Intan Dalam Debu – the web

TIAN SHANG SHEN MU, DEWI PELINDUNG LAUT

Posted by adminidb August 12, 2013, under Volume 8 | No Comments





TIAN SHANG SHEN MU, DEWI PELINDUNG LAUT

Disadur oleh : Ahin Thang – JKT

 

Tian Shang Sheng Mu (Thian Siang Sing Bo) dikenal dengan sebutan Ma Zu atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fu Jian, tepatnya di Pulau Mei Zhou dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang (Lim Bik Nio). Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di propinsi Fu-Jian. Karena kehidupannya yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebutnya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik.

 

Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-Long pertama, tanggal 23 bulan 3 Imlek, tahun 960 M. Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah ayahnya memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf ‘mo’ berarti diam.

 

Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan. Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tuanya dan suka menolong tetangga-tetangganya yang sedang ditimpa kemalangan. Sebab itu penduduk desa sangat menghormatinya.

 

Konon Maha Dewa Thay Sang Lauw Cin memberi sebuah kitab suci rahasia kepadaNya. Dari kitab itulah kemudian Lin Mo Niang belajar banyak ilmu gaib untuk mengusir roh-roh jahat dan menolong para nelayan yang sedang mengalami musibah di tengah lautan. Ia paham sekali ilmu falak dan peredaran cuaca, sebab itu Ia dapat mendatangkan hujan pada saat kekeringan. Kehidupan di tepi laut menempanya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang mnghantui para pelaut.

 

Selain itu, Ia dapat juga menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutNya sebagai Ling Nu (gadis Mukjijat), Long Nu (gadis naga), dan Shen Gu (bibi yang sakti).

 

Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, Ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalNya.

 

Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong-xi ke-4, tanggal 16 bulan 2 Imlek, bersama ayahNya Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahuNya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatannya Ia berusaha menolong ayahnya. Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tapi ‘diangkat ke langit’ bersama raganya. Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Mei-zhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar tetabuhan yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.

 

Penduduk dengan tulus hati lalu mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga setahun kemudian. Kelenteng yang didirikan di Mei-zhou ini merupakan kelenteng pemujaan Tian Shang Sheng Mu yang pertama di Tiongkok.

 

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fu-Jian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Dan kemana-mana patungnya selalu dibawa serta. Keselamatan mereka dalam pelayaran dianggap anugerah dan perlindungan dari Dewi ini. Dan kisah-kisah tentang pemunculan sang Dewi  dalam memberi pertolongan ada para pelaut mulai satu-persatu tersebar.

 

Pada tahun 1122 M, Kaisar Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi Duta ke negeri Gaoli (Korea sekarang). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ada, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang ditumpangi oleh Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main. Ia bertanya kepada para anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian dan biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang ini. Ia lalu mengatakan pada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi Lin Mo Niang yang berasal dari Pulau Mei-zhou. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini pada Kaisar Song Hui Zong. Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar ‘Sun Ji Fu Ren’ kepada Lin Mo Niang dan sebuah papan bertuliskan ‘Sun-ji’ yang berarti ‘pertolongan yang sangat dibutuhkan’, hasil tulisan tangan sang Kaisar sendiri lalu dipasang di kelenteng di Mei-zhou.

 

Sejak itulah pemujaan terhadap Lin Mo Niang mulai mendapat pengakuan dari kerajaan. Sejak dari jaman Dinasti Song sampai Qing, tidak kurang dari 28 gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh kerajaan kepada Lin Mo Niang. Gelar-gelar itu antara lain adalah Fu Ren (Nyonya Agung), Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Sorgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit) dan Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).

 

Sejak jaman Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok Timur yang memanjang dari Utara ke Selatan seperti dan-dong, Yan-tai, Qin-huang-dao, Tian-jin, Shang-hai, Ning-po, Hang-zhou, Fu-zhou, Xia-men, Guang-zhou, Macao dan lain-lain bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini. Tian Shang Sheng Mu sudah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Mei-zhou saja. Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, sebelum pelayaran dimulai akan diadakan sembahyang besar untuk memohon  perlindunganNya. Pada tiap-tiap kapal pun selalu disediakan ruang pemujaan untuk patungnya.

 

Pelaut kenamaan pada jaman Dinasti Ming, Zheng He, yang dikenal dengan sebutan San Bao Da Ren (Sam Po Tai Jin), tidak melupakan kebiasaan ini. Tujuh kali Zheng He memimpin armada besar yang terdiri dari puluhan kapal, mengunjungi berbagai negeri di Asia dan Africa. Tiap kali akan memulai pelayarannya, Ia selalu memimpin upacara sembahyang besar untuk memohon perlindungan dan keselamatan perjalanannya kepada Tian Shang Sheng Mu.

