Intan Dalam Debu – the web

Humor : MENTOK !!! (Kisah Ubi Merubah Nasib)

Posted by adminidb September 17, 2013, under Volume 8 | No Comments





Humor : MENTOK !!! (Kisah Ubi Merubah Nasib)

Intan Dalam Debu

 

Alkisah ada seorang playboy bernama Ubi yang suka mabuk-mabukan, main judi, perokok berat, tapi paling suka menceramahin orang lain. Dia selalu menyombongkan dirinya, sampai tak seorangpun yang mau mendekatinya.

Sudah tidak ada teman lagi, ubi menyesali nasibnya dan kemudian menyendiri (bertapa). Akhirnya dia bertemu seorang dewa yang mau menolongnya. Sang dewa menasehati Ubi agar jangan jadi playboy kalau mau jadi manusia yang baik dan diterima masyarakat.

Setelah itu Ubi kembali ke lingkungannya dan sekarang sudah tidak menjadi playboy lagi. Perlahan dia mulai mendaptkan teman-temannya lagi, bahkan mendapatkan seorang istrinya yang baik. Kehidupannya berjalan kembali, walau dalam rumah tangga sering bertengkar dan ekonominya masih morat-marit.

Ubi mengeluhkan nasibnya kepada Sang dewa, Sang Dewa berkata, jika ingin lebih baik lagi maka harus melalui ujian dengan syarat bisa meninggalkan kebiasaan bermabuk-mabukan dan bermain judi. Spontan Ubi menyanggupi, dan mulai saat itu juaga tidak mabuk-mabukan dan main judi lagi. Setelah sekian lama akhirnya Ubi lulus dan mendapatkan kenaikan tingkat.

Sejak itu, memang kehidupan rumah tangga maupun perekonomian Ubi makin mapan saja, bahkan dalam masyarakatpun Ubi mendapatkan tempat yang cukup terhormat sehingga dia akhirnya kembali sering menceramahi orang-orang.

Walau, Ubi bertujua baik yaitu agar orang-orang dapt belajar dari dirinya yang berhasil berkat tekad, kemauan dan usaha keras. Tapi karena masyarakat sudah mengenal watak si Ubi maka mereka acuh-acuh saja. Hal ini tidak membuat Ubi patah semangat, kini Ubi lebih sering berkunjung ketempat/daerah lain untuk menyalurkan hobbinya menceramahi orang lain.

Suatu ketika disebuah daerah baru pertama kali didatangi. Ubi dibuat terkesima melihat kerumunan sangat banyak orang yang sedang mendengarkan seorang sedang berceramah.

Malu dan penasaran, Ubi berusaha menemui sang dewa. Begitu Sang dewa muncul Ubi langsung bertanya “Siapakah orang yang berceramah pada ratusn orang tersebut?” Sang dewa tertawa dan menjawab “Oh, dia adalah Kentang, dia memang satu tingkat diatas kamu!” Tanpa berpikir panjang, Ubipun bersujud memohon untuk dianikkan tingkatnya agar sejajar dengan si Kentang.

Sang Dewa menyanggupi asal Ubi mampu melewati ujian yang kedua dengan syarat harus bisa membuang kebiasaannya merokoknya. Saat itu juga Ubi berhenti merokok sehingga akhirnya dia lulus dan mendapatkan tingkat yang lebih tinggi.

Tak berapa lama, Kentang yang terkenalpun datang mengunjungi Ubi dan mengucapkan selamat serta kini mengjak Ubi untuk bersama-sama berkeliling daerah untuk menyebarkan kebaikan dan “jalan kebenaran”. Ubi sangat senang dan menikmati kedudukannya yang sekarang karena merasa begitu “terhormat”.

Hal ini berjalan cukup lama, sampai suatu saat, Kentang mengajaknya mengunjungi sebuah daerah yang belum pernah didatanginya untuk mendengarkan ceramah. Sambil bersiap-siap, Ubi berkata “Baiklah, kali ini kamu saja yang ceramah, saya nemenin aja sambil dengerin ! Kentang hanya tertawa kecil dan tersenyum-senyum.

Setelah sampai di tempat yang dimaksud, seketika Ubi tersentak kaget dan terperanjat sekali. Ternyata disitu ada ribuan orang dalam kerumunan terbesar yang pernah dilihatnya. Dalam hati Ubi bergumam, “Alangkah senangnya jika aku bisa berdiri didepan sekian banyaknya orang-orang ini dan mengajarkan ‘sesuatu’ pada mereka”.

Kemudian Ubi berkata pada Kentang, “Ternyata kamu sangat terkenal sekali disini, sampai ribuan orang ingin mendengarkan ceramahmu ! Nanti aku bicara sedikit yach, biar dikenal juga !“ Dengan melotot dan serius Kentang menjawab “Huss, kamu jangan kurang ajar, Bi ! Kita kesini ini untuk mendengarkan ceramah, bukan untuk berceramah !” Dengan penasaran dan bingung, Ubi berbisik, “Lho, bukankah mereka ini berkumpul untuk mendengarkan kamu berceramah?!?!”

Bisik-bisik Kentang menjawab “Jangan sembarangan...!! Mereka semua ini se-tingkat dengan kita, banyak yang lebih hebat dan berpengalaman bahkan ada yang tingkatnya diatas kita !!!” Ubi terbengong-bengong “Hhhahhhh.......!?!?!”

Tidak lama kemudian, muncul seseorang disepan mimbar berceramah, semua yang hadir dengan serius dan penuh perhatian mendengarkan, kecuali Ubi yang benaknya masih penuh kebingungan dan tanda tanya.

Selesai dan begitu sampai dirumah, segera Ubi bertanya pada Sang Dewa.

Ubi     : Benarkah, apa yang dikatakan Kentang tadi ?

Dewa : Ya, Ubi ! Benar sekali kata temanmu kentang itu !

Ubi     : Berarti masih ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari saya ?

Dewa : Ya, memang itu adalah tingkat yang tertinggi. Jarang sekali yang bisa mencapainya.

Ubi     : Berarti orang yang didepan mimbar itu sudah mencapai tingkat yang tertinggi ?

Dewa : Benar sekali !

Ubi     : Kalau begitu, apakah saya juga bisa mencapai tingkat yang tertinggi sehingga sejajar dengan “orang itu” ?

Dewa : Bisa saja asal kamu lulus persyaratannya ujiannya ?

Ubi     : Apakah persyaratannya Dewa ?

Dewa : Untuk mencapai tingkat yang tertinggi orang harus bisa membuang semua kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya.

Ubi     : Lho, kalau hanya itu saja, bukankah saya sudah membuang semua kejelekan pada diri saya ?

Dewa : Memang kamu sudah hampir sempurna, hanya tinggal satu hal lagi, yang Dewa kira justru kamu tidak dapat membuangnya.

Ubi     : Apalagi sich kejelekan pada diri saya yang harus dibuang, Dewa ?

Dewa : Sifat kamu yang suka “ngajarin dan ceramahin” orang lain !

Ubi     : .................?!?

(dalam hatinya : “uh...percuma naik tingkat kalau justru tidak bisa berceramah didepan banyak orang !!!)

Dewa : Sudah ku duga.... begini akhirnya.... mentok lagi......mentok lagi.......!! (sambil ngeloyor pergi).

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*