Intan Dalam Debu – the web

POHON YANG KERING TAK AKAN BERBUAH

Posted by adminidb July 25, 2013, under Volume 7 | No Comments





POHON YANG KERING TAK AKAN BERBUAH

Oleh : Daniel Lie

 

Tak berselang lama ini, ketika berkunjung ke satu daerah, salah seorang kawan meminta saya untuk memohonkan pesan dari Shen. Di depan altar Thay Sang Lauw Cin saya mendapatkan gambaran sebagai berikut:

 

Tegak berdiri pohon yang gagah, namun kering tanpa daun di tengah-tengah padang kering dalam kemarau yang terik.

Kasihan, hidup tidak, mati pun tidak....

Tiba-tiba mendung datang, dan turun hujan gerimis yang lama-lama menjadi deras.

Cuaca seketika menjadi sejuk dan damai, rumput-rumput dan kuncup-kuncup daun mulai bermunculan disan-sini, lalu tumbuh bunga-bunga dan buah-buah yang ranum.

 

Ketika itu, saya hanya bisa memberikan penafsiran yang seadanya saja, namun dalam perenungan selanjutnya, semakin mengertilah saya makna dari petunjuk Shen tersebut. Pesan tersebut merupakan pesan juga kepada Taoyu-taoyu semua.

 

Kita sebagai kaum Siu Tao tentu saja boleh merasa bangga dan bersyukur atas kejodohan kita untuk bisa belajar Tao ini. Namun janganlah terburu-buru merasa takabur dulu. Sudah bisa maju selangkah dua langkah bukanlah berarti perjalanan ini sudah selesai. Perjuangan dan pembinaan diri kita ini masih panjang untuk mencapai Taonya.

 

Kalau di perumpamakan, masing-masing dari diri kita adalah bagaikan sebuah pohon yang ditanam pada kondisi yang berbeda-beda. Bibit yang tumbuh di tanah yang subur akan lebih sehat dan cepat berkembang. Kita semua bertumbuh namun kematangannya tidaklah sama. Pohon yang sehat akar-akarnya kuat sehingga tidak mudah roboh tertiup badai. Batangnya lentur menari-nari mengikuti irama angin. Daun-daunnya rimbun meneduhi sekitarnya, dan buah-buahnya pun ranum dan lezat. Pepohonan yang tumbuh dikawasan yang lebat, tanahnya gembur, daunnya dapat menjadi pupuk bagi tanaman-tanaman lain yang baru tumbuh. Pohon yang satu menjadi pelindung dari pohon yang lainnya. Pepohonan yang rindang menjadi tempat berteduh bagi segala makhluk lainnya. Itulah manfaatnya hidup berdampingan, damai, dan bersatu.

 

Namun musim pun datang silih berganti, cuacapun berubah secara alami. Pepohonan yang lebat di daerah yang subur akan mampu menahan musim kemarau yang datang, daerah yang kurus akan menderita karena kekeringan, malahan lama-lama dapat menjadi padang pasir. Kalau sudah kering kerontang apakah bisa bertumbuh lagi? Apalagi bisa berbuah baik?

 

Perumpamaan tersebut mengandaikan kita sebagai orang yang Siu Tao. Kehidupan kita dalam dunia ini adalah sebagai layaknya manusia yang lain. Susah-senang sudah merupakan bagian sehari-hari. Namun bila kita kuat imannya, ombak kehidupan ini tidak akan menenggelamkan perahu kita. Kita sebagai orang Tao, sesungguhnya harus merasa bersyukur bahwa kita memiliki hubungan pribadi dengan Shen. Shen akan membantu kita dalam kesulitan-kesulitan dan meringankan beban kita. Tapi syaratnya sudahlah jelas, bahwa kita hidup mengikuti aturan Taonya.

 

Sumber kekuatan

Kebanyakan dari kita, lupa akan hal ini. Siapa sih yang tidak ingin memajukan Taonya?! Tapi banyak yang lupa bahwa kita tidak bisa hanya semata menuruti kemauan diri sendiri. Percaya diri itu dasar dalam kita Siu Tao, tetapi bukan berarti semata-mata mengandalkan pikiran diri sendiri (sombong, keras kepala). Bagaikan sebuah pohon, bagaimana bisa tumbuh baik bila tidak adanya sumber mata air yang menghidupi? Bagaimana bisa berkembang bila tidak dikarunia hujan / cuaca yang baik? Sumber mata air mengandalkan sumber kebijaksanaan dan pengertian Tao, oleh karena itu harus selalu tekun menimba pengertian Tao-nya. Hujan / cuaca yang baik juga berarti berkah dan bimbingan dari Shen, oleh karena itu kita perlu ingat juga bahwa segala sesuatunya ada juga faktor takdir dan berkah dari Shen. Untuk itu kita sebagai kaum siu Tao, apalagi mereka yang diberi kesempatan untuk membantu menjadi pengurus, perlu kerendahan hati dan kepercayaan yang mendalam, oleh karena itu tidak boleh tinggalkan sembahyangnya, rajin lian, mohon bimbingan dan petunjukNya, barulah bisa rileks dan berkah anugerahNya akan mengalir dengan derasnya.

