Intan Dalam Debu – the web

Nilai Sebuah Bakti

Posted by adminidb November 23, 2013, under Volume 9 | No Comments





Nilai Sebuah Bakti

Intan Dalam Debu

 

Berbicara tentang bakti, secara langsung akan menempatkan pada suatu interaksi 2 pihak yang antara lain anak dengan orang tua. Masing-masing pihak tentunya mempunyai hak dan kewajiban.

 

Sebagai orang tua tentu mempunyai kewajiban untuk membesarkan, mendidik dan membiayai seluruh kebutuhan anak sampai tumbuh dewasa dalam arti bagaimana supaya bisa mandiri, berguna di masyarakat, dsb yang pada intinya menjadi manusia seutuhnya jiwa dan raga. Selebihnya jarang sekali orang tua yang menuntut hak yang berlebihan pada seorang anak (tanpa pamrih).

 

Pada sisi seorang anak memang berhak untuk mendapatkan semua itu dengan penuh kasih sayang. Disamping itu sebagai anak memiliki kewajiban untuk berbakti, memenuhi harapan orang tua, menjaga nama baik keluarga, dsb. Yang jadi pertanyaan penting adalah sejauh mana nilai bakti seorang anak pada orang tuanya dan sebaliknya sebesar apa kasih sayang yang diberikan orang tua terhadap anaknya, karena interaksi tersebut bisa mempunyai nilai (point) + atau -.

 

  • Sisi anak
    Di sini kita ambil contoh pembahasan percintaan yang akan selalu hangat sepanjang masa. Pada saat beranjak dewasa, seorang anak dihadapkan pada masalah cinta. Di sisi lain orang tua memiliki kriteria sendiri dalam arti pilihan yang dianggap paling cocok (100% OK).Saat tersebut kita sebagai anak dihadapkan pada pilihan antara ‘Bakti dan kejujuran pada diri sendiri’ untuk bisa memberikan nilai, mari kita coba mengurai dilema si anak.

    Bakti pada orang tua memang harus berapa nilai bakti kita jika menuruti kehendak orang tua ? 100, 80, 50 ataukah nol besar? Semuanya itu tergantung pada nilai “ketulusan hati” kita. Kalau dari permulaan sudah didasari oleh rasa terpaksa, mengorbankan diri, membohongi diri sendiri, bahkan ada rasa benci orang tua yang akan berlanjut sepanjang hidup. Semua nilai bakti tersebut percuma alias nol besar.

 

  • Sisi orang tua
    Sebagai seorang orang tua, tentu merasakan kebahagiaan bila kita berhasil membesarkan, mendidik anak menjadi anak yang berbakti dan berguna di masyarakat. Apakah bakti itu tulus? Nanti dulu.

 

Point +/- nya ialah point (+) menjodohkan anak dengan pilihan orang tua adalah bila anak yang kita jodohkan sama-sama mau (saling cinta). Tetapi point (-) akan didapat orang tua bila jodoh yang dipilih tidak sesuai dengan hati nurani dan dengan berat hati anak harus menerima pilihan itu dengan berbagai alasan orang tua.

 

Sampai hatikah kita membunuh perasaan (hati nurani) dan membelenggu, menekan mental (jiwa) anak. Seharusnya kita akan lebih baik mendorong perkembangan jiwa anak. Apakah kita mau anak kita seperti robot yang bisa diprogram sesuai keinginan orang tua? Milik siapa hidup seorang anak? Orang tua? Tentu tidak, hidup adalah milik kita sendiri, jiwa setiap individu. Apa wewenang kita memiliki hidup dan jiwa seseorang? Puaskah dengan semua ini?

 

Point +/- adalah karma yang akan kita terima dari kasus ini. Ekstrimnya emangnya peliharaan yang bisa dikawinkan. Bukankah sebagai seorang individu dewasa kita harus belajar mengenal diri sendiri untuk bisa bermasyarakat. Apa artinya hidup tanpa kebebasan memilih, sesal kemudian tiada guna.

 

Selamat merenung.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*