Intan Dalam Debu – the web

Misteri Butterfly Effect

Posted by adminidb August 5, 2013, under Volume 7 | No Comments





Misteri Butterfly Effect

Oleh : Daniel Lie

 

Mengapa Mereka Masih Belum Mampu Meramalkan Cuaca Besok ?

 

Awan badai tornado yang mendekati sebuah lahan pertanian di Plainfield, Illionis, AS pada tanggal 28 Agustus 1990. Hanya dalam waktu 25 menit, badai menghantam areal seluas 16 mil dengan begitu dahsyatnya meluluh-lantakan hampir kurang lebih 500 rumah. Sebuah radar cuaca modern yang dikelola oleh Pelayanan Cuaca Nasional, hanya berjarak 30 mil dari Plainfield tapi gagal meramalkan perubahan cuaca tersebut. Di jaman yang superkomputer yang begitu canggih seperti sekarang ini, dalam sebuah algoritma kompleks yang mampu mengelola bermilyar-milyar kode informasi dalam waktu sekejap..... ternyata teknologi masih belum mampu memprediksikan tingkah laku alam secara tepat.

Berdasarkan hukum Newton, sebuah batu yang dilemparkan seseorang dapat diperkirakan tempat jatuhnya berdasarkan besarnya gaya, sudut elevasi, friksi udara, dll. Tetapi bila seseorang tersebut menendang seekor anjing, apakah yang terjadi? Tidak dapat secara pasti dikatakan; anjing tersebut dapat lari, ataukah mengaing, ataukah diam, ataukah menggigit? Tak seorang pun yang tahu dapat secara pasti memprediksikan sebelumnya. Tingkah laku yang tak terprediksi ini merupakan salah satu esensi dari sistem non linear, teori mekanika kuantum, teori chaos – sebuah teori mutakhir yang menyebabkan runtuhnya paradigma reduksionis Cartesian dan memaksa manusia untuk membuka kembali ‘kuburan antik’ dari Timur. Berdasarkan paradigma ilmu pengetahuan pada era sebelum 1950, orang percaya bahwa sesuatu haruslah logis dan dapat dipecahkan oleh logika, tetapi dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi.....manusia semakin tercengan-cengan oleh keajaiban alam. Banyak yang telah ditemukan, tetapi justru semakin banyak pula yang harus dipertanyakan. Alam tidak sesederhana seperti yang pernah dikira. Para pemikir di Barat dengan budaya ilmiahnya yang logis dan linier mulai melirik ke alam pemikiran Timur yang intuitif, sirkular dan dinamis.

Baru-baru ini, para ahli dalam sebuah bidang pengetahuan Teori Kekacauan (Chaos Theory) mengemukakan sebuah Teori Efek Kupu-kupu (Butterfly Effect). Teori ini mengatakan bahwa perubahan sekecil apa pun dalam sebuah keseimbangan sistem, akan menyebabkan perubahan-perubahan yang berlangsung terus hingga mencapai sebuah sistem kesetimbangan yang baru. (Bagi anda yang tertarik untuk melihat program simulasi dari Butterfly Effect, dapt me-running-nya dari : http://www.cmp.caltech.edu/~mcc/chaos_new/Lorenz.html). Hadirnya teori ini telah mengubur mimpi untuk menghasilkan peramalan yang tepat dengan metode-metode ilmiah & teknologi yang ada pada jaman ini.

Kita dapat tahu secara pasti bahwa tidak ada musim panas di Kutub, atau salju di padang pasir. Tetapi pola cuaca tidak dapat diramalkan dalam jangka panjang. Cuaca dipengaruhi oleh begitu banyak faktor yang kompleks, yang menurut teori Efek Kupu-kupu- apabila terbukti benar, maka sebuah pusaran angin yang berasal dari kepakan sayap seekor burung kecil di samudera Hindia dapat merupakan salah satu faktor pengaruh dari badai besar di Tokyo yang pada selanjutnya akan mempengaruhi tingkat hujan di New York......... 2 minggu kemudian!!! Apakah makna dari semua ini?

