Intan Dalam Debu – the web

Impian Masa Muda

Posted by adminidb November 28, 2013, under Volume 9 | No Comments





Impian Masa Muda

Intan Dalam Debu

 

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Ini mungkin kalimat klise yang sering kita dengar. Apa sebenarnya yang perlu dipersiapkan semasa kita muda ???

Jangankan sebagai penerus bangsa (dalam arti luas), sebagai penerus generasi sebelumnya saja, kita sering kali merasa bingung apa-apa saja yang harus dilakukan. Pada saat dihadapkan pada pertanyaan : “Apa visi anda saat anda masih muda seperti sekarang ini ?”, kebanyakan masih terasa kabur dalam menatap masa depan. Lingkungan kehidupan yang dihadapinya terasa kejam. Kegagalan demi kegagalan saling berkejaran, kesuksesan apa yang mesti digapai? Disinilah perlunya sejak dini dibiasakan dengan ‘Mandiri’, mempersiapkan diri dalam kebiasaan ‘disiplin’, kebiasaan ‘direncanakan’, kebiasaan mengerjakan sesuatu ‘ada awal dan ada akhir’ sebagai wujud dari tanggung jawab, mau bertoleransi, tidak cepat putus asa bila mengalami kegagalan.

Tentunya pembinaan orang tua saat balita, anak-anak dan masa remaja sangatlah dominan, yang biasa disebut CIA CIAU (aturan/ajaran keluarga). Teladan orang tua adalah panutan utama anak-anaknya.

Masa muda

Di sini penulis membatasi diri dengan mengartikan masa muda adalah masa-masa setelah lepas SMA dan sebelum masuk jenjang pernikahan berkeluarga. Biasanya setelah lepas SMA kita mulai merasakan kemandirian dalam memutuskan langkah-langkah penting selanjutnya untuk menyongsong masa depan. Adakah kita di sini mulai bisa ‘bermimpi’ berangan-angan berkhayal tentang masa depan yang di idam-idamkan?

Pada tahapan ini, kalau kita bermimpi pun belum bisa, jangan berharap masa depan akan cerah, begitu pula sebaliknya kalau kita bermimpi terus tetapi tidak mau berusaha melakukan sesuatu pun akan berakhir dengan suatu kegagalan. Tentunya mimpi ini perlu ditindak lanjuti dengan langkah-langkah yang penuh perencanaan dalam kenyataan yang ada. Kalau kita dapat duduk di bangku kuliah, maka janganlah disia-siakan . Putus kuliah di tengah jalan / drop out adalah sangat-sangat disayangkan. Kalau kuliah hanya kutu buku, tidak mencoba mengembangkan diri seoptimal mungkin dalam segala bidang juga sangat disayangkan. Ini pertanda kitapun menyia-nyiakan masa yang paling berharga, dan sesal kemudian tak berguna.

Masa kuliah yang penuh idealistis

Masa kuliah / bermahasiswa adalah jenjang penempatan intelektual dan bakat diri, sebagai tonggak akhir sebelum terjun ke dunia nyata. Salah satu contoh mengembangkan diri seoptimal mungkin pada masa kuliah agar nantinya kita punya bekal dalam hidup adalah dengan memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Kuliah harus sukses
    Memang kita sebagai mahasiswa, tugas utama adalah belajar, memperdalam ilmu jurusan keahlian yang kita pilih inginkan agar ilmu kita betul-betul utuh solid. Untuk itu kita bisa melakukan penerapan awal dari ilmu-ilmu yang kita pelajari dengan menjadi asisten dosen misalnya. Karena dengan dapat mengajarkan kembali apa-apa yang telah kita dapatkan, kita mulai meresapi menjiwai keahlian  kita ( kepercayaan diri tentang ilmu kita mulai tumbuh ).
  2. Organisasi Kemahasiswaan
    Organisasi-organisasi yang ada di kampus dapat kita pakai sebagai sarana uji coba sifat kepemimpinan kita, juga uji coba kita berinteraksi dengan sesama. Di sini kita dapat belajar bagaimana menyusun, mengolah, memimpin dan menjalankan visi/misi/strategi kita.
  3. Organisasi sosial (diluar kemahasiswaan)
    Ini juga perlu sebagai studi banding antara teoritis organisasi kampus dengan praktek lapangan, juga sebagai pengabdian ilmu/kerja sosial kita pada masyarakat.
  4. Mencari uang saku sendiri.
    Dalam hal uang saku, merupakan sebuah kebanggaan diri juga merupakan sebuah uji coba menjalani kehidupan nyata bila kita bisa memulainya saat kita bermahasiswa, tetapi tentu saja tugas utama belajar tidak boleh terbengkalai.

Di sini kita mencoba menerapkan apa-apa yang sudah kita dapat di bangku kuliah ke dunia nyata untuk mendapatkan nilai tambah yang nyata. Teori tanpa praktek adalah melamun saja. Praktek tanpa teori adalah ngawur belaka.

  1. Pacaran

Masa-masa bermahasiswa adalah masa yang paling indah, karena kanan-kiri kita adalah teman-teman sebaya, dengan tingkat intelektual yang sebanding. Pacaran / mencari teman hidup seharusnya dimulai dari sini. Penjajakan / perkenalan dengan lawan jenis dan pembinaan awal kalau dilakukan semasa kuliah akan meng-efisiensi-kan hidup kita pula. Perlu diingat bahwa Pacaran harus membawa semangat yang positif untuk kedua belah pihak. Jangan sampai justru gara-gara pacaran, kuliah jadi mogok dan degradasi diri lainnya.

Masa berakhirnya kuliah

Dengan tugas akhir kuliah selesai, maka selesai sudah ‘Ke-mahasiswaan’ kita. Selain kita mendapatkan gelar sarjana, kita sudah berbekal ketrampilan lain dan menggandeng calon teman hidup yang ideal pula.

Terjun ke dunia nyata

Sejak lepas landas dari bangku kuliah, kita masuk gerbang perjuangan hidup nyata dalam masyarakat yang terkadang terasa tanpa kompromi, kejam terhadap kita. Inilah kenyataan hidup. Modal / bekal hidup telah disandang, apa lagi?? Jalan dong !!!!!

Ada yang jadi karyawan orang,

Ada yang kerja sendiri dan

Ada yang masih pengangguran.

Sukses.....Sukses......Sukses, itulah harapan kita semua.

Ada yang mengatakan bahwa untuk sukses harus bisa bermimpi tentang sukses itu sendiri. Kalau mimpi saja belum bisa, bagaimana bisa sukses beneran?????

Bermimpi, menyusun visi, misi, dan strategi kemudian mengimplementasikan strategi ini dalam tahapan-tahapan tindakan nyata dengan memperhatikan situasi dan kondisi saat itu. Mengapa dalam kita bertindak kita perlu perancanaan yang jelas, sederhana dan dapat dijalankan ???

Aku tahu apa yang aku mau

Aku tahu apa yang aku perbuat

Kalau tidak, aku akan bertindak bodoh, ceroboh

Dan akhirnya frustasi / stress diri yang didapat.

Yang sudah direncanakan dengan matang saja masih ada kemungkinan gagal, apalagi yang tidak direncanakan, pasti tidak akan berhasil.

Dengan menelaah tulisan di atas kita dapat mengambil makna bahwa tetap Wu-lah yang paling diutamakan untuk menjalani hidup ini. Sedang nasib, takdir, penulis coba keluarkan dari pembahasan diatas, bukan berarti bahwa nasib dan takdir itu tidak ada.

Tak lupa sembahyang dan beramal sebagai pendamping menuju sukses yang dimaksud.

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*