Intan Dalam Debu – the web

Dongeng : Asal Muasal Alam Semesta

Posted by adminidb July 30, 2013, under Volume 7 | No Comments





Dongeng : Asal Muasal Alam Semesta

Diceritakan kembali oleh : Daniel Li

 

Catatan dalam untaian bambu yang disebut Yih menceritakan bagaimana para naga tersebut menjadi naga yang sekarang kita lihat gambarnya itu. Pada awal muasalnya, para nga itu hidup di dalam lautan yang dalam, tapi mereka ingin menggapai sinar terang yang berada di langit. Lalu mereka berenanglah ke permukaan laut, merayap di pesisir pantai untuk kemudian menjelajahidaratan. Mereka terpesona melihat matahari, tapi tak terasa begitu hari mencapai senja kulit mereka telah terbakar oleh teriknya sinar matahari.

 

Oleh karena itu dengan kesaktiannya, para naga tersebut meloncat terbang ke lagit untuk menahan matahari agar tidak tenggelam ke lautan. Namun apa yang terjadi, mereka tak berhasil menggapainya. Akhirnya terjatuh kembali ke bumi dalam lahar yang menyala-nyala. Akibatnya ketika mereka keluar kembali dari dalam lahar tersebut, tubuh mereka telah berubah menjadi apa yang nenek moyang dari ikan, binatang menyusui dan bangsa burung.

 

Bagian kedua dari buku Yih menceritakan bagaimana evolusi terjadinya manusia.

 

Pada awalnya isi dunia ini berada dalam sebuah karung yang diikat. Pertama-tama muncul bumi, pertama-tama lurus kemudian menjadi persegi kemudian bulat. Kemudian muncullah naga-naga dimana peta rahasia menyimpan untaian rahasia. Segera bumi menjadi beku dan musim dingin sudah ditangan. Naga-naga yang tua berjuang dengan liarnya; darah mereka menjadi golok dan batu amber. Terciptalah makhluk  berkaki dua yang disebut manusia mengenakan pakaian terbuat dari emas. Karung kuning yang mengurung alam semesta menjadi diam, tapi sekarang menjadi pakaian dari segala macam ‘karung’ hidup yang terdiri dari darah dan daging.

 

Bab I

“Burung suci di gunung surga melambangkan karung kuning, mengeluarkan sinar yang mengerikan, memiliki besar 6 kaki dan 4 sayap, tapi tanpa wajah dan mata” (Dongeng mengenai Gunung dan Laut)

 

Karung yang terikat

Kala itu alam semesta masihlah tiada. Tiada waktu tiada ruang, segalanya serba tiada. Dalam tiada yang tak pernah kita bayangkan. Sampai suatu saat dalam hitungan aeon tahun, muncullah setitik debu badai galaktik yang amat sangat kecil melebihi segala sesuatu yang kecil, berbentuk bagaikan mata yang membuka dan mengeluarkan sinar yang berkilat-kilat. Lalu keluarlah sebuah makhluk yang bukan makhluk yang disebut Hun Tun, si lapar. Ia memakan segalanya, termasuk segala macam benda galaktik yang baru tercipta lenyap kemudian mucul lagi, berselang-seling tiada hentinya. Masuk ke dalam mulutnya kemudian keluar lagi dalam bentuk yang berbeda. Ia juga memakan ruang waktu, sehingga ruang waktu maju mundur berbentuk tidak keruan. Ia adalah monster pemakan segalanya.

 

Sekarang benih dari HunTun tumbuh dimana-mana. Ia berkembang biak melebihi kemampuan serangga yang paling subur sekalipun. Ia bisa muncul di sembarang tempat dan sembarang waktu, dalam kehampaan yang tanpa bentuk. Ia adalah anak-anaknya, dan anak-anaknya adalah dia. Ia berkembang menjadi jutaan, milyaran namun terlihat hanya memiliki satu badan.

 

Ia tumbuh menjadi besar sampai tubuhnya mengandung kekosongan besar, bagaikan sebuah kantong yang menggembung bagai angka 8 yang mirip dengan buah yang disebut Hu Lu. Ribuan aeon (1 aeon=1 juta tahun) untuk menjadikan tubuh makrokosmosnya.

 

Huntun terletak di antara bintang-bintang nun jauh disana tak terlihat karena tiada seberkas cahaya pun yang lolos darinya. Hanya kegelapan saja yang tampak di antara bintang-bintang.

 

Tubuhnya bagaikan sebuah karung mega raksasa berisi ruang. Di luar tubuhnya adalah dalam dirinya dan di dalam dirinya adalah di luar dirinya. Bagaikan membalikkan isinya dari dalam ke luar, tinggi menjulang tapi mencapai kedalaman yang dalam.

 

Bintang-bintang dan matahari bersianr tapi tak nampak cahaya, disedot menjadi bagian yang hilang. Hun Tun menelan lautan galaktik. Segala makhluk aneh yang baru tercipta termasuk naga petir pun terhisap kedalam perutnya.

 

Adalah Shu, intisari bintang dari Utara dan Hu intisari bintang dari Selatan, terkurung di dalam kedalaman samudera yang telah berada di dalam perut Huntun. Ketika mereka mengamati, maka berusaha mencari lubang maupun celah untuk keluar, tapi satu pun tak terdapat. Bahkan suara pun tiada. Kita memiliki tujuh lubang, hitung mereka, “untuk melihat, mendengar, makan, bernafaas.....namun ia.....”, mereka merangkak ke kepala Huntun, “tidak memiliki satupun”.

