Intan Dalam Debu – the web

Tips & Trik – Bila anda menjadi Korban Sindiran

Posted by adminidb July 24, 2013, under Volume 7 | No Comments





Tips & Trik - Bila anda menjadi Korban Sindiran

Oleh : Daniel Li

 

Bagaimana melindungi diri anda terhadap kata-kata tajam.

“Lu bener-bener mo yung (enggak berguna) !”

Banyak jenis kata-kata setajam sembilu yang bisa melukai perasaan. Hampir setiap hari kita merasakannya didalam kehidupan sosial kita. Entah, kata-kata itu merupakan ucapan yang ditujukan langsung kepada kita, maupun berupa gosip yang ditiup angin. Entah kita jadi berang atau tidak, namun paling tidak sudah mengganggu perasaan nyaman kita.

 

Kesabaran

Beribu-ribu kali anjuran untuk ‘sabar’ sudah dilontarkan oleh kawan dekat kita. Tetapi seberapa jauh kita memiliki kesabaran? Sekali dua kali bisa sabar, tapi lama-lama cemberut juga, khan.....? Dengan begitu, kadang-kadang si pelontar sindiran merasa bahwa ‘pukulannya’ mengena, sehingga menjadi semakin menjadi-jadi. Kalo kita balas dengan kata-kata yang tajam pula, paling-paling dia tertawa terkikih, “Ngambek tuh.....”.

Kesabaran saja tidak cukup untuk mengahdapi pukulan yang bertubi-tubi.

 

Pembenaran

Salah satu bentuk pembenaran diri yang dilontarkan oleh penyindir adalah misalnya: “Saya mengatakan hal itu untuk kebaikanmu kok”.

“Lho, jangan marah dong, wong kenyataannya demikian kok”.

“agar kamu berubah menjadi lebih baik”,dst.

Bila kurang luwes menempatkan situasinya, kata-kata tersebut bukannya meredakan, tetapi bahkan menambah lebar luka tersebut.

Apalagi bila ucapan tersebut diucapkan oleh orang yang dekat dengan kita.

Kalau kita lagi bad mood, omongan orang bagaimana pun, pasti menyinggung perasaa kita. Walaupun kita enggak mau demikian, tapi seringkali malahan kita terjebak untuk berbalas-balasan, yang makin lama makin sengit. Lama-lama bisa berantem beneran.

Kok bisa demikian?

Sebuah perkatan disebut ‘sindiran’ bila bisa melukai hati kita, entah seberapa kecilnya.

Tapi sebuah ucapan yang bisa melukai hati belum tentu ditujukan untuk menyindir.

Jadi, kita juga harus bisa menerima kritik yang membangun. Tapi seringnya, belum sempat ‘introspeksi’ malah sudah kadung tersinggung lantas ngambek.

Kalo gitu gimana seharusnya dong?

Realita dari perasaan ini dapat bermacam-macam:

Menjadi korban ‘permainan’ pihak lain.

Disini kita mendapatkan sindiran yang disebabkan bukan oleh kesalahan yang diperbuat oleh diri kita, melainkan karena pihak lain memang memiliki tujuannya sendiri untuk melakukan ‘permainan’ ini dengan diri anda. Karena itu anda berhak untuk membela diri anda secara bijaksana agar tidak menjadi bulan-bulanan.

Merasa menjadi korban.

Dalam hal yang kedua ini, anda terlalu peka / sensitif terhadap ucapan (bisa juga sikap) dari orang lain. Sebenarnya bukanlah maksud mereka untuk menyinggung perasaan kita, tetapi mungkin tanpa disengaja, atau bisa juga bermaksud baik untuk menasihati kita. Dalam hal ini diri kitalah yang salah dan sudah seharusnya menyadari dan merevisi diri.

Memang kedua hal di atas pada kenyataannya sulit untuk dibedakan, apabila kita telah terlanjur terbawa emosi. Tetapi tahap kedua hal di atas perlu dibedakan agar kita bisa menempatkan diri, sekaligus menjadi bahan untuk revisi diri.

Dalam artikel ini, saya akan membahas jenis yang pertama dengan tujuan untuk melengkapi anda dengan teknik-teknik interaksi sosial yang praktis, yang merupakan salah satu faktor untuk menjadi pribadi yang assertive dalam pergaulan (berpikir positif, percaya diri, tegas tapi tidak terburu emosi).