 

Pada suatu waktu ketika saya mengalami masalah yang cukup berat, saya berkesempatan meminta nasihat kepada sefu. Beliau memberikan nasihat : “berdoalah, mintalah petunjuk kepada Shen agar diberikan pandangan yang jernih, mintalah bimbingan dari Shen agar melakukan tindakan yang benar, biarkanlah hidup mengalir damai bagaikan air jernih nan anggun”.

 

Pada saat itu, saya tidak habis mengerti mengapa harus melakukan itu, karena saya merasa bahwa bukanlah saya yang ‘salah’ tetapi dunialah yang tidak adil kepada saya. Dalam hati ini masih menyala api kemarahan dan keinginan untuk ‘membuktikan’ siapa salah – siapa benar.

 

Tetapi sakit hati itu hanya menumbuhkan kebencian dan geram. Kebencian dan geram itu pada akhirnya hanya merongrong diri sendiri dan menumbuhkan rencana-rencana jahat. Tak lama kemudian saya menyadari hal hal itu dan mengikuti petunjuk Shifu. Saya merilekskan diri (seperti ‘pasrah’ tapi tidak ‘menyerah’ / tetap optimis); percaya bahwa Shen menuntun saya tetapi tetap memiliki jati diri. Sekarang saya menyadari, bahwa selama tahun-tahun berikutnya, Shen menuntun saya dengan cara yang heran, sehingga hati ini akhirnya sejuk dan bisa menerima semua itu. Malahan pengetahuan dan kebijaksanaan pun semakin berkembang. Bekas luka hati pun malahan berubah menjadi semacam ‘pencerahan’ untuk memajukan diri. Pengalaman yang menyakitkan itu bagaikan pil pahit yang mengobati kelemahan dan kebodohan jiwa saya.

 

Memelihara hati

Dalam Siu Tao ini kita sedang membina Yuanshen (jiwa) kita untuk mencapai Tao-nya. Ibarat menanam sebuah pohon kebenaran, tentu kita harus rajin merawat, mengairi, memberikan pupuk, menyiangi terhadap hama-hama dan benalu. Sudah menanam bibit tapi membiarkannya begitu saja, tidak merawatnya adalah sama saja membiarkan benih yang baru tumbuh itu layu, kekeringan, atau dimakan serangga dan burung-burung.

 

Oleh karena itu, untuk para Taoyu baru: janganlah segan datang berkumpul untuk bertanya dan belajar kepada Seshiung-seshiung-nya, mendapatkan makanan rohani dengan membaca Ciang Yi, rajin berdoa dan berlatih mohon kekuatan dari Shen.

 

Sedangkan untuk para Taoyu yang terlibat aktif dalam mengembangkan Tao: berorganisasi boleh tapi janganlah lupa memberikan sari makanan kepada jiwanya dengan cara mendalami pengertian-pengertian Tao-nya, memperbaiki hati dan tingkah lakunya (Siu Sin Yang Sin).

 

Ingat, bahwa sudah di Taoying belum berarti sudah otomatis Siu Tao secara benar (apalagi dikatakan mendapatkan TAO-nya), kecuali bila dengan kemauan usaha dan komitmen untuk melaksanakannya. Siu Tao tidak bisa cepat-cepat atau instan mau sukses, tapi perlu kesabaran. “ Tao dapat menunjukkan jalan, tetapi tidak dapat mewakili untuk berjalan “.

 

Sebuah catatan khusus perlu saya berikan kepada mereka yang berniat untuk menyumbangkan diri mereka untuk Tao. Tujuan mngembangkan Tao adalah baik, namun bila kita tidak berhati-hati maka kita dapat menjadi ‘pohon di musim kemarau kering yang panjang’. Semangat mengembangkan Tao tidak diimbangi dengan pengertian, motivasi dan teladan yang benar akhirnya hanya menciptakan ‘jerat buat diri sendiri’.

