Intan Dalam Debu – the web

Identitas Tao Yu

Posted by adminidb November 20, 2013, under Volume 9 | No Comments





Identitas Tao Yu

Oleh : Ku Kuo Fei - Bali

 

Sebagai seorang “Tao Yu” beranikah kita menunjukkan identitas sebagai Tao Yu dalam hidup sehari-hari terutama dalam kehidupan beragama.

 

Sering kali kita hanya mengikuti tradisi beragama / sembahyang yang sudah lazim dan telah dianggap benar oleh kebanyakan orang.

 

Padahal kebiasaan / aturan yang berjalan tersebut tidaklah selalu benar.

 

Kita ambil contoh dalam melakukan sembahyang di sebuah klenteng, sering di dalam klenteng tersebut telah disediakan dupa yang telah diikat cukup untuk semua “Sen Siang” / Dewa yang ada di sana.

 

Sering kali pula jumlah untuk masing-masing “sen Siang” adalah 3 dupa, bahkan lebih, misalnya untuk dewa Fuk Tek Cen Sen = 5 dupa. Sebenarnya apa sih pengaruh jumlah dupa tersebut pada doa kita? Apakah semakin banyak / besar dupanya semakin mudah terkabul doa kita ?

 

Tentu tidak, terkabul/tidaknya doa sangat ditentukan oleh ketulusan hati kita, disamping nilai “Kung Tek” yang  telah kita lakukan juga ikut berperan. Dan tentunya terkabul/tidaknya doa kita juga tidak terlepas dari pertimbangan yang dilakukan “Sen”.

 

Jadi kita sebagai Tao Yu yang tahu akan pengertian ini, alangkah baiknya kalau kita berani untuk sedikit demi sedikit melakukan yang benar. Pakailah satu dupa dengan sikap sujud di atas kepala pada saat kita sembahyang di depan altar para dewa kita.

 

Hal lain yang perlu juga kita ketahui bersama di mana hampir di setiap klenteng selalu ada patung macan untuk disembahyangi. Benarkah kalau kita lakukan juga?

 

Untuk menjawab ini kiranya perlu diketahui latar belakang dari tradisi tersebut.

 

Pada masa lalu, manusia sebagai makhluk yang lemah secara fisik sangat takut terhadap petir (api), angin puyuh, tanah longsor, dll. Yang semuanya mempunyai potensi untuk membunuh manusia, termasuk pula binatang-binatang buas contohnya harimau/macan.

 

Ada sebuah cerita, konon pada suatu saat di jaman dulu kala, ada sebuah kejadian seseorang bertemu dengan seekor macan, dia takut dikejar sang macan, maka dengan gemetar orang tersebut duduk bersimpuh menunduk sambil menyembahi sang macan. Tetapi karena kebetulan sang macan pada saat itu tidak lapar, sang macan tersebut menyingkir.

 

Sejak saat itu, timbullah pikiran untuk membuat patung macan guna di sembah agar terhindar dari bahaya.

 

Tetapi dengan perkembangan jaman dan peradaban manusia, kita bahkan lebih unggul jauh dari hewan buas tsb. Bahkan jika tidak kita lindungi binatang-binatang buas tsb akan punah. Masihkah patut kebiasaan yang salah ini tidak kita sadari/perbaiki?

 

Semua yang kita lakukan dengan benar tidak lepas dari peran kita sebagai Tao Yu untuk bisa selalu Wu Ci Wu Ren (Mengerti diri, juga ngertikan yang lain). Semoga kita memperoleh kemajuan dalam Siu Tao kita.

 

Salam Tao

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*