Jadi “mempertahankan diri” yang saya maksud bukanlah berati beradu mulut, melainkan suatu cara yang proaktif (berpikir sebelum bertindak) untuk tidak terhanyut dalam ‘permainan’ si penyindir.

Beberapa strategi yang bisa membantu:

  1. Kosong tapi isi, isi tapi kosong
    Modalnya adalah kepenuhan kepercayaan diri, prinsipnya adalah mempersiapkan / menguatkan diri terhadap ‘serangan’ dari luar yaitu dengan lapang dada, berjiwa besar (caranya ada dalam Siu Tao kita) dan mengenal diri kita sendiri.Bila anda memiliki kekayaan batin, maka akan enteng saja bila orang menyindir, sebab tidak ada sesuatu apapun yang sebenarnya diambil dari diri anda. Disisi lain, orang yang  ‘isi/penuh’, akan cenderung untuk berhati-hati dalam bicara dan mengerti untuk tidak selalu menyindir orang lain juga. Jadi disini dapat diambil hikmahnya, bahwa kalau berbicara janganlah pongah atau omong besar, karena hal itu bisa dibalik untuk menyerang anda.
  2. Humor
    Sense of humor dan kebesaran hati, pada prinsipnya adalah mengalihkan ketegangan menjadi suasana santai, bersahabat. Tidak memfokuskan pada materi ‘serangan’, melainkan fokus pada usaha untuk menerima perbedaan.Suatu hari ketika berada di airport, saya menemui seseorang yang sangat jangkung. Hampir setiap orang yang lewat, memandanginya. Ia hanya membalas dengan senyum sambil menunjuk pada tulisan di kaosnya : “Sayakah yang terlalu tinggi, atau andakah yang terlalu rendah???......” Begitu orang yang memandanginya dengan mata yang aneh itu membaca tulisan di kaos itu, kontan saja saja lantas tersenyum-senyum sendiri. ini menumbuhkan keakraban. Ketika saya bertanya kepada si jangkung itu mengenai kiatnya tersebut, ia menjawab, “Saya punya selusin kaos semacam ini di rumah”.....hahaha.....Seorang yang tadinya rentan sebagai calon korban sindiran, justru kini menjadi semacam ‘hero’ (pahlawan)’ yang ramah.
  3. Membagi kalimat sindiran
    Pada prinsipnya adalah menyadarkan penyindir bahwa ‘cap’nya keterlaluan. Sindiran jenis ini biasanya bersifat mengecap dan tidak pada tempatnya. Misalnya, suatu hari seorang cowok berjanji mengunjungi pacarnya jam 06.00 sore. Tapi karena dia terlambat, maka pacarnya marah-marah dan memakinya: “Dasar tukang telat, pemalas, tidak bertanggung jawab........enak yaaa kalo ngelihat gua nungguin sampe seharian”. Terhadap hal seperti ini, seharusnya sang cowok dapat menenangkan terlebih dahulu emosi pacarnya, dengan cara minta maaf (karena dia memang terlambat). Caranya adalah memisahkan bagian fakta (terlambat) kemudian mengertikan  dia bahwa anda menghormati (bukan meremehkan), dan sayang (bukan mempermainkan). Misalnya dengan berkata: “........maaf sayang, saya memang terlambat karena ada tugas tambahan dari Boss (ceritakan alasan yang benar).... tapi pekerjaan itu kan untukmu juga, sayang. Tolong deh, saya kan hanya terlambat 10 menit dan bukan seharian. Pun itu aku sudah setengah mati terburu-buru kesini. Apakah hal seperti ini bisa disebut ‘malas’?! Tolong dong jangan egois.
  4. Mendeduksi maksud penyindir lalu mengkritik langsung
    Modalnya adalah kecerdasan, prinsipnya membuka maksudnya yang terselubung. Hal ini sangat tergantung dari situasi dimana dan kapan kita mengalaminya. Sindiran semacam ini biasanya dilakukan secara ‘halus’ atau ‘terselubung’. Misalnya: “Wah sekarang kamu sudah hebat yach..... bepergian ke luar negeri teruuuss.......” Mungkin si penyindir merasa iri terhadap kesuksesan si korban, atau pun mungkin adanya perasaan disombongi oleh si korban. Dengan melihat ‘alasan’ si penyindir, maka kita bisa menangkisnya dengan baik. Misal: “Aah...... kamu ngiri saja sich.....hahaha.....” atau dalam kemungkinan yang kedua, “.........saya ke luar negeri itu khan tugas dan dibayari oleh kantor....., di kantormu enggak begitu yach?”.
