Intan Dalam Debu – the web

Sosok Agung Sang Dewa Besar Kwan Kong

Posted by adminidb August 3, 2013, under Volume 7 | No Comments





Sosok Agung Sang Dewa Besar Kwan Kong

Oleh : Yudhi K - Jakarta

 

Pada tanggal 6 yang lalu tepatnya tanggal 24 merupakan hari besar salah satu dewa Agung Dewa Kwan Sen Tee (Kwan Kong), hampir semua klenteng memuja dan merayakannya, seperti perayaan besar yang diadakan disalah satu klenteng besar di Indonesia, tepatnya klenteng khusus memuja Kwan Kong dan terbesar dengan wilayah seluas kira-kira 4 ha yaitu klenteng Guan Sheng Miao di Tuban, Jawa Timur.

 

Ada pepatah menyatakan “Tak kenal maka tak sayang”, benar juga pepatah ini. Siapa sebenarnya Kwan Kong itu?

 

Kwan Kong merupakan seorang jendral besar yang hidup pada jaman San Guo (221-269 m), merupakan tokoh yang dihormati karena pribadi agungnya. Bahkan oleh kaisar Han, beliau diberi gelar (Han Sin Teng Houw-Hokkian). Beliau sangat dihormati oleh umat Tao, beliau termasuk salah satu dari dewa besar yang dihormati dan dipuja, dalam buku Tao Chiao Chu Shen sebagai salah satu dewa besar.

 

Karena sikap pribadinya yang mulia, kisah roman tiga negara (Sam-Kok), menceritakan bagaimana sosok pribadi agung beliau, yang diharapkan menjadi teladan dan contoh bagi setiap umatnya hingga sepanjang jaman, sosok Agungnya tetap dihormati dan dikenang.

 

Apakah Pribadi Agung Sang Dewa tersebut?

 

Lee (Bertata susila tinggi)

Etika / tata susila yang baik dalam kehidupan. Sebuah kisah mengenai beliau yang patut dicontoh, setelah terkepung oleh Cao-Cao, beliau bersedia menyerah tetapi dengan syarat :

  1. Beliau menyerah kepada Dinasty Han dan bukan kepada Cao-Cao.
  2. Berupa mengorbankan nyawa, demi mendapatkan kesejahteraan bagi istri kakaknya yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Beliau tidak terikat, bila mengetahui dimana kakaknya Lauw Pi berada, beliau akan menyusulnya.

 

Ketiga syarat tersebut dipenuhi Cao-Cao dan untuk Kwan Kong dan kedua kakak iparnya hanya disediakan satu kamar dengan maksud jahat, ingin mengaburkan tata susila antara ketiganya. Ternyata Kwan Kong bertindak gagah, beliau mempersilakan kedua kakak iparnya tidur didalam, sementara beliau berdiri dimuka pintu, sebelah tangan memegang golok Ceng Liong Yan Goat To dan tangan yang lainnya membaca kitab Cun Ciu dan dilakukan semalam suntuk.

 

Cao-Cao sendiri kagum akan kesetiaannya terhadap kakak angkatnya. Cao-Cao memberikan hadiah-hadiah berupa emas tetapi Guan Yu (nama kecil dari Kwan Kong) tidak pernah menyentuhnya, barang-barang tersebut ditumpuk di dalam gudang, puluhan wanita cantik yang dikirim Cao-Cao kepadanya diserahkan kepada kakak iparnya untuk melayani segala keperluan kakak iparnya tanpa ia merasa tertarik untuk memilikinya.

 

Beliau menjaga budi pekerti dan kesusilaan hingga lawan-lawannya segan dan kagum kepadanya.

 

Tiong dan Sin

Kesetiaan terhadap saudara angkatnya Lauw Pi. Ada sebuah kisah mengenai hal ini, ketika beliau mendapatkan hadiah berupa jubah sutera yang sangat indah untuk dikenakan olehnya, hadiah pemberian Cao-Cao ini dipakai disebelah dalam, baju lama pemberian kakak angkatnya dikenakan diluar sebagai suatu simbol, beliau tidak pernah melupakan sumpah setia kepada saudara angkatnya.

