak ngantuk.....!

 

Kesimpulan

Terlepas dari benar dan salahnya semua pendapat mengenai perbedaan gender dalam SIU TAO termasuk contoh-contoh diatas. Jika kita mengorek dari sisi “untuk apa ?” (manfaat) maka hasilnya adalah bahwa semua pendapat tersebut tidak ada pengaruh dan manfaat positifnya dalam SIU TAO bagi kaum lelaki itu sendiri baik untuk perorangan maupun kelompok.

 

Yang tercermin justru hanyalah sikap arogan yang diskriminasi ekstrem, atau pada level yang lebih dapat ditolerir adalah “Cuma” mengesankan sikap over acting karena kekurangan pengertian atau untuk menutupi kelemahan saja.

 

Jadi kesimpulan akhirnya adalah : berpikir dan berpendapat bahwa ada perbedaan gender dalam SIU TAO adalah pekerjaan yang tidak ada manfaat positifnya.

 

TAO yang Agung akan tetap Agung, manusia “sadar” atau “tidak sadar” tak akan mempengaruhi Keagungannya.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*