Intan Dalam Debu – the web

LIONG SAMSI

Posted by adminidb December 7, 2013, under Volume 9 | No Comments

LIONG SAMSI

Oleh : Sinta-Semarang

 

Semenjak Zaman Batu Baru atau sekitar 5000-1500 SM, bangsa Tiongkok tinggal di tepi Sungai Huang Hoo yang tanahnya subur dan mengenal 4 musim. “Mereka banyak yang mengerjakan sawah dan ladang pertanian, serta berternak sehingga kehidupannya cukup makmur.”

 

Namun banjir terjadi karena sungai itu meluap. Hal itu mengakibatkan kerusakan tatanan kehidupan, kerugian harta benda, dan korban nyawa manusia serta binatang. Merka menganggap penghuni Sungai Kuning (Huang Hoo) mengamuk, menyemburkan air dan menimbulkan gelombang air yang sangat dahsyat.

 

“Padahal tak seorangpun pernah melihat munculnya Naga Sungai Kuning itu, tetapi keyakinan mereka sangat kuat sehingga menyebut diri mereka “Liong The Jwan Ren”.

 

Oleh karena itu cerita yang populer dari Tiongkok selalu dikaitkan dengan Liong, tujuannya mengendalikan banjir Sungai Kuning.

 

Pada jaman pemerintahan Kaisar Yauw, rakyat Tiongkok lebih maju teknologinya, mereka mencoba membuat bendungan di Sungai Kuning. Dan memerintah Kwon sebagai arsitek dalam membuat bendungan, mereka bekerja kurang lebih 9 tahun, tapi begitu terjadi banjir di Sungai Kuning, ternyat bendungan karya Kwon itu hancur.

 

Tak kuat menahan desakan air. Kaisar marah dan menghukum mati Kwon. Kerugian yang besar membuat kaisar mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Swon.

 

Kaisar Swon menugaskan putra Kwon yang bernama lo untuk menjadi “penakluk naga”. Dari pengalaman tragis ayahnya (Kwon), arsitek lo membuat perencanaan dam dan dilengkapi pembuka Sungai artori, sudetan atau selokan untuk mengalirkan air sampai ke laut.

 

Dengan kerja bakti massal selama 13 tahun, akhirnya rencana itu terwujud, dan sewaktu terjadi luapan besar Sungai Huang Hoo, air lancar sampai ke laut. Sistem pengairan yang dibuat untuk penyaluran air bahkan dapat meningkatkan hasil pertanian, membuat rakyat Tiongkok makmur.

 

Kaisar Swon sangat menghargai jasa lo, bahkan mengangkat lo sebagai penggantinya.

 

Dari kisah ini muncul pepatah SAKWON YONG IO COO IOH (membunuh ayahnya dan mengangkat anaknya menjadi Kaisar).

 

Berdasrkan cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa Liong adalah simbol Sungai Kuning. Sehingga muncul pepatah AIR DAPAT MENJADI TEMAN SEKALIGUS LAWAN.

 

Namun karena ditangan lo Sungai Kuning menyuburkan Daratan Tiongkok, oleh karena itu dalam tarian rakyat Liong dianggap sebagai dewa Kemakmuran.

 

Pada zaman Jwen Jiu, Kaisar Jin Hu Kong mempunyai puteri cantik yang bernama Long lo yang pandai meniup seruling tanpa ada yang mengajarinya. Long lo dibangunkan sebuah rumah tingkat beserta sebuah panggung yang indah. Kaisar ingin menjodohkan puterinya tetapi semua calon ditolaknya. Pada suatu malam puteri bermimpi bertemu dengan seorang pria tampan dari Gunung Dai pada hari Cong Jia (tanggal 15 bulan 8 Imlek).

 

Keesokan harinya, ia bercerita kepada Kaisar lalu Kaisar memerintah Perdana Menteri Pai Li Shi berangkat dan mencari pemuda tersebut.

 

Menurut penduduk, setiap tengah malam ada seorang peniup seruling aneh. Setelah ditemui Perdana Menteri, ternyata ada pria bernama Siauw She memakai Ho Jang dan topi Lo Kwan yang terbuat dari bulu burung Hong. Semula Siauw She tidak bersedia diajak ke istana. Setelah Perdana Menteri menceritakan mimpi Sang Puteri, barulah ia bersedia diajak ke istana.

 

Kaisar mengagumi ketampanan Siauw She dan menyuruh memainkan sebuah lagu, dengan seruling Gioknya. Dari dalam kamar Long lo sudah jatuh cinta kepada peniup seruling dan merasa terbuai lewat bunyi seruling yang mirip suara Burung Hong itu. Setelah mempertemukan sepasang remaja yang saling jatuh cinta pada hari Cong Jiu, kaisar menikahkannya.

 

Setengah tahun kemudian ketika Siauw She dan Long lo bersama-sama menyuling di panggung Fong Dai, datanglah seekor Burung Hong berwarna violet dan seekor Naga Coklat. Sepasang remaja itu mohon pamit kepada Kaisar untuk kembali ke surga. Long lo menaiki Burung Hong dan Siauw She meenaiki Naga. Dari legenda ini sering muncul ucapan Jon Long Gway Shi (menantu naik Liong).

 

Dalam dongeng, Naga selalu dianggap keramat bagi etnik Tiongkok, ada cerita tentang Hai Liong Ong (Raja Naga).

 

Di Fu Cien hingga kini jika hendak naik perahu ke laut yang ombaknya besar dan anginnya kencang, orang selalu berdoa minta perlindungan Makco Thian Sang Seng BO dan Hai Liong Ong agar selamat. Liong dalam kehidupan etnik Tionghoa berkaitan dengan Hong Sui (Hong Sui kuburan, rumah, kantor, toko). Tanah yang paling baik tetapi susah dicari adalah yang mengandung hawa naga Liong Shyie.

 

Seorang suhu Hong Sui harus melihat kiri kanan dimana ada CO Jing Liong Yu Pai Hu (Naga Hijau dan Macan Puttih), agar banyak rejeki Naga dijadikan binatang keramat di Tingkok. Biasanya patung Naga dipasang diatas kelenteng dan di dalam kelenteng dipasang gambar Naga.

 

Selain untuk Hong Sui, sebutan Liong dalam tradisi Tiongkok diyakini punya kesaktian dan kewibawaan. Misalnya: Liong Buu (pakaian Naga), Liong Yen (wajah Naga), Liong Sing Hu Pu (gerak-gerik Naga), Liong Di (orang tua berpangkat dan sehat), Liong Fee Jee Cong Wu (orang super).

 

Alkisah di Tiongkok Selatan, ketika hujan deras tak berhenti, seorang ketua perkumpulan mengarak Liong Samsi dari kampung ke kampung sampai ke tepi sungai. Supaya hujan berhenti, mereka membakar Liong samsi. Ternyata sang Ketua mati seketika dan desa dilanda wabah. Warga desa mngungsi takut trhadap kutukan sang Naga.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*