 

Saat Cao-Cao menghadiahkan sebuah kuda yang disebut Chi-TU (kelinci merah) kepadanya, kuda ini adalah bekas tunggangan Lii Bu yang sangat cepat larinya, seketika Guan Yu berlutut dan berterima kasih kepada Cao-Cao, Cao-Cao dengan heran bertanya kepadanya “Aku telah menghadiahkan begitu banyak barang yang indah kepada Jendral, tetapi Jendral menerimanya dengan biasa saja, tetapi kini demi seekor kuda, berlutut dihadapan ku, sungguh aneh ?

 

Tetapi apa jawab Kwan Kong, “Barang lain walau begitu harganya aku tidak peduli. Tapi dengan memiliki kuda ini, begitu aku mendengar kabar dimana kakakku Liu Bei berada, aku dapat segera pergi menemuinya”.

 

Mendengar hal ini Cao-Cao sendiri menyessal, tetapi benar adanya, begitu Kwan Kong mendengar Law Pi berada bersama Wan Siao, beliau langsung membawa kedua kakak iparnya dan menyusul ketempat Wan Siao, tanpa meminta ijin / restu dari Cao-Cao. Perjalanan yang ditempuh berbahaya, melalui berbagai macam bahaya dilima kota, yang dijaga oleh keenam jendral anak buah Cao-Cao, ini merupakan kisah Kwan Kong Kwe Ngo Kwan yang terkenal dalam Sam-Kok.

 

Jin-Gi

Berperikemanusiaan yang mendalam dan berbudi luhur.

Ada sebuah kisah dalam Roman tiga negara Sam-Kok, dimana dalam peperangan disebuah sungai Tiang-Kang (Chang Tsiang), tentara perdana menteri Cao-Cao yang jumlahnya pada waktu itu 830.000 orang kalah perang dan dihancurkan oleh pasukan  Tong Gouw atas keunggulan taktik perang Kong Beng (Zhuge Liang) yang terkenal.

 

Perdana menteri Cao-Cao dan sisa pasukannya melarikan dirinya melalui celah pegunungan yang sempit yakni celah Hoay Yang To (Hoarong). Ternyata disana menghadang pasukan yang gagah dan bersemangat dari Guan Yu (Kwan Kong). Dan Cao-Cao memohon dibiarkan lewat, mengingat budi baik yang ditanamkan Cao-Cao padanya dimasa lalu, Kwan Kong sebagai manusia yang menjunjung tinggi budi, menjadi sangat tersentuh dan memberi pengampunan kepada Cao-Cao.

 

Situasi ini sangat sulit baginya, satu sisi ia harus ‘cung’ kepada negara, disisi lain dia harus membalas budi, dan tidak mungkin memilih keduanya. Beliau lebih memilih berbudi, membalas kebaikan yang diberikan Cao-Cao kepadanya tanpa memperdulikan dirinya sendiri. akhirnya beliau harus kehilangan kepalanya dipenggal, beliau pernah membuat perjanjian dengan Zhuge Liang, bila Cao-Cao tidak selamat melewati celah Kwway Yong To, Zhuge Liang siap dipenggal kepalanya, ternyata sebaliknya beliau harus merelakan kepalanya dipenggal demi persahabatan.

 

Tin-Jin-Yong (Arif-Kasih sayang-Ketegakan)

Dalam medan perang, segala tindakan dilakukan beliau berlandaskan sikap tersebut, hingga akhir hayatnya.

 

Demikian sikap dari sosok pribadi Agung Kwan Kong Sang dewa Besar, yang hendaknya menjadi teladan bagi kita, para Taoyu sekalian dalam menjalani hidup dan bersosial. Cung Se Cung Tao selalu dimanapun kita berada.

 

Oleh : Yudhi K - Jakarta

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*