Intan Dalam Debu – the web

KOLOT VS FLEKSIBEL

Posted by adminidb December 7, 2013, under Volume 9 | No Comments

KOLOT VS FLEKSIBEL

Oleh : Ku Kuo Fei - Bali

 

Kolot dan Fleksibel merupakan dua sifat manusia yang bertolak belakang. Disini ada baiknya marilah kita telaah sifat-sifat apa saja yang menyertai kedua kelompok (sifat utama yang berbeda tersebut).

 

   Kolot Fleksibel
* Keras kepala Bijaksana
* Kaku Mau menyesuaikan diri
* Tertutup / menutup diri Membuka diri terhadap hal baru
* Puas diri Selalu ingin maju
* Egois / egoisentri Care / perduli
* Orientasi masa lalu Orientasi masa depan
* Takut perubahan / takut berubah senang perubahan untuk maju
* Arogan Rendah hati
* Cenderung diktator Pemimpin / pembimbing
* Cenderung negatif Cenderung positif
* Emosional Rasional

 

Menurut penggolongan diatas, ada banyak sifat lain yang akan menyertai masing-masing kelompok.

Sebagai seorang Tao Yu sifat manakah yang seharusnya kita miliki? Prinsip dari sifat utama “TAO” adalah selalu berubah / tidak diam, karena diam berarti mati.

Jika dunia ini dipenuhi oleh orang-orang kolot, mungkin sekarang kita masih ada dijaman primitif tanpa pernah ada peradaban modern seperti sekarang. Juga ada sisi lain dari sifat tersebut yang mempunyai implikasi terhadap iman seperti menimbulkan dosa pada diri manusia.

Di sini kita ambil contoh : Perjodohan

Masih banyak orang tua yang bersifat “kolot” untuk memaksakan kehendak / jodoh pada putra / putrinya dengan berbagai alasan yang intinya kalau ditimbang kok cenderung menuruti kepuasan ‘ego’ orang tua daripada mempertimbangkan kebahagiaan si anak.

Memang tidak selalu buruk maksud orang tua, orang tua selalu ingin anaknya hidup senang., berkecukupan, bahkan bahagia. Tetapi benarkah orang tua berhak atas seluruh kehidupan anak tersebut? Bukankah yang akan menjalalni hidup selanjutnya adalah anak itu sendiri, pelajaran apa yang kita berikan kalau kita cenderung kolot? Atau anak jadi nekat dengan jalan / caranya sendiri?

Kita seorang diktator ataukah orang tua yang bijakasana? Maukah kita dibenci anak sendiri seumur hidup? Kapan kita bisa dewasa, mandiri, belajar mengambil keputusan yang menyangkut hidup kita bila orang tua selalu memberikan vonis pada hidup kita?

Bukankah kita belajar dari sejarah bahwa pemimpin yang diktator akan selalu dibenci, sebaliknya pemimpin sejati yang bijaksana akan selalu hidup dan dicintai rakyatnya.

Satu lagi yang perlu diingat bahwa nasib ada di tangan diri kita masing-masing. Tidak ada yang berhak menentukan nasib ini, selain diri kita sendiri. Semua pandangan adalah sebagai bahan masukan dan yang berhak memutuskan hanyalah diri kita.

Semoga tulisan ini bisa membuka hati dan pikiran kita dan dapat dijadikan bahan renungan / diskusi untuk kemajuan Siu Tao kita.

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*