  5. Menerima sindiran dan menolak secara tegas
    Ketegasan tapi ramah dan singkat biasanya akan menyebabkan si’penyerang’ menjadi jengah. Pancaran pribadi anda yang supel akan terpancar dari perkataan anda yang singkat, tegas namun bijaksana. Misalnya suatu saat anda disindir sebagai menyalahgunakan uang perusahaan. Anda bisa menjawabnya secara tegas, misalnya:” Itu adalah hak anda untuk mengatakan demikian. Tapi, tidak sepeser pun uang perusahaan yang saya gunakan, pun tidak ada setitik niat dalam hati ini. Bila anda menuduh (gunakan kata-kata yang lebih tajam pada maksud penyindir), silahkan anda periksa dan buktikan. Saya akan menyediakan  data-datanya tapi saya minta anda bertanggungjawab atas tuduhan anda!Orang-orang disini mendengar perkataan saya dan perkataan anda ” Penggunaan kata ’anda’ yang diberikan tekanan khusus, akan mengalihkan fokus perhatian dari diri korban ke diri penyindir.
  6. Berdiam diri secara penuh arti
    Modalnya adalah bersabar, pada prinsipnya adalah mengelak  secara anggun. Kadang-kadang bila seseorang disindir di depan umum tetapi bersikap tegar, tenang dan tersenyum, lalu menepuk-nepuk punggung si penyindir dengan lembut. Hal ini justru akan menyebabkan si penyindir malu sendiri, karena orang-orang disekitarnya akan menilai bahwa yang ‘jahat’ adalah si penyindir itu sendiri, yang perkataannya sungguh tidak dapat dipercaya. Kenapa? Karena yang disindir pun demikian tenang, kasih dan anggunnya.
  7. Mendahului
    Seringkali kita sudah bisa merasakan bahwa arah pembicaraan akan merupakan ‘sindiran’ atau penyerangan trhadap kita. Sebelum yang bersangkutan sempat angkat bicara, maka kita bisa mendahuluinya terlebih dahulu. Dengan demikian si calon ‘penyerang’ akan terkejut dan terpaksa mencari akal lain. Bila ia kalah pintar, maka justru ia sendirilah yang akan ‘terkena’ merasakan ‘senjata makan tuan’. Misalnya: ketika anda diminta untuk berpidato di depan umum, dan merasa anda tidak siap / salah bicara / melakukan gerakan yang lucu. Anda bisa dengan segera mendahului tertawa sebelum orang-orang tertawa. Lalu dengan besar hati berkata, misal: “Saudara-saudari beginilah kalau orang yang tidak siap disuruh manggung. Tapi saya dengan seluruh niat baik dan tulus, saya berusaha memberikan yang terbaik buat anda sekalian. Walaupun belepotan, kiranya saudara-saudari sudi mendengarkan kata-kata saya yang kacau ini.”
  8. Teriakan slogan
    Kadang-kadang dalam situasi yang formal atau resmi di depan orang banyak, kita menjadi rentan terhadap ‘serangan’ yang bisa mempermalukan kita di depan umum. Bila hal ini terjadi, maka anda bisa melakukan teknik ini.Contohnya begini: Dulu ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar, suasana kantor begitu tegang dan atmosfir persaingan pun sangat kental. Saya teringat pada seorang sekretaris yang sering menjadi sasaran guyon / sindiran dari staff-staff yang lain. Suatu hari ia memiliki caranya sendiri untuk menangkis sindiran dari kawan-kawannya dengan berteriak “Sirik....sirik.....siiiriik....”. Setiap kali ia akan digoda, ia meneriakkan kata-kata itu dengan lantang sembari seakan tidak mendengar kata-kata si penyindir. Saya perhatikan, otomatis si penyindir itu merasa malu sendiri dan tidak jadi menggoda. Kenapa? Karena perhatian orang-orang di seluruh ruangan menjadi tertuju pada si penyindir itu. Dengan cara itu, setiap kali si sekretaris itu merasa ‘terancam’, maka dengan segera ia seakan-akan mengumumkan adanya orang ‘sirik’ (si penyindir) di ruangan tsb.

Demikianlah kiranya, semoga bermanfaat!

 

Oleh : Daniel Li

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*