Intan Dalam Debu – the web

Upacara Pernikahan

Posted by adminidb November 20, 2013, under Volume 9 | No Comments





Upacara Pernikahan

>Oleh : Nina – Jakarta

 

Dalam kehidupan seseorang suatu pernikahan merupakan saat-saat yang penting dan tak terlupakan. Sepasang calon pengantin kan dengan penuh semangat menyiapkan segala sesuatunya untuk hari bahagia tersebut. Tentu saja hal ini memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, tetapi walau lelah pada wajah mereka tersirat harapan akan kebahagiaan.

 

Harapan-harapan inilah yang membuat mereka berdua mempunyai keinginan agar kebahagiaan mereka tersebut dapat disaksikan dan disahkan serta direstui oleh Thian dan para Dewa, rasanya lebih afdol begitu.

 

Maka kemudian timbullah berbagai upacara sembahyang di hari pernikahan baik yang sederhana sembahyang di rumah menghadap langit sebelah Timur dengan sebuah Hio di atas kepala sampai pernikahan yang diadakan di klenteng-klenteng ataupun di wihara tentu saja dengan berbagai versi pernak-perniknya.

 

Dalam Tao aliran Thay Sang Men inipun ada ritual tersebut, bahkan di Tao Kwan Jakarta dan Lampung sudah menikahkan puluhan pasang pengantin.

 

Tata caranya tidaklah terlalu rumit. Di atas altar Maha Dewa kita, biasanya diletakkan 5 macam buah sebagai lambang U FUK (lima kebahagiaan). Di kanan-kiri hiolo terdapat 9 pasang lilin merah yang diatur dari yang pendek ke yang tinggi. Sebagai pemanis, biasanya diletakkan pula sepasang rangkaian bunga, ada pula yang memasang kain merah untuk memeriahkan ruangan.

 

Begitu tiba pengantin dijemput oleh sepasang Huang Ie yang bertugas sebagai penjemput pengantin, merekapun dibawa ke ruang upacara dengan diiringi lagu Kwe Ming Li.

 

Upacarapun segera dimulai, pemimpin upacara yang berjumlah tiga orang memimpin para Fu Fak untuk sembahyang. Setelah para Fu fak berdiri di kiri-kanan tempat upacara barulah pengantin dan orang tua mereka diantar ke depan altar untuk sembahyang, diiringi lagu Kung Huo. Pengantin beserta orang tua mulai sembahyang dengan menggunakan 1 Hio besar dipimpin oleh salah seorang pemimpin upacara.

 

Seusai sembahyang, orang tua pengantin dipersilahkan duduk di tempat yang sudah dipersiapkan

 

Orang tua mempelai pria di sebelah kanan dan orang tua mempelai wanita di sebelah kiri. Acara CING CIU (mempersembahkan arak) dimulai, dengan diiringi lagu Syiek Suang Jing atau terima kasih, kedua mempelai KUI (bersujud) mempersembahkan arak sebagai lambang hormat serta terima kasih mereka kepada orang tua yang telah membesarkan, mendidik serta memberikan kasih sayang sehingga dewasa dan dapat mulai menempuh sebuah kehidupan sendiri yang mandiri.

 

Acara dilanjutkan dengan suatu tanya jawab antara pemimpin upacara dan pengantin. Para pemimpin upacara berhak menilai apakah kedua mempelai memang cukup layak secara mental untuk membangun sebuah rumah tangga sendiri.

 

Selanjutnya adalah acara Tukar Cincin dengan diiringi lagu Se Yen (Kuucap Janji) mempelai berdua saling mengikatkan diri. Para pemimpin upacara pun memberikan beberapa wejangan yang berguna dalam hidup perkawinan mereka kelak. Puncaknya perkawinan pun disahkan dengan memberikan simbol/kalungan hati kepada masing-masing pengantin yang kemudian disatukan dengan sebuah kalungan besar berbentuk hati juga sebagai tanda bersatunya dua hati. Hadirin serentak memberikan applause sambil menyanyikan lagu Cu Fuk yang berarti selamat berbahagia.

 

Upacarapun diakhiri dengan ucapan selamat dari para pemimpin upacara beserta para Fu Fak yang diikuti oleh keluarga dan hadirin.

 

Sebelum meninggalkan Tao Kwan, kedua mempelai sembahyang mengucapkan terima kasih, lagu Gembira Ria dan Tao Ciao Ti Ce/Umat Tao pun mengantar kepergian mereka.

 

Demikianlah Dua Buah Hati Telah Menjadi Satu, bahu membahu menempuh sebuah kehidupan yang baru.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*