Intan Dalam Debu – the web

MEMILIH KEJUJURAN ATAU KEBENARAN ?

Posted by adminidb August 12, 2013, under Volume 8 | No Comments





MEMILIH KEJUJURAN ATAU KEBENARAN ?

Dari : Bali

 

Bertindak “jujur” belum tentu benar

Bertindak “benar” belum tentu jujur

 

Kedua kalimat diatas memang sering terjadi dan hal ini memang mengikuti hukum-hukum tertentu yang satu dengan lainnya berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan bisnis, etika kedokteran, cara memberi pelajaran pada anak, dan lain-lain semuanya mempunyai dasar hukum tertentu dan bukan berdasarkan kejujuran tetapi berdasarkan kebenaran.

 

Jujur menurut saya adalah sifat yang memang harus kita miliki dan boleh dikatakan mutlak harus kita punyai. Sifat jujur boleh dikatakan setara dengan sifat-sifat lainnya seperti sifat berani, belas kasih, dan lain-lainnya.

 

Kalau seseorang dikatakan harus berani, lalu apakah orang tersebut harus berani dalam segala hal? Tentunya ada batas-batas tertentu dari keberanian orang tersebut, misalnya : orang tersebut berani dalam mengambil keputusan, akan tetapi saat ia diminta untuk mencoba “buggy jumping” atau mungkin diminta untuk menyanyi disepan umum maka orang tersebut akan tidak berani.

 

Lalu bagaimanakah ini : “Apakah keberanian itu harus bisa dilaksanakan 100% ?”

 

Demikian pula halnya dengan “belas kasih”, walaupun harus kita miliki namun saat kita menghadapi ular, harimau ataupun penjahat yang sangat mengancam diri kita, apakah kita harus melaksanakan belas kasih 100% ?

 

Tentunya tidak dan inipun berlaku untuk kejujuran. Dalam berbisnis orang dituntut untuk jujur sehingga dipercaya orang.

 

Apakah benar kejujuran yang dituntut ? apakah bukan suatu tindakan yang benar yang dituntut ? Mungkin hanya salah kaprah orang meminta pihak lain untuk jujur dalam berbisnis. Dalam dunia bisnis sendiri ada hukum-hukum tertentu yang dipakai dan kalau dari prinsip “gunakan energi sesedikit mungkin untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya”, hal ini akan sangat bertentangan dengan kejujuran, namun akan tetap dapat diterima bila seseorang menjalankannya dengan benar dan tidak menyakiti pihak-pihak lain.

 

Beberapa contoh yang disebutkan dalam Intan Dalam Debu vol.6, edisi Juni 2000, mungkin memang kesalahan kita dalam merespon sesuatu hal. Seorang anak jatuh dan orang tuanya spontan menyatakan “oh, tidak apa-apa ! anak pintar, engga sakit kok! Jangan nangis yach!”

 

Menurut saya ini salah orang tua tersebut, mungkin ada alternatif lain yang bisa kita gunakan misalnya “Oh, jatuh ya, mana yang sakit, sini diberi obat (atau sini mama pijit) biar tidak sakit”, dengan tanggapan yang demikian kita mendidik anak untuk mengerti suatu permasalahan, bahwa dia jatuh dan sakit dan perlu diobati dan kita tidak berbohong.

 

Bagaimana dengan kebenaran ?

Kebenaran tidak dapat dibantah, harus dilaksanakandengan mutlak. Seorang pedagang mengatakan tidak untung menjual barangnya, tertunya bisa dilihat pedagang tersebut tidak jujur karena bisa saja pedagang tersebut telah mendapatkan keuntungan atau mungkin dia telah mendapat bonus dari pabrik tetapi dia tidak mengutarakannya. Namun hal ini tetap dibenarkan dalam berbisnis, jadi bisa dilaksanakan meskipun pedagang tersebut tidak jujur. Kecuali pedagang tersebut memalsukan barang yang asli dengan yang palsu atau barang lain yang kualitasnya lebih jelek dari barang sebenarnya, hal ini adalah tidak benar, sehingga salah bila dilaksanakan, maka kita harus melakukan sesuatu yang benar.

 

Nah, dari uraian saya diatas saya coba menjawab pertanyaan :

Dalam Siu Tao untuk mengejar kesempurnaan apakah kita bisa tidak berbohong ? Sebelum  menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyetarakan dulu istilah “berbohong” disini sama dengan “tidak jujur tetapi untuk kebaikan”.

 

Bila hal ini kita sepakati dan memahaminya maka tidak masalah kita berbohong, karena kita masih berpijak pada kebenaran.

 

Contoh-contoh konkrit yang kita bisa lihat misalnya :

-          Seorang teman saya setelah membeli daging, dia menyimpan uangnya bersama daging tersebut dalam tas plastik, dan menyisakan sedikit uang disaku, diperjalanan dalam kendaraan umum dia ditodong oleh penjahat dan dimintai uang, dia mengeluarkan uangnya dari sakunya yang hanya sedikit dan memberikannya pada penjahat tersebut dan mengatakan dia tidak punya uang, bahkan dia mengatakan dia perlu ongkos untuk pulang pada penjahat tersebut, yang akhirnya dia diberi beberapa ribu untuk ongkos. (wah teman saya telah berbohong dua kali).

-          Kita menyumbang untuk amal, ketika ditanya siapa yang menyumbang, kita tidak mengaku karena kita tahu amal tidak perlu di gembar-gemborkan, inipun kita berbohong.

 

Kedua contoh tersebut diatas adalah tindakan yang benar, maka tidak masalah kita melakukannya.

 

Demikian uraian ini mudah-mudahan dapat sebagai wacana untuk diolah kembali.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*