 

Seperti misalnya ingin menanam 1000 batang pohon namun tak sanggup merawat, mengairi dan memupuknya sehingga benih-benih yang baru mulai tumbuh tersebut mati. Andaikan benih itu adalah bibit yang buruk, itu tidak ada masalah. Tetapi maksud saya, benih-benih yang baik pun menjadi tidak terawat baik karena ‘kemarau’ / kelalaian yang kita ciptakan sendiri.

 

Manusia bukanlah angka atau mesin yang bisa melulu dikelola dengan program ataupun sistem. Jadi, apakah manfaatnya sekedar mengejar angka / jumlah banyak-banyak!? Tao tidak akan menyeberangkan apabila yang bersangkutan ‘memble aje’.

 

Bukankah 10 pohon yang sehat, kuat dan berbuah lezat adalah lebih baik daripada 1000 pohon kecil kerontang, mati tidak hidup pun tidak!?

 

Kemarau di dalam diri

“Kemarau’ tidak hanya berada di luar sana, tetapi dapat juga berada di dalam lubuk hati kita. Bayangkan betapa besar pengorbanan yang harus diberikan untuk mengurus segala kepusingan organisasi. Tapi bila motivasi kita belum benar, cepat sekali kita menjadi tersinggung, sakit hati terhadap saudara-saudari sendiri, letih dan lelah. Hal ini bila kita hanya merasa benar sendiri. Ini jelas bertentangan dengan prinsip Wu Wei dalam Tao.

 

Bila setiap kali pertemuan hanya diisi dengan masalah-masalah dan hal-hal yang bersifat urusan keduniawian, perdebatan, perselisihan; kapan waktunya untuk mendalami pengertian-pengertian ke-Tao-annya dan untuk men-Siu dirinya? Apalagi kalau dirinya sudah merasa ‘paling benar’ atau ‘paling berjasa’. Akhirnya bisa jadi yang dihasilkan hanyalah sakit hati, kebencian, kepahitan, dendam, kemandegan, perpecahan dll, yang sebenarnya adalah berlawanan dari tujuan kita Siu Tao.

 

Ujian

Hal ini bisa dikatakan sebagai ujian. Dikatakan demikian karena untuk mengembangkan Tao memang Shen perlu menguji kesungguhan dan kemurnian niat kita baik secara individu, maupun secara berkelompok. Disamping itu, adalah menggembleng kematangan dari seluruh kelompok umatNya, tidak pandang bulu yunior senior, tua maupun muda. Saya percaya bahwa hal ini adalah baik adanya, dan bukan berarti Shen masa bodoh terhadap keadaan ini, tetapi karena Shen dalam menggembleng dan mematangkan kita ini senantiasa memperhatikan dan mengajar kita. Shen memunculkan maslah-masalah untuk membuat kita berpikir dan mencari cara untuk revisi / menjadi lebih baik. Untuk membuat agar kita bisa lebih menyiapkan diri terhadap masa depan. Yang tidak berakar akan layu sendiri. Ini adalah pandangan pribadi saya, maaf kalau salah. Tetapi saya merasa bahwa peasnNya yang disampaikan kepada saya ini......jelas menunjukkan bahwa Shen peduli!.

 

Yang terpenting adalah kita cepat menyadarinya...............!!!! Cepat memaafkan, saling memahami............dan bersatu!!!

 

Apa yang Shen berikan kepada kita sebetulnya adalah sejuk dan membangun, bagaikan tetes air hujan yang dicurahkan dari langit. Kita sendirilah yang dipermainkan oleh pikiran, perasaan dan ego kita. Tetapi sungguh sayang bila kemarau di dalam hati kita tidak juga kunjung usai, hanya karena kita keras kepala. Dekatkan diri ke Shen, mintalah petunjukNya dengan tetap memakai nalar dan Wu yang tinggi.

 

Kemarahan, kebencian, sakit hati dan kepahitan itulah tanda-tanda kemarau dalam hati kita, yang akhirnya menyebabkan pohon rohani kita kering, tidak berbuah ranum, bahkan mungkin layu. Sudah saatnyalah sekarang kita sejukkan hati ini untuk berjalan secara benar di dalam Tao.

jin qian ru fen tu ren yi zhi qian jin

Harta dan kemuliaan adalah bagaikan kotoran belaka,

(namun) Renyi (Kasih/Persaudaraan/Pengorbanan)

Adalah berharga ribuan emas.

Renyi Daode

Renyi adalah Tao Tek (Kebajikan)

Oleh karena itu, tumbuhkanlah hati yang rendah hati, lapang dada, memaafkan dan mengasihi.

 

Oleh : Daniel Lie

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*