Intan Dalam Debu – the web

Sekilas Mengenai WU

Posted by adminidb September 17, 2013, under Volume 8 | No Comments





Sekilas Mengenai WU

Oleh : Daniel Li

 

“Belajar tanpa berpikir akan menghasilkan kekonyolan belaka,

Berpikir tanpa belajar adalah berbahaya”.

Di jaman kuno, seorang muris yang berucap sembarangan tanpa mengetahui kebenaran / fakta dapat dihukum mati oleh gurunya. Demikian pula kapanpun dan dimanapun tempat di dunia ini: pertumpahan darah terjadi karena masing-masing mempertahankan ‘kebenaran’ menurut versinya sendiri. Lalu apakah sebenarnya ‘Kebenaran’ yang dipertahankan itu ? Tiadakah suatu titik temu ?

Apakah “Kebenaran” itu milik segolongan orang tertentu ? Ataukah merupakan suatu hal yang majemuk ? Dimanakah letak ‘keberadaban’ manusia yang kacau karena kesadarannya yang rabun?

Nah, kata kuncinya adalah kesadaran. Paling tidak (minimal) dapat berarti: kemampuan mengetahui kesalahan diri dan mencari cara memperbaikinya. Memang hanya segelintir orang yang memiliki bibit baik yang bisa terus melatih hingga taraf tinggi.

Pengalaman menunjukkan bahwa ‘alam pikiran’ merupakan hal yang unik. Bagaikan cermin. Cermin yang retak memantulkan bayangan yang retak, meskipun obyeknya utuh. Namun maukah dan mampukah cermin tersebut menyadari dirinya!? Untungnya kita adalah makhluk yang berbudi, sehingga senantiasa dapat merevisi diri. Memang sulit untuk mentas dari lautan kebodohan sementara diri kita sedang tenggelam. Tapi dalam artikel ini, saya ingin mengajak saudara-saudari semua memulai langkahnya yang pertama (dasar-dasar) untuk melatih kesadaran masing-masing.

Wu (baca: u), dapat diterjemahkan secara singkat sebagai ‘mengerti’, ‘sadar’. ‘memahami’. Seringkali kesadaran ini menjadikan kita begitu terpesona sehingga akhirnya menjadi mati di satu titik. Tetapi ingat, ‘pemahaman’ itu sendiri bukanlah titik akhir, melainkan sesuatu kondisi kesadaran yang tetap harus diikuti oleh sikap batin yang selalu berusaha untuk menyempurnakannya pengertian-pengertiannya. Inilah yang membedakan antara ‘Wu’ yang sejati dengan sikap keras kepala. Maka dikatakan: “Wu, WU, dan Wu lagi”.

Sebenarnya, ‘wu’ adalah sebuah kondisi dimana pikiran kita bisa ‘menembus’ kedalam pengertian-pengertian yang hakiki secara komplit (komprehensif) dan memiliki kelincahan dalam menangkap dan menganalisa suatu obyek.

Sesuatu yang kelihatannya sulit dan kompleks, dapat ditembus dengan satu benang merah yang sederhana.

Otomatis dalam tarafnya yang tertinggi, perbedaan-perbedaan akan melebur, hanya tersisa satu Kebenaran saja. Itulah yang Hakiki (Tao). Tumbak (mao) dan tameng (dun) dapat disatukan. (kamus: maodun = konflik). Dari taiji kembali pada wuji.

Pedoman untuk Wu

Dalam menghadapi masalah sehari-hari, kita seringkali sudah merasa berpikir keras dan merasa telah mengambil keputusan yang terbaik. Tetapi apakah sesungguhnya kriteria dari ‘yang terbaik’ itu?

Untuk melatih diri mengarah kepada tingkat Wu yang semakin tinggi, ada 3 hal yang harus terpenuhi:

  1. He Qing : sejalan dengan perasaan / bathin.
  2. He Li      : sejalan dengan logika, nalar, rasio.
  3. He Fa     : sejalan dengan etika, norma, hukum, peraturan.

Poin pertama dan kedua memiliki ruang lingkup ke dalam diri kita (dimensi subyektif). He Fa, memiliki ruang lingkup keluar terhadap lingkungan di sekitar kita (dimensi obyektif). Tiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Problem akan timbul bahwa tingkat pengertian dari tiap individu berbeda-beda, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang berbeda-beda terhadap sebuah masalah yang sama. Bagaimanakah cara menyikapinya?

Setiap manusia memiliki hak asasinya masing-masing untuk mempertahankan, keunikan dirinya. Meskipun demikian , ingat, bahwa tiada seorang pun yang dapat menjalankan kemanusiannya secara normal dengan hidup tanpa orang lain. Oleh karena itu, untuk menghadapi perbedaan-perbedaan yang timbul dalam dalam pengertian masing-masing, kita memerlukan wu pada suatu level yang lebih tinggi lagi.

Ada beberapa tips:

  1. Sadar bahwa tidak selalu diri kita pasti benar. Oleh karena itu, perlu sikap jujur terhadap diri sendiri, lapang dada, dan rendah hati (misal: berani mengakui dan menerima kesalahan).
  2. Sadar bahwa selalu ada orang lain yang lebih pintar dalam satu atau beberapa hal/bidang tertentu. Oleh karena itu, perlu sikap mengalah, terus mau belajar dan menyempurnakan diri. Sementara anda belajar mengasah ‘wu’ anda, ikutilah petunjuk dari yang lebih tahu (senior, atasan, pemimpin,dsb)
  3. Sadar bahwa kepintaran bukan segala-galanya. Pada waktu dan kondisi tertentu, kita perlu menyadari posisi kita dalam kaitannya dengan budaya dan tradisi. Ini adalah dasar menuju wu juga: belajar untuk konform pada ‘yang telah ada’. Walaupun terus aktif menganalisa dan bersikap kritis.

Memang sulit, karena disamping perlu kerendahan hati dan sikap fleksibel juga perlu wawasan yang luas dan dalam.

Misal: meskipun merasa diri kita sudah benar, namun mampu memberikan respon berupa sikap yang sesuai dengan budaya dimana kita berada. Misal: sikap terhadap ‘shi’ (shifu, shixiung/jie, shidi/mei, dll)

  1. Sadar bahwa setiap masalah tidak sama urutan kepentingan / prioritasnya. Ada yang prinsipil, adapula yang sepele sehingga lebih baik mengalah saja, atau dikorbankan.
  2. Sadar akan tujuan, motivasi dan konstrain (kendala, batasan). Belum tentu yang diajarkan / diberikan oleh seseorang itu menyatakan sebuah pernyataan yang lengkap, mengingat adanya tujuan yang lain, misalnya: untuk mendidik dan merangsang untuk berpikir sendiri.

Hal-hal yang mendukung dalam peningkatan wu:

  1. Melatih ‘He Qing’ : pemurnian hati nurani, sering melakukan introspeksi diri, menilai kemampuan dan kekurangan diri, jujur terhadap diri sendiri, mencari jalan untuk mengerti ‘aku sejati’, melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain (empati).
  2. Melatih ‘He Li’ :  memahami pengertian-pengertian dasar, berlatih mengenai ‘cara berpikir’ yang baik, bersikap kritis, memiliki dasar (kenyataan, fakta, logika), tidak berprasangka dulu (apriori), tidak pretensius (zhen?), wawasan harus luas dan mendalam (sekolah, kursus, bergaul, dsb), mempunyai pengetahuan terhadap cara pandang orang pada umumnya, tidak menganeh / sekedar berbeda.
  3. Melatih ‘He Fa’ : bersikap sosial, membuka diri terhadap lingkungan sekitar, mempelajari budaya, etika, norma, tata aturan dan hukum yang berlaku. Melatih pengendalian diri yang baik.

Secara global, disamping rajin menggunakan akal dan budi, kecerdasan dapat ditingkatkan melalui latihan Cing Co, yang juga termasuk salah satu cara memupuk kepekaan, kecerdasan  dan untuk memperoleh bimbingan dari Shen secara langsung.

CIRI-CIRI MENCAPAI WU

Menurut pendapat saya, sulit untuk mengukur sampai dimanakah taraf Wu kita. Saya rasa yang berhak menilai adalah para Shen-xian. Jadi lebih baik kita berhenti untuk ukur-mengukur taraf wu diri sendiri maupun orang lain.

Namun meskipun demikian, biasanya terdapat beberapa gejala yang berkorelasi dengan tingkat pencapaian seseorang. Menurut saya, suatu sikap / tindakan dapat diakatakan ‘wu’ biasanya memiliki karakteristik a.l :

  1. Fair terhadap pihak-pihak yang terlibat.
  2. Memancarkan kuasa (authoritative power) dan kesan yang baik (goodwill)
  3. Membina kearah hubungan antar manusia dan pergaulan yang baik.
  4. Pada akhirnya akan mempunyai nilai positif untuk semua pihak.
  5. Memiliki nilai kebenaran universal.

 

 

 

SARAN :

  • Wu sangat mendasar dan penting bagi Siu Tao kita. Bagi yang baru belajar Tao, lebih baik mematangkan soal “wu” ini sebelum mencoba mengerti konsep-konsep lain yang lebih sulit dan mendalam.
  • Jangan cepat putus asa, atau sebaliknya juga jangan terlalu berambisi (semuanya akan sampai sendiri pada waktunya). Juga jangan cepat tersinggung apabila menerima kritik maupun pendapat lain yang berbeda.
  • Jangan menjadikan ‘wu’ sebagai tameng., sebagai alat mengadili orang lain. Tidak tahu katakanlah tidak tahu. Tidak boleh memberitahu, katakanlah belum saatnya. Bila salah, akui salah. Bila kalah, akui kalah. Jangan membalikkan bahwa orang lain yang belum ‘wu’, karena anda sendiri yang akan rugi, baik dalam image anda dimata orang lain, maupun penilaian Dewa terhadap sikap ‘zhen’ kita.
  • Rajin-rajin mendengar Ciang Tao. Aktif berdiskusi kelompok. Rajin membaca buku yang baik, walau harus kritis menyaring dan berpikir sembari membaca. Rendah hati saling belajar satu dengan yang lainnya. Ingat bahwa dari pernyataan yang pro dan kontra, kita akan lebih banyak mendapatkan pelajaran dari suatu pendapat yang kontra. Alangkah tentramnya dunia ini apabila semua orang bisa mencapai taraf tertinggi dalam wu-nya, walaupun saya percaya bahwa hal ini adalah suatu impian yang mustahil belaka. Perbedaan akan selalu timbul, karena itu adalah sesuatu kodrat juga. Oleh karena itu, sangat penting memupuk sifat Lapang Dada. Ini juga merupakan suatu wu juga.
  • Untuk melatih ‘wu’ diperlukan sikap-sikap lain yang merupakan dasar dari Siu Tao kita, misal : Zheng Yi (sikap yang satu), kemantapan/percaya diri, dll.

Deikianlah sekilas mengenai WU. Masih banyak hal lain yang perlu dibahas lagi. Tetapi karena keterbatasan tempat, maka barangkali lain kali bisa kita sambung lagi pada topik lain.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*