Inilah yang dikatakan “manusia takut akan akibat, tetapi dewa berpikir tentang sebab

Contoh yang menarik untuk ditimba adalah mengenai masalah feng Shui. Apakah Feng Shui memiliki relevansi dalam kehidupan modern kita? Ataukah itu hanya sebuah tahayul saja yang perlu dibuang jauh-jauh?

Secara jujur, saya sendiri tidak tahu pasti jawabannya. Tetapi sikap skeptis yang sehat menyebabkan saya cenderung untuk mengambil sikap menyelidikinya terlebih dahulu sebelum menerima atau menolak mentah-mentah terhadap segala sesuatu hal.

Fengshui untuk sampai suatu level tertentu masih memiliki kadar ilmiah. Tetapi ada juga bagian-bagian yang masih gelap karena tidak memiliki dasar keilmiahan yang jelas. Meskipun demikian, sampai suatu taraf tertentu kita bisa mengumpulkan suatu dukungan data empiris untuk melihat hubungan antar peristiwa yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Meskipun demikian, masih dapat merupakan suatu hubungan korelasi, walaupun belum memiliki kerangka teorinya.

Faktor pengubah itu boleh jadi tidak memiliki korelasi secara langsung terhadap elemen perubahan tersebut. Bila anda mengubah letak pintu anda, mungkin saja bisa mengakibatkan beragam hal yang tampaknya tidak berhubungan dengan itu. Apakah hal ini suatu tahayul? Entahlah, yang jelas perubahan pintu menyebabkan cara anda masuk pintu sudah berubah, dan kondisi ruangan / pengaturan ruangan juga berubah. Sejauh mana kondisi psikologis manusia berubah dengan adanya pengaturan ruangan yang berbeda juga perlu diteliti  lebih lanjut. Perubahan kondisi psikologis penghuni rumah akan berpengaruh terhadap pola istirahat dan kinerjanya. Dalam jangka panjang, maka perubahan yang seakan tidak berarti ini akan memberikan pengaruh yang nyata dalam hal misal: keberuntungan materi orang tersebut.

Pemikiran diatas memiliki dasar ilmiah yang disebut Teori Kompleksitas, seperti yang dikembangkan oleh Santa Fe Institute. Teori ini menjelaskan bagaimana sebuah sistem yang muncul dari suatu keadaan yang acak (random) dan kacau (chaos) tetapi kemudian menghasilkan  suatu kesetimbangan yang kompleks. Hal ini telah menjadi sebuah sendi dari studi mengenai tingkah laku binatang, perilaku organisasi dan sistem kekebalan tubuh, dsb.

“Semua sistem- obyek atau fenomena memiliki kualitas struktur internal yang berinteraksi satu dengan yang lainnya”, kata Liu Yanchi. “Interaksi ini menghasilkan suatu gerakan – dalam yang konstan, dan dapat diprediksi. Semua sistem dalam alam semesta memiliki kesamaan  kualitas struktural dan mengikuti suatu pola gerak tertentu. Oleh karena itu, adalah memungkinkan untuk menggunakan suatu kualitas yang terlihat dari sebuah sistem yang jelas untuk menganalogikannya pada sebuah sistem lain yang kurang jelas atau tersembunyi”.

Pernyataan dari seorang pakar sistem di atas dapat merupakan batu pijakan awal untuk menyelidiki lebih dalam kadar keilmiahan dalam teori TAO, misalnya: perihal Wuxing  (lima unsur), teori bilangan (biner, oktal, heksadesimal) yang merupakan landasan dari teknologi komputer juga sudah terdapat pada teori bilangan Cina kuno yang terangkum dalam Yi Jing atau juga dalam teori Bagua.

Oleh karena itu, sebuah paradigma baru yang seimbang antara Barat dan Timur, perpaduan antara filsafat, ilmu pengetahuan dan unsur-unsur budaya diperlukan untuk memampukan kita mengamati dunia dan alam semesta secara lebih seksama. Penguasaan teknologi bersama-sama dengan kemampuan apresiasi yang dalam terhadap kenyataan alam akan mengarahkan potensi manusia untuk berkembang sepenuhnya di era Aquarian ini.

Hukum alam bukanlah kekuatan yang berasal dari luar, tetapi mewakili sebuah keselarasan gerak yang terdapat di dalamnya. – Yi Jing

 

Oleh : Daniel Lie

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*