 

“Kita harus memotong, harus menggali.....” mereka memutuskan, kemudian mulailah mereka menyatukan hawa murninya, melipatkan ruang waktu menggabungkan  maha-kutub Utara dan Selatan, untuk menciptakan sebuah terowongan di tengah kehampaan. Namun kehampaan itu sungguh gelap, oleh karena itu mereka  mencari penerangan. Melalui nafas mereka muncullah pendengaran, dan penglihatan.

 

Dan ketika Hun Tun baru saja akan menyadari,.....sebuah celah sebesar jarum membocorkan segala isinya berhamburan keluar ke angkasa. Lihat! Gemerlapan bagaikan perak, jadilah bintang-bintang yang tidur dalam seribu lautan!

 

Kemudian ketika tusukan kedua dilakukan , maka muncullah sinar yang gemerlapan, tercium segala macam jenis bau-bauan dan rasa. Tubuhnya bagaikan balon yang ketika ditusuk terlihat dari luar menyusut menjadi kecil, tetapi bila dilihat dari dalam mengembang bertambah besar. Alam semesta di dalam perutnya meruntuh ke dalam melalui terowongan itu menuju keluar. Bintang-bintang yang keluar mulai memancarkan cahayanya kembali. Huntun tersiksa ketika setiap kali sorotan sinar muncul. Sinar adalah kekayaan yang mendua, panah cinta, kilatan kemarahan....yang mana ia tak dapat lagi padamkan.

 

Sinar telah mencincangnya. Disampingnya adalah gumpalan awan yang sangat besar. Sebuah alam semesta baru yang tercipta secara tiba-tiba dan tak terperkirakan. Yang mana tak luput dari kegelapan pekat dan marabahaya. Mengambil naga dengan badai. Mereka terpukul menjadi tak sadar. Oleh gelombang luapan emosi. Huntun meledak runtuh ke dalam, mennyedot Shu dan Hu ..... dalam sebuah pusaran berbentuk kerucut raksasa yang gemuruh. Tak sebutir titik debu pun yang lolos. Huntun meledak dengan dahsyat memperlihatkan awal muasal bumi yang tidak pasti ini. Tujuh tiupan dan tujuh sangsakala berbunyi dalam kepala Huntun.

 

Bab 2

Banku dilahirkan

Lurus dan Kotak

Marilah kita mengalihkan pusat perhatian kita ke bumi yang telah tercipta. Setelah beberapa detik aeon keheningan. Banku muncul. Sebuah makhluk yang penuh dengan paradoks. Kerdil tetapi raksasa. Kulitnya berwarna keemasan dan keperakan. Ia memakai mahkota bermotifkan bintang-bintang....bersinar, bagaikan lampu mercusuar yang menerangi kakinya yang bagaikan perahu. Menjadi saksi langit yang berada diujung jarinya bagaikan sebuah sulaman kain tebal. Yang menyelubungi tangan-tangannya yang kekar, sebuah telur yang berisikan dua janin, sebuah bongkahan ....... bagaikan tungku tuang besi yang berpusar..... berisikan Yin dan Yang. Ia mencoba matanya........ kilasan matanya berkilat-kilat bersinar menerangi ruang angkasa yang berbentuk bagaikan kepompong ulat sutera.....yang mana adalah merupakan penjaranya.

 

Meskipun demikian Banku tidak merasa memiliki keterbatasan; ia berteriak bagaikan guntur yang menyambar-nyambar kemudian menyerang. Selama 18.000 tahun ia menempanya dengan sebuah tiang pancang. Setiap inci yang ia dapatkan, maka tubuhnya bertambah besar. Tanpa ragu-ragu, ia berjongkok, kemudian melompat, dan dengan pedang sinarnya ia merobek kantung itu.

 

Tetapi peristiwa yang dahsyat ini membunuhnya. Kekagetan dunia membelahnya menjadi celah 90.000 mil. Melumpuhkan kaki Banku, ia terjatuh terjengkang ke belakang. Timbullah suara beradu ketika ia jatuh telentang, kedua tangannya membuka bagaikan sayap elang. Tepat pada nafasnya timbullah angin, yang berbentuk bagaikan awan menjadi kilatan-kilatan di mulutnya. Lubang hidungnya menyala-nyala, kilat menyambar-nyambar bersuara bagaikan guntur.

 

Salah satu matanya bersinar. Menerangi kegelapan jatuh bagaikan tirai darah. Kemudian ia menyibakan matanya yang lain. Dunia pun bergetar dalam kegelapan malam. Tubuh Banku sekarang mengambang di kekosongan. Tangan dan kakinya telah menjadi akar dalam posisi yang berkebalikkan. Lengan dan kaki bagaikan sayap, mengembang di punggungnya mengarah ke belakang. Untuk mengungkungi bumi baru dan lautan. Lututnya menekuk ke atas menjadikan gunung-gunung dan puncaknya. Siku dan tangannya bagaikan menyeka ke bawah. Dari wuwungan tubuhnya yang kotak dan bulat, muncullah tanah yang subur. Rambutnya bagaikan bambu yang menari-nari. Butiran keringatnya menjadi batu giok, dan tambang batu mulia dan logam. Pembuluh darah, gelombang gunungan, bagaikan celah-celah dan jurang. Sungai-sungai merupakan aliran keringatnya.

 

Tak lama kemudian muncullah segerombolan makhluk yang riuh, bagaikan suara yang berdengung-dengung, memenuhi seluruh pelosok penjuru. Terdiri dari milyaran jenis dan kelompok yang bernama-nama. Yang terdiri di atas 2 kaki, manusia yang berambut hitam, ditakdirkan untuk mewarisi bumi kuning. Warisan peninggalan Banku.
(bersambung di edisi mendatang)

 

Diceritakan kembali oleh : Daniel Li

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*