Intan Dalam Debu – the web

Asal Muasal Taoisme – Agama Tao

Posted by adminidb November 14, 2013, under Volume 9 | No Comments





Asal Muasal Taoisme - Agama Tao

Intan Dalam Debu

 

Seringkali kita bertanya-tanya, kapankah Taoisme itu pertama kali muncul ?

Apakah semenjak Nabi Laozi menuliskan kitab Tao Te Cing, ataukah jauh sebelum masa itu ?

 

Melalui artikel ini, penulis mengajak untuk melihat bahwa jiwa dan darah daging Taoisme sudah dapat dirunut semenjak pada jaman purba. Taoisme sebenarnya adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari bentuk kepercayaan masyarakat Tionghoa yang menyatu dalam kekayaan tradisinya.

 

Peninggalan sejarah praktek religius China paling kuno yang dapat ditemukan sampai saat ini adalah dari sebuah kuburan yang diperkirakan berasal dari masa Neolithik sekitar tahun 7000 tahun SM (Sebelum Masehi). Karena pada masa itu belum mengenal tulisan, maka informasi didapatkan dengan mempelajari peninggalan yang ditemukan dalam bentuk peralatan upacara keagamaan, persenjataan, hiasan dan gambar-gambar yang melukiskan kehidupan masa itu.

 

Dari peninggalan pra-sejarah itu dapat dilihat bahwa bangsa Tionghoa telah mengenal kegiatan religius yang berhubungan dengan arah mata angin (asal muasal Fengshui). Bila diperhatikan, maka arah kuburan selalu mengikuti pola arah tertentu, dimana suami-istri dimakamkan bersebelahan, dalam busana adat yang lengkap berikut perhiasan dan ornamen keagamaannya. Perlengkapan dan tata cara mencerminkan jiwa asal dari Taoisme dalam bentuknya yang sekarang ini.

 

Setelah mulai mengenal tulisan, maka prasasti yang paling awal ditemukan  adalah berasal dari jaman dinasti Shang, sekitar 1028 SM. Meskipun demikian, sebelum dinasti Shang sebenarnya masih terdapat lagi sebuah dinasti lain, yaitu dinasti Xia. Hanya sayangnya, prasasti tertulis dari dinasti Xia rupanya telah seluruhnya dihancurkan oleh dinasti Shang karena alasan politis.

 

Peninggalan dari dinasti Shang ini semuanya memiliki karakter religius (tidak seperti peninggalan Mesopotamia yang utamanya adalah benda-benda komersial). Ini membuktikan bahwa bangsa Tionghoa pada dasarnya adalah bangsa yang religius.

 

Pada jaman itu, raja memiliki kewajiban untuk memimpin upacara ningrat keagamaan, yaitu sebuah upacara pemujaan yang melambangkan kebaktian umat manusia, bumi dan segala isinya kepada Thian. Upacara dilakukan secara berkala setiap tahunnya, di sebuah lembah di sisi sungai Huan ( di sekitar kota An Yang yang sekarang ini ). Lokasi ini dulunya dikelilingi oleh istana dan kuburan kerajaan.

 

Dimana tinggal sekelompok rohaniawan (Fangshi) melayani raja untuk berkomunikasi dengan Dewa-dewi.

 

Para rohaniawan ini selain berfungsi sebagai pendeta sebenarnya adalah juga ahli pikir, ahli perbintangan, ahli obat-obatan,dll. Ini adalah hakikat awal dari apa yang disebut Taoshi pada perkembangan selanjutnya.

 

Sebelum melakukan upacara keagamaan besar biasanya menanyakan terlebih dahulu mengenai hal ihwalnya. Pertanyaan kepada para leluhur ini diselenggarakan oleh sekelompok pendeta dan para ahli nujum kerajaan.

 

Para pendeta pada waktu itu sangat ahli dalam menggunakan api sebagai media untuk meramalkan masa depan. Salah satunya adalah dengan cara mengebor kulit tempurung kura-kura atau tulang belikat sapi, lalu kemudian dengan menggunakan sebuah besi panas yang kuning menyala ditusukkan dalam celah itu sehingga menimbulkan retakan-retakan yang kemudian ditafsirkan artinya. Tafsiran dari ramalan itu kemudian dituliskan dengan cara menoreh tempurung itu. Para ahli sejarah jaman sekarang hanya dapat mengetahui masa ramalan itu dilakukan. Mereka menggunakan sistem penanggalan siklikal 60 hari. Setiap harinya dinamakan dengan mengkombinasikan antara Batang Langit dan Tonggak Bumi. Sebuah inskripsi biasanya dimulai sebagai berikut:

Pada hari Jia Zi (hari pertama pada siklus kalender), peramalan dibuat

Oleh........dan.........untuk meramalkan........

Setiap leluhur memiliki jadwal sendiri upacara perayaannya dalam sebuah hitungan kalender mingguan yang berisi 10 hari. Di samping itu, ada kalanya upacara juga diadakan apabila raja memiliki sebuah kepentingan khusus untuk memohon berkah dari para leluhur. Upacara keagamaan ini diiringi oleh musik dan tarian.

 

Pada jaman dinasti Shang ini, pemujaan dibedakan dalam 4 jenis obyek. Pemujaan kepada Shang Di, leluhur dari kalangan kerajaan, para tokoh/orang berjasa dan pahlawan, serta Dewa-Dewi alam. Khusus untuk pemujaan kepada Shang Di, tidak diberikan kurban-kurban ataupun sajian, meskipun demikian mereka percaya bahwa kekuasaan dan kekuatannya tiada satu dewa lain yang dapat menandinginya. Shang di adalah sebutan untuk Causa Prima. Pada dinasti selanjutnya, Dinasti Zhou, “Di” ini dikenal sebagai Kuasa Tertinggi yang kemudian disebut juga sebagai ‘Tian’ yang mengacu pada pralambang ‘langit’ dan seringkali diartikan sebagai ‘surga’.

 

Berdasarkan analisa pada inskripsi yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa bangsa Tionghoa kuno telah memiliki sebuah sistem kepercayaan kepada Tuhan YME, berikut seluruh jajaran/perangkat religius yang monoistik.

 

Konsep pengertian ‘dewa-dewi’ menurut kepercayaan Tionghoa tidaklah sama dengan pengertian barat mengenai ‘dewa-dewi’ pada sistem dualistic. Pada inskripsi tersebut pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan takdir, selalu dipulangkan kepada ‘Di’. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan kepada leluhur, dewa-dewi alam, dan para orang berjasa, biasanya mengacu pada hal-ihwal upacara perayaan mereka dan hal-hal yang bukan utama.

 

Pada jaman Han sekitar 135 M, maka pemikiran-pemikiran atau paham-paham Tao diolah / diorganisir menjadi agama Tao oleh Zhang Tian Shi (Zhang Dao Ling).

 

Sampai jaman Tang (Dang) ± 618-907 M, Agama Tao bahkan dijadikan agama negara oleh raja-raja waktu itu, berkembang pesat dan paling jaya menurut catatan sejarah.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*