Intan Dalam Debu – the web

Kejujuran ! (Bertanya pada diri sendiri)

Posted by adminidb July 12, 2013, under Volume 6 | No Comments




Kejujuran ! (Bertanya pada diri sendiri)

Dari : Hendra

 

ARTI JUJUR

Jujur jika diartikan secara baku adalah “mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”.

 

Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakanseseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi.

 

Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, bohong, munafik, atau lainnya.

 

Kenapa harus jujur ?

Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang / dikasihi oleh Tuhan.

 

Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: “Kenapa jadi orang harus jujur?”.

 

Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa “Pokoknya jadi orang harus jujur !”.

 

Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap “benar”, tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: “Kenapa orang harus jujur ? Apakah baik dan positifnya ? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses SIUTAO kita ?”

 

Bagaimana bersikap jujur ?

Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: “ Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang taoyu yang jujur ?”

  • Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong ?
  • Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini ?
  • Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu ?

 

Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama !

 

CONTOH YANG “LUCU” (dibaca: tidak jujur): Dalam kehidupan segari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial si masyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:

Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata “Oh, tidak apa-apa ! Anak pintar, enggak sakit, kok ! Jangan nangis, yach !”.

 

Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat “berbohong”, menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).

 

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu ke rumah orang lain, ketika ditanya : “ Sudah makan, belum ?”. Walaupun dia yakin tawaran sang tuan rumah “serius” biasanya dengan cepat dia akan menjawab “Oh, sudah !! Kita baru saja makan”. Padahal sebenarnya sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang “tanpa untung” atau “bahkan rugi” hampir bisa diyakini pasti bohong.

  • Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu ?!?
  • Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari ?

DALAM SIUTAO

  • Apakah belajar Tao mengejar Kesempurnaan harus tidak pernah berbohong sama sekali?
  • Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau “harus” bertopeng ?
  • Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini ?

 

Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah “Jujur”, tapi akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: “Apakah saya tidak membohongi diri sendiri ?”

 

Lalu bagaimanakah sebenarnya ? Nah, semoga para pembaca budiman bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur, lho !).

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*