 

Pada tahun ke-7 pemerintahan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming (1409 M), dalam pelayarannya yang ketiga kali, Zheng He menyempatkan diri dengan perintah Kaisar untuk bersembahyang di kelenteng Tian Shang Sheng Mu di pulau Mei-zhou. Sebuah prasasti peninggalan Zheng He yang terdapat di Zhang-le, Propinsi Fu-jian, secara teliti menyebutkan bahwa keselamatan perjalanannya sampai ia berhasil menyelesaikan tugas melakukan kunjungan muhibah ke negeri asing sebanyak tujuh kali, adalah berkat kemukjijatan dan perlindungan Tian Shang Sheng Mu. Gelar ‘Tian Fei’ dianugerahkan kepada Tian Shang Sheng Mu oleh Kaisar Yong Le berkat perlindunganNya pada armada Zheng He.

 

Kira-kira pada jaman Ming inilah, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk propinsi Fujian yang pergi merantau, pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu memasuki pulau Taiwan. Kelenteng tertua Tian Shang Sheng Mu di Taiwan adalah terdapat di ota Ma-gong, Kepulauan Penghu. Dewasa ini di Taiwan terdapat tidak kurang dari 800 buah kelenteng Tian Shang Sheng Mu. Dan hampir dua per tiga penduduknya memuja arcanya di dalam rumah.

 

Kelenteng Tian Shang Sheng Mu yang paling ramai dikunjungi orang dan mungkin terbesar di Taiwan adalah di Bei-gang. Patung yang dipuja di sini berasal dari Mei-zhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar Kang Xi. Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan.

 

Tiap tahun bertepatan dengan hari kelahirannya yang jatuh pada tanggal 23 bulan 3 Imlek, ratusan ribu warga Taiwan membanjiri kota ini untuk bersembahyang.

 

Pemujaan terhadap Tian Shang Sheng Mu, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai tempat, juga bermunculan di banyak negeri. Di negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina dan lain-lain; dimana banyak bermukim para Tionghoa perantau, banyak dijumpai kelenteng dan patung Tian Shang Sheng Mu.

 

Di Jepang, pemujaan Tian Shang Sheng Mu diperkirakan mulai ada pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang yang dalam bahasa Tionghoa disebut Sui-hu, Tian Shang Sheng Mu telah dimasukkan dalam jajaran Dewata Jepang dan dipuja di kuil utama kota itu. Di Jepang terdapat tidak kurang dari 100 buah kuil Tian Shang Sheng Mu.

 

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafatnya Tian Shang Sheng Mu yang ke-1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di Mei-zhou. Di antara khalayak yang berbondong-bondong itu terdapat beberapa ratus warga Taiwan yang mengkhususkan diri untuk hadir di situ, sekaligus melampiaskan keinginannya untuk mengunjungi dan bersembahyang ke kelenteng leluhur.

 

Banyak di antara mereka yang membawa patung Tian Shang Sheng Mu dari Taiwan untuk disembahyangkan disana, dalam upacara yang disebut ‘Tian Shang Sheng Mu pulang ke kampung halaman’. Juga tidak sedikit yang membawa pulang patung-patung Tian Shang Sheng Mu yang disediakan oleh kelenteng Tian Shang Sheng Mu untuk dipuja di Taiwan.

 

Dalam kesempatan itu juga diadakan seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 60 orang ahli sejarah untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan Tian Shang Sheng Mu. Kemudian diadakan pula upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan patung peringatan untuk Tian Shang Sheng Mu, dan pembukaan selubung untuk miniaturnya, di puncak bukit Mei-feng Shan di tengah pulau itu. Dua belas orang dari wakil-wakil perantau Tionghoa dari luar negeri, Taiwan, Hongkong, dan Macao melakukan acara uruk tanah untuk pondasi patung tersebut. Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun 1989 mendatang, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu, patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Sahn menghadap ke Selat Taiwan.

 

Mengenai mengapa Tian Shang Sheng Mu disebut Ma Zu (Ma Couw) atau Ma Zu Po (Ma Couw Po), dalam buku Tian Shang Sheng Mu Jing atau kitab pujian kepada Tian Shang Sheng Mu disebut seperti ini : “Pada Dinasti Tang ada seorang pendeta suci yang disebut Dao Yi Chan Shi (To It Sian Su), beliau bernama Ma Zu”. Sheng Mu yang hidup pada jaman Dinasti Song adalah penitisan dari Ma Zu yang hidup pada jaman Dinasti Tang ini. Hanya kemudian huruf Ma pada nama keluarga pendeta Ma Zu diganti dengan huruf Ma yang berarti ibu, agar sesuai dengan Sheng Mu yang berarti ‘ibu yang suci’. Dari sinilah sebutan Ma Zu berasal.

 

Tian Shang Sheng Mu selalu ditampilkan sebagai Dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan ( Si Mata Seribu Li) dan Sun feng Er (Si Kuping Angin Baik). Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan, mulutnya bertaring, senjatanya tombak bercagak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.

 

Disadur oleh : Ahin Thang